
Waktu berlalu setelah dari toko buku mereka tidak langsung kembali ke hotel. Mereka mampir ke restoran yang ada di tengah perjalanan menuju hotel untuk makan siang.
"Harusnya tadi gak usah turun." cetus Dyxie.
"Kenapa?"
"Katanya mau traktir teman-teman kita?"
Raksha meletakkan alat makannya. Dia menatap lekat wajah Dyxie. Sedetikpun tidak mengalihkan pandangannya dari wajah cewek itu.
"Kenapa jadi lihatin gue kayak gitu?"
"Gapapa pengen aja, kita masih bisa traktir mereka besok lusa dan hari lainnya." jawab Raksha menjawab dia pertanyaan Dyxie.
Cowok itu ingin menatap Dyxie sepuas-puasnya. Entah mengapa rasanya jika bahagia seperti ini akan ada masalah yang menghampirinya. Karena itu dia terlalu takut untuk bahagia. Maka dari itu sebelum masalah datang, dia ingin menatap wajah kekasihnya itu sepuasnya.
"Eh, Raksha."
Raksha langsung terkejut mendengar Dyxie menyebut namanya, sangat jarang cewek itu mau memanggilnya dengan nama. Biasanya dia di panggil pak ketos, raksasa, titisan sasaeng dan lain sebagainya.
"Tumben manggil gue nama?"
Dyxie nyengir. "Gapapa pengen aja."
"Habis ini mau kemana?" tanya Raksha.
"Pulang aja lah, capek gue keliling-keliling melulu."
Setelah menyelesaikan makan siangnya mereka mencari berjalan bersama ke halte bus. Tapi sebelum bus datang, orang yang sangat tidak ingin dilihat Raksha datang bersama asisten pribadinya. Dengan segera Raksha menyembunyikan Dyxie di balik tubuh tegapnya.
"Pulang!" kata orang itu.
"Gak, saya gak mau pulang." ucap Raksha dengan sorot mata tajam.
"Oh, jadi karena ini nilaimu merosot?" tanya pria paruh baya tersebut melihat Dyxie yang ada di belakang Raksha.
"Jangan sangkut pautkan dia dengan nilai saya! Dia gak ada hubungannya dengan nilai saya!" kata Raksha tegas.
"Wahh, sekarang sudah berani meninggikan suara ke saya hah?! Gadis itu yang merusak sopan santunmu?!"
Merasa dirinya disebut, Dyxie menggeser tubuh Raksha dari depannya. Dia sudah menebak siapa yang ada di depan mereka itu. Dilihat dari perawakannya pria tersebut sangat mirip dengan Raksha. Sudah pasti itu papanya Raksha.
"Kau yang membuat nilai anak saya merosot hah?!!"
"Saya tidak tahu soal itu, tanyakan kepada anak anda. Yang saya ingin perjelas, saya tidak pernah merusak sopan santun anak anda!" jawab Dyxie dengan tegas, matanya membidik tajam ke arah papanya Raksha tanpa rasa takut sedikitpun.
"Heh, gadis seperti ini pilihanmu? Gak punya sopan santun. Lebih baik kau dengan Aveline."
"Anda ingin saya menikahi pembunuh?" tanya Raksha.
__ADS_1
"Dia bukan pembunuh! Angel mati karena bunuh diri!"
"Mark Davison Bagaskara. Mata anda sudah buta? Dia jelas pembunuh! Sekalipun tidak dengan tangannya sendiri." ucap Dyxie. Tatapannya begitu mengintimidasi. "Anda seharusnya sudah tahu isi buku diary Angel, dia di bully dengan kata-kata yang menyakitkan. Padahal Aveline yang anda puji itu tahu Angel punya penyakit kronis. Atau anda sedang berpura-pura bodoh?"
Mark sedikit kaget ketika tahu Dyxie mengetahui nama lengkapnya. Tapi dia berusaha menyembunyikannya.
"Anda mengatakan saya tidak punya sopan santun? Bagaimana anda sendiri? Marah-marah di tepi jalan raya dan mengundang perhatian banyak orang sopan kah itu?"
"Kurang ajar! Orang tuamu tidak pernah mengajarkanmu sopan santun?!"
Mendengar orang tuanya disebut aura Dyxie langsung menggelap. Dia memang bisa disebut gadis yang nakal, tapi itu tidak ada hubungannya dengan orang tuanya. Sekalipun dia nakal, dia selalu hormat kepada siapapun tergantung sikap orang tersebut kepadanya. Orang tuanya yang mengajarkan itu. Keluarga Lleonara dijunjung atas norma kesopanannya yang begitu tinggi. Maka dari itu Dyxie tidak suka ada yang menghina keluarganya.
"Jangan pernah anda menyebut orang tua saya dengan mulut kotor anda!"
"Dyxie..." Raksha memanggil Dyxie pelan. Bukan karena dia tidak suka papanya diperlakukan seperti itu. Cowok itu hanya takut papanya akan melukai Dyxie.
