
"Dad, aku berjanji akan mendapat nilai bagus dan kuliah di kampus favorit nanti. Felix tidak akan mengganggu waktu belajarku justru dia yang menyemangati aku!" ucap Pink berusaha membujuk daddy Naku.
"Saya juga tahu batasan-batasan pacaran, saya akan menjaga Pink seperti sebuah berlian yang berharga, eh bukan berlian yang tak ternilai!" tambah Felix ikut membujuk.
Blue yang mendengar itu jadi tersentuh. "Bukankah Felix tini wini biti, Ayang?"
(Tini wini biti \= Keren "bahasa Blue")
Naku masih bergeming, lelaki itu menatap Pink dan Felix bergantian. Kemudian dia menghembuskan nafasnya kasar.
"Aku memperbolehkan kalian pacaran tapi aku akan tetap mengawasi kalian!" ucap Naku memberi keputusan.
"Terima kasih, Tuan," sahut Felix kesenangan. Dia mendelik ke arah Pink yang juga sama senangnya dengan dirinya.
"Besok kau dibebas tugaskan jadi supir pribadi Pink dan Green!" sambung Naku yang membuat senyum Felix memudar seketika.
"Sa--saya dipecat?" tanya Felix tergagap.
Naku menggeleng. "Kau akan dipindah tugaskan ke perusahaan, besok Bern akan mengurusnya."
__ADS_1
Mendengar itu, Pink langsung menghambur memeluk daddy Naku. "Thanks Daddy."
"Daddy percaya padamu jadi jangan membuat daddy kecewa, okay!" balas Naku yang diangguki oleh Pink.
*****
Malam itu Blue kembali meloncatkan diri di atas ranjang kamarnya karena berhasil mengubah takdir percintaan ketiga anaknya. Hanya tersisa satu dan itu paling sulit karena Andreas adalah anak berandal.
"Apa yang harus aku lakukan?" gumam Blue kemudian.
Naku yang baru masuk ke kamar melihat Blue yang termenung. "Kenapa, Ay?"
Naku yang sangat hafal segera mendekat untuk menyerahkan dirinya pada Blue malam ini.
"Ayang, aku punya rahasia!" ucap Blue dengan membelai wajah suaminya.
"Rahasia apa?" tanya Naku mengerutkan dahinya dalam.
"Sebenarnya penyakit itu muncul lagi!" ungkap Blue yang tidak mau merahasiakan apapun dari suaminya.
__ADS_1
Mata Naku membulat, dia segera membawa Blue ke Lab supaya Veronica memindai tubuh istrinya. Biasanya saat dia mengecek tubuh Blue semua dalam keadaan normal tapi tidak untuk malam ini. Ternyata energi itu tidak hilang saat digunakan untuk menopang tubuh Blue yang lumpuh.
"Bagaimana keadaan organ dalam dan sarafnya?" tanya Naku dengan cemas.
"Sistem saraf masih berfungsi dengan baik, Bos. Tapi ada beberapa organ dalam yang mengalami kerusakan!" jelas Veronica.
Naku meraup wajah istrinya. "Apakah ini sebabnya kau sering mimisan dan muntah darah, Ay?"
"Aku pikir begitu tapi aku tidak akan menggunakannya lagi, aku sudah bisa mengontrolnya, aku ingin mati bersama Ayang!" ungkap Blue dengan setitik air mata.
"Blue, jangan tinggalkan aku, okay!" Naku memeluk istrinya dengan erat. "Jangan gunakan kemampuanmu apapun yang terjadi."
"Aku baik-baik saja, Ayang. Aku tidak akan pergi, aku akan belajar ikut arisan!" sahut Blue yang membuat Naku terkekeh. Itulah yang dia sukai dari istrinya, walaupun otaknya dipenuhi oleh kemesuman tapi Blue selalu menurut.
"Apa kau tahu arisan itu apa?" tanya Naku, setelah itu dia menjelaskan tentang arisan pada istrinya.
"Jadi arisan itu main uang ya, Ayang?" tanya Blue memastikan.
"Biarkan Ming ikut saat kau datang ke perkumpulan arisan itu, okay. Dan bawa bodyguard seperti biasa, tidak akan ada yang menyakitimu, Ay. Jadi, jangan takut!" ucap Naku berusaha meyakinkan Blue jika dunia luar itu tidak sekejam yang ada di pikirannya selama ini.
__ADS_1
Blue mengangguk lalu mencium suaminya. "Aku suka Ayang!"