
"Ayo aku antar pulang!" ajak Andreas sambil menarik tangan Green agar keluar dari Kafe.
Green menurut saja dengan pacar barunya itu, memang kebetulan dia tadi ke kafe dengan naik taksi karena daddy Naku masih mencarikan supir pengganti Felix.
"Sepertinya aku harus bilang pada daddy supaya tidak mencarikan supir untukku," ucap Green saat sudah masuk ke dalam mobil Andreas.
"Apa maksudmu?" tanya Andreas sambil menyalakan mobilnya.
"Kau akan antar jemput aku sekolah, 'kan? Seperti kak Red dan Blacky, mereka menjemput pacar mereka dan mengantarnya pulang sekolah," jelas Green yang mengarahkan kamera ponselnya pada Andreas karena dia ingin mengambil foto mereka berdua. "Hari pertama jadian!"
"Aku akan pamer di grup chat, aku sudah pacar sekarang!"
Andreas yang melihat tingkah Green hanya bisa mengulum senyumnya. Ternyata Green memang unik, selama ini mereka hanya saling tahu tapi tidak saling mengenal.
Setelah mengirim foto ke grup chat, Green menelisik mobil Andreas yang tampak berantakan, banyak baju bergelantung dan juga sampah makanan di dalam sana.
"Kenapa mobilmu sangat berantakan begini?" tanya Green sambil memunguti sampah yang bisa dia jangkau dan memasukkannya dalam plastik.
"Mobil ini jadi rumah kedua ku, aku jarang pulang!" jawab Andreas dengan santainya dan matanya fokus ke depan.
"Jarang pulang, kenapa?" tanya Green, penasaran.
__ADS_1
"Karena aku tidak punya tujuan untuk pulang," jawab Andreas yang terasa ambigu bagi Green.
Green ingin memaksa Andreas memberitahunya tapi mereka baru saja jadian, jadi Green tidak akan memaksakan diri. Masih banyak waktu dan hari-hari yang akan mereka jalani.
*****
Di sisi lain, Red yang mengajak Kika berkencan sepulang sekolah membaca pesan dari grup chat dan mendapati Green yang pamer karena baru saja jadian dengan Andreas.
"Ck! Kenapa Green bisa berpacaran dengan Andreas?" gerutunya.
Saat ini dia dan Kika tengah memakan burger di salah satu restoran cepat saji.
"Andreas siapa?" tanya Kika.
"Ternyata kau kakak yang perhatian, ya. Padahal kau kelihatan cuek pada adik-adikmu," cetus Kika begitu saja.
"Cara menunjukkan kasih sayang setiap orang itu berbeda-beda, Beib," balas Red yang berhenti main ponsel. Dia memasukkan ponselnya dalam saku celananya lagi.
Kika menganggukkan kepalanya. "Ya, aku mungkin akan mencemaskan adikku jika saja aku bisa jadi kakak. Sayangnya aku hanya anak tunggal."
Mata Kika tiba-tiba menangkap sosok yang tidak asing tak jauh dari restoran cepat saji itu dari dinding kaca. Orang tuanya.
__ADS_1
Gadis itu menatap Red, dia jadi bingung sendiri. Perasaannya campur aduk sekarang, dia enak-enaknya makan sementara orang tuanya mengais sampah di sana.
"Kenapa, Beib?" tanya Red yang melihat wajah Kika tampak gelisah.
"Sepertinya aku harus cepat pulang, Red. Aku bisa pulang sendiri," sahut Kika yang langsung berdiri meninggalkan Red, begitu saja karena gadis itu ingin menemui orang tuanya.
Sekarang Red yang jadi bingung dengan sikap Kika, pemuda itu mengikuti Kika dari belakang sampai dia melihat Kika yang menghampiri kedua orang tuanya. Oh, jadi itu masalahnya.
Red mendatangi mereka dan akan mengajak kedua orang tua Kika makan burger juga.
"Red, kenapa kau kemari?" tanya Kika yang merasa malu.
"Aku ingin mengajak calon mertuaku untuk makan burger," jawab Red. Atensi Red tertuju pada Simi dan Herman sekarang. "Ayo bapak ibu, kita makan burger!"
Simi dan Herman saling pandang berdua, mereka merasa penampilan mereka tidak layak untuk masuk ke restoran cepat saji itu. Lalu Herman menunjuk salah satu warteg yang ada di ujung jalan.
"Bapak mau itu saja," ucapnya.
Red menganggukkan kepala, pemuda itu segera merogoh ponselnya di dalam kantong celananya untuk menghubungi Bern.
"Bern, calon mertuaku ingin sebuah warteg. Beli warteg itu sekarang juga, aku akan mengirim lokasinya,"
__ADS_1
Sebelum menutup panggilan, Red ingin bertanya kalau-kalau Herman ingin sesuatu lagi. "Mau apa lagi selain warteg itu, Pak? Toko, ruko atau swalayan mungkin? saya bisa beli itu semua!"