Perfect Boyfriend

Perfect Boyfriend
Bab 33


__ADS_3

Karena Dyxie bangun kesiangan, dan maminya memaksa Dyxie untuk sarapan di rumah. Cewek itu hampir telat datang ke sekolah, gerbang utama saja sudah mau ditutup oleh satpam. Beruntung satpam kribo itu mengizinkan Dyxie masuk ke area sekolah.


"Ah, untung gak telat." gumam cewek itu sambil turun dari motornya.


Mata elang Dyxie menyapu daerah sekitarnya. Dilihatnya arloji yang melingkar di tangan kirinya. Sudah jam 8 lebih 10 menit tapi diluar masih banyak siswa siswi yang melakukan kegiatannya masing-masing.


"Belum bel kah?" batin cewek itu.


Cewek itu memutuskan berjalan menuju kelasnya. Di koridor lantai satu. Pandangan dirinya dibuat gagal fokus melihat seseorang yang tidak asing merundung anak kelas 10. "Kayaknya kenal?" gumam cewek itu. Dyxie memicingkan matanya untuk meneliti cewek yang sedang membully adik kelasnya tersebut. Setelah tahu Dyxie langsung membelalakkan matanya.


"Njir, itu kan si apel apel Apelin kan?" cetus Dyxie.


"Dih gila, pembully juga ternyata."


Jujur nih ya, Dyxie ingin bodo amat dengan Aveline yang membully adik kelasnya itu. Tapi Dia teringat dengan nasihat kakaknya. Berhenti membully dan bantu yang dibully. Cewek itu tidak bisa melangkahkan kakinya begitu saja melewati kejadian tersebut.


Dyxie mempercepat langkahnya menghampiri Aveline yang sedang membully adik kelasnya itu. Dicengkeramnya tangan Aveline dengan kuat sebelum tangan tersebut mendarat di pipi korban bully-nya.


"Siapa Lo? Gak usah ikut campur!"


"Murid baru gak usah belagu!" kata Dyxie tanpa melepaskan cengkraman tangannya.


Dyxie tersenyum sinis melihat Aveline yang berusaha melepaskan cengkraman tangannya tetapi tidak bisa. Bahkan wajah cewek yang tangannya ia cengkeram sudah meringis tanda kesakitan.


"Pergi Lo!" perintah Dyxie sambil melepaskan tangan Aveline.


Setelah tangannya terlepas Aveline menatap Dyxie dengan tajam kemudian matanya beralih ke nametag. Dia bertekad bahwa suatu saat dia akan membalas perbuatan Dyxie padanya hari ini. Setelah itu dia pergi dari sana.


"Ma-makasih kak.." ucap siswi tersebut terbata-bata karena takut kepada Dyxie. Yap, siswi tersebut dahulu adalah salah satu korban bully Dyxie.


"Sana, gak usah takut sama gue. Gue gak akan bully Lo lagi. Sorry yang dulu." kata Dyxie kemudian pergi meninggalkan siswi yang masih kaget dengan ucapannya.


"Dia benar-benar kak Dyxie?" gumam siswi tersebut.


Setelah membantu siswi tadi ada sedikit perasaan senang dan bangga di hatinya, padahal tadinya dia tidak ingin membantu siswi tersebut. Ya, walaupun dia harus menurunkan sedikit gengsinya untuk mengucapkan kata maaf kepada siswi tersebut.


Saat baru saja menginjakkan kakinya ke dalam kelas dirinya sudah dikejutkan dengan bapak ketos yang duduk santai di bangkunya sambil bermain handphonenya. Seisi kelas menatap Dyxie dan Raksha secara bergantian.


Cewek itu mendekati Raksha dan meletakkan tasnya di atas meja. "Ngapain Lo?" tanya Dyxie.


"Kenapa jam segini baru datang?"


"Ditanya balik nanya!"


Raksha menghela napas, lalu berdiri. "Di tunggu kepala sekolah. Latihan." kata cowok itu kemudian pergi dari kelas Dyxie.

__ADS_1


"What? Lagi? Bukannya kemarin udah?"


Tanpa menggubris tatapan semua teman di kelasnya, Dyxie berlari keluar kelas mengikuti Raksha.


"Raksasa!"


"Nama gue Raksha."


"Gak tahu lah, enakan Raksasa manggilnya." kata Dyxie.


"Apaan?"


"Tumben jam segini belum bel?" tanya Dyxie.


"Gurunya rapat, hari ini memang jam kosong di jam pelajaran ke-1 sampai jam pelajaran ke-2." jelas cowok tersebut.


"Terus? Kita mau kemana? Kantor kepala sekolah di lantai satu loh, ini jalan ke rooftop."