"Lihat! Ini pasangan yang kamu pilih?! Dia menghina saya papamu dan kamu diam saja?"
"Saya tidak peduli dengan pandangan papa, saya yakin dengan pilihan saya." jawab Raksha mantap, tangannya menggenggam tangan Dyxie.
"Puas? Puas kau meracuni pikiran anak saya?"
"Puas! Sangat puas! Racun dari saya menjadi penawar atas racun yang telah anda berikan kepada sejak lama!" jawab Dyxie, kemudian menarik Raksha pergi dari sana.
"Maju satu langkah lagi, mamamu akan saya siksa!"
Seketika Raksha menghentikan langkahnya. Ini yang selalu dilakukan papanya ketika dia mulai melawan. Papanya akan mengancam dengan menyiksa mamanya. Dan ucapan pria paruh baya itu tidak main-main, dahulu pernah saat Raksha mencoba melawan papanya langsung mencambuk mamanya. Sejak saat itu dia tidak berani melawan.
Pria paruh baya tersebut tersenyum miring. Dia tahu anaknya akan lemah jika sudah berurusan dengan mamanya. "Pulang!" perintah pria itu dengan tegas.
Raksha menatap manik mata Dyxie. Tangannya semakin erat menggenggam tangan Dyxie, dia tidak ingin pulang bersama papanya. Tapi mamanya adalah taruhannya. Setelah menatap wajah Dyxie, perlahan genggaman tangan itu mengendur. Dan akhirnya terlepas. Cowok itu berjalan ke arah papanya.
"Masuk ke mobil!"
"Baik." Raksha hanya menurut.
"Kau! Tunggu akibat dari kelancanganmu kepada saya!" ucap Mark setelah itu masuk mobil dan melaju meninggalkan tempat itu.
Dyxie mengepalkan tangannya, sebagai pelampiasan amarahnya dia memukul pohon yang ada di sampingnya. Bukan main-main, tangannya sampai terluka dan bagian pohon yang dia pukul pun juga remuk hingga getahnya keluar.
"Gue gak bisa tinggal diam."
Dyxie menelepon Shaka untuk meminta bantuan. Dia yakin orang yang disebut papa oleh Raksha itu bukanlah papa yang baik. Dyxie bisa tahu dengan caranya mengancam Raksha dengan menyiksa istrinya sendiri. Sudah bisa disimpulkan dia juga bisa menyiksa Raksha.
"Bantuin gue kak."
"Bantu apa baby?"
"Bawel Lo ah, buruan kesini." ucap Dyxie lalu langsung menutup teleponnya..
__ADS_1
Belum ada lima menit sejak Dyxie menutup teleponnya, Cowok yang dia telepon tadi sudah ada di belakangnya. Bersandar di pohon yang tadi ia pukul.
"Kasihan pohonnya gak salah dipukul." ucap Shaka yang membuat Dyxie langsung berbalik.
"Cepat banget?"
"Gue ajak ke rumah sakit mau gak Hon?" tanya Shaka ke pohon tersebut.
"Sinting! Bantuin gue!"
Shaka tertawa. Kemudian mendekati Dyxie dan mengecup puncak kepala cewek itu.
"Hm, gue bantuin. Btw cerdik juga Lo."
"Apaan?"
"Gak usah pura-pura bego, gue tahu Lo pasang penyadap suara di baju Raksha." cetus Shaka yang membuat Dyxie memicingkan matanya.
"Lo nguntit gue seharian?"
"Seru, kayak lagi lihat drama komedi romantis."
"Sialan."
"Ayo, cari tempat duduk. Gue sambungin GPS di alat penyadap itu ke hp gue."
Mereka pergi ke salah satu Cafe yang ada di dekat sana dan melacak kemana Mark membawa Raksha pergi. Mereka pun bisa mendengar dengan jelas percakapan Raksha dan Mark.
"Saya tidak mau tahu! Tinggalkan gadis berandal itu!"
"Gak! Saya sudah menurut dengan pulang bersama anda. Saya gak akan pernah meninggalkan pacar saya!"
Shaka tertawa mendengarnya. "Pacar gak tuh?"
"Diam Lo kak!" ketus Dyxie.
Mereka lanjut mendengarkan percakapan Raksha dan Mark.
"Baik kalau itu maumu! Al, percepat mobilnya! Cambuk saya sudah merindukan anak sialan ini!" ucap Mark.
Alis Dyxie langsung mengerut mendengar hal itu. Berbeda dengan Shaka yang tidak kaget mendengarnya. Dia sudah tahu hal itu sejak lama.
"Kak!"
"Lo tunggu di hotel. Disana anak buah Mark banyak. Gue gak mau Lo terluka."
"Tapi kak--"
"Kasih tahu Aura suruh kembali ke hotel, ada yang mau gue bicarain ke kalian." ucap Shaka kemudian bergegas pergi dari sana menyusul Raksha. Dia tidak akan membiarkan cowok malang itu terluka.
__ADS_1
...***...
...Bersambung......