Cowok itu tidak menjawab Dyxie dan malah mempercepat langkahnya menuju Rooftop. Dyxie langsung berlari mengikuti cowok itu.


"Ngapain ke sini?" tanya Dyxie.


"Gak, bosan aja gue di kelas." jawab cowok itu sambil melihat ke arah kota.


"Apaan?"


Dyxie diam sebentar, lalu mengutarakan pertanyaannya "Cewek yang Lo suka itu di antara Angel dan Avelin atau bukan?" Sebenarnya dia agak ragu menanyakan ini. Takut tebakan salah dan takut tebakannya benar.


Cowok itu menggeleng, dan dengan tegas mengatakan bukan mereka berdua cewek yang mengisi hatinya hingga saat ini. "Bukan mereka berdua."


"Terus?"


"Cewek dari SMPN 3 Cempaka."


"Namanya?"


"Gak tahu, dia gak pernah pasang nametag-nya. Bet kelas pun tidak dia pasang. Anaknya rada pecicilan. Tapi cute." jelas cowok itu panjang lebar, bahkan bibirnya tersenyum tipis saat mengatakan itu.


Dyxie langsung terdiam mendengar penuturan cowok didepannya tersebut. Mengingat dirinya sejak kelas 7 SMP tidak pernah memasang bet kelas dan nametag-nya. Tapi dia tidak mau kepedean. Tentunya bukan hanya dia kan yang tidak memasang nametag dan bet kelas?


"Kenapa Lo semalam nanya SMP gue?" tanya Raksha yang teringat dengan chat Dyxie.


"Gue juga sekolah disana."


Raksha langsung menatap Dyxie. Cowok itu memperhatikan wajah Dyxie. Sekilas wajah Dyxie itu sangat mirip dengan cewek yang mengisi hatinya sampai saat ini. Sesaat kemudian dia langsung menggelengkan pelan kepalanya. "Pasti bukan dia." batin Raksha.

__ADS_1


"Ngapain Lo lihat gue kayak gitu?!" tanya Dyxie sambil melotot.


"Nggak, gapapa."


"Mau mesum ya Lo? Itu kan tujuan Lo ajak gue kesini?!"


"Heh! Ngaco! Otak Lo di sapu biar bersih dikit!" cetus Raksha sambil menyentil kening Dyxie.


"Heleh. Emang otak Lo mesum kan? Semalam aja--" perkataan cewek tersebut terhenti saat melihat Raksha memalingkan wajahnya yang bersemu merah.


"Kan kan kan! Iya kan mesum kan Lo!" tuding Dyxie lagi.


"Lagian Lo juga main angkat belum pakai baju!" celetuk Raksha kesal.


Dyxie tertawa puas melihat cowok didepannya yang wajahnya memerah. Entah mengapa menurutnya itu sangat lucu. Kesal di tertawakan Raksha menjauh dari Dyxie. Persis seperti anak kecil yang ngambek.


"Kayak bocil." gumam Dyxie. "Masa sih ketos modelan gini dibilang galak?" gumamnya lagi.


Tiba-tiba cewek itu teringat dengan Aveline yang membully adik kelas mereka tadi. Ia jadi penasaran apa saat SMP cewek bernama Aveline itu juga pembully seperti dirinya?


"Aveline dulu pembully kah?" tanya Dyxie tiba-tiba. Yang membuat Raksha langsung berbalik menghadap Dyxie.


"Maksud Lo?"


"Nggak, cuma tanya aja."


"Setahu gue, dia gak pernah membully siapapun. Angel orang pertama yang dia bully. Tapi..." cowok itu menggedikkan bahunya. "Gue gak tahu kalau dibelakang gue dia pembully." sambung Raksha sambil menundukkan pandangannya.


Terlihat sekali Raksha sangat membenci pembully. Bahkan saat Dyxie mengatakan kata pembully terlihat jelas perubahan raut wajah Raksha. Tangannya pun terkepal dengan erat.


"Lo benci pembully?"


"Hm." jawab Raksha tanpa melihat Dyxie. Karena cowok itu tahu dahulu Dyxie juga pembully. Sekalipun dia belum pernah melihat secara langsung saat Dyxie membully korbannya.


"Jadi Lo benci gue juga?"


Raksha langsung menatap mata Dyxie. Hatinya bimbang akan menjawab apa. Dia memang benci pembully. Tapi hatinya menolak membenci cewek di depannya ini.


"Gak tahu."


"Gue gak bully orang sekarang." kata Dyxie. "Dan gue gak akan pernah bully orang lagi." sambungnya kemudian.


...***...


...Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2