
Di Rooftop
Raksha duduk di sudut sambil memeluk lututnya sendiri. Tatapan matanya acak kesana kemari. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya, tangan yang gemetar. Raksha tahu tidak ada yang akan mencelakai dirinya. Tetapi dia tetap merasakan rasa takut tanpa sebab.
"Please, berhenti! Jangan gini Sha.." batin cowok itu.
Dia sungguh tidak ingin seperti ini. Tetapi luka batin yang dia dapatkan saat SMP membuatnya jadi seperti ini. Melihat Dyxie yang membully Aveline, mengingatkan dirinya dengan bagaimana keadaannya dahulu.
"Raksha.."
Mendengar namanya dipanggil, Raksha menoleh. Cowok itu langsung berdiri dan mundur menjauhi Dyxie. Dia terlihat takut dengan Dyxie.
"Pergi!" kata Raksha.
"Dia duluan yang ngelakuin itu, gue cuma balas perbuatan dia. " jelas Dyxie berharap Raksha menatap ke arahnya.
Tapi cowok itu bahkan tidak mau menatap ke arahnya. "Pergi!" akhirnya Raksha meninggikan suaranya. Jujur saja dia tidak ingin berteriak seperti itu, tapi dia tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri saat ini.
"Raksha.." Dyxie mencoba mendekat. Tetapi Raksha malah menendang kursi disampingnya hingga mengenai kaki Dyxie. Kaki cewek itu terluka, Raksha jelas melihat hal itu.
"Jangan mendekat!"
Dyxie menelan ludahnya susah payah, dia belum pernah melihat sisi Raksha yang seperti itu. Yang dia tahu Raksha adalah ketua OSIS galak dan tegas yang tidak menoleransi hukuman. Cowok perfect nyaris sempurna tanpa kekurangan.
"Pergi!" kata Raksha lagi.
Tanpa berkata lagi Dyxie pergi dengan dada yang terasa sangat sesak. Bahkan air matanya sudah jatuh, mau berapa kali pun dia mengusap air mata yang jatuh, tetap saja air matanya tidak bisa berhenti mengalir.
"Kenapa Lo jadi cengeng sih?" gumam Dyxie. Cewek itu memejamkan matanya untuk menenangkan dirinya. Setelah tenang dia memilih pergi ke kelas Raksha untuk mencari Galang dan juga Oliver.
BRAKK. Dyxie menendang pintu kelas dengan kuat. "Semua keluar! Kecuali Galang dan Oliver!" ucap Dyxie. Siswa siswi di dalam kelas itu langsung berhamburan berlari keluar kelas.
"Gue udah bilang Lo bakal sakit hati." kata Galang.
"Kenapa?"
"Raksha punya panic attack." ucap Oliver.
__ADS_1
"Panic attack?"
"Saat SMP dulu kami bertiga menjadi korban bullying. Tapi Raksha yang paling parah. Mereka yang merundung kami hanya melakukan itu saat sepi tidak ada yang tahu perbuatan mereka. Bahkan tidak ada yang tahu selain kami bertiga jika kami korban bullying." jelas Oliver panjang lebar.
"Jadi.. karena itu dia sangat benci pembully?" tanya Dyxie dengan mata yang sedikit memerah.
"Bukan hanya itu, Angela adik gue juga mati gara-gara pembullyan." kata Galang dengan tangan yang terkepal erat.
"Dia bakal benci gue selamanya?" tanya Dyxie, sekalipun dia menyangkal perasaannya. Dia tidak bisa membohongi hatinya, dia tidak ingin dibenci orang yang sudah mengisi celah kosong di dalam hatinya.
Galang dan Oliver menggeleng bersamaan.
"Cukup beri dia waktu." ujar Oliver.
"Hm, saat ini dia masih terpukul dengan kejadian tadi." imbuh Galang.
"Tenang aja, dia gak bakal benci Lo kok." kata Oliver sambil menepuk bahu Dyxie.
"Dah sana kembali ke kelas Lo." ucap Galang.
Dyxie diam sebentar memikirkan perkataan dua sahabat Raksha. Kemudian dia pergi dari kelas tersebut pergi ke kelasnya sendiri.
*
"Gue tahu dia pembully, kenapa gue masih suka sama dia?" gumam Cowok itu. Dia sudah jelas-jelas benci pembully dan tahu jika Dyxie pembully, tapi dia tidak bisa menahan hatinya untuk jatuh hati kepada cewek itu.
Raksha masih kecewa dengan kegagalannya saat Olimpiade Sains Nasional kemarin, dan hari ini kekecewaannya bertambah dengan melihat aksi membully Dyxie.
"Miris.." gumam Raksha mengingat keadaannya yang menyedihkan kemarin dan hari ini.
Waktu berlalu bahkan hingga malam hari mereka masih tidak bertegur sapa. Saat berpapasan di koridor ketika akan pulang sekolah mereka seperti orang asing. Raksha terlihat menghindari Dyxie.
"Sorry..." kata Dyxie lirih bahkan hampir tidak terdengar.
Tap. Keyla dan Aura menepuk pundak Dyxie untuk menyalurkan kekuatan kepada sahabatnya. Walaupun Dyxie tidak mengaku jika ditanya suka atau tidak kepada Raksha. Dua sahabatnya tahu jika Dyxie sedih saat ini.
"Jangan murung gitu dong, semangat!" kata Keyla menyemangati Dyxie.
__ADS_1
"Mau buat onar lagi gak?" tanya Aura berharap itu menghibur Dyxie.
Dyxie tersenyum tipis. Kemudian menatap kedua sahabatnya. "Gass, ayo kebut-kebutan dijalan." ucap Dyxie sambil tersenyum. Berharap dengan melakukan itu hatinya sedikit membaik.
Tiga bersahabat itu berlari ke tempat parkir kemudian menempelkan solasi hitam ke nomor plat mereka untuk menutupinya dengan tujuan agar tidak bisa dilacak polisi jika terekam CCTV saat kebut-kebutan dijalan raya.
*
Tiga hari berlalu, ini hari ketiga ujian akhir semester satu di SMA Achievers. Atau bisa dibilang ini hari terakhir ujian akhir semester satu. Dan besok sudah bersiap untuk liburan selama 5 hari + 1 hari hingga tahun baru. Jadi bisa dibilang mereka liburan selama seminggu.
"Sudah tiga hari..." gumam Dyxie menatap bulan yang bersinar terang langit malam dari jendela kelasnya.
Yap, saat ini Dyxie masih di sekolah untuk mengerjakan mata pelajaran ujian terakhir. Cewek itu tidak bisa fokus, karena sudah tiga hari dia belum berkomunikasi dengan Raksha. Saat bertemu Raksha selalu memalingkan wajahnya. Sebenci itukah Raksha kepadanya?
Sedangkan Raksha di kelasnya juga melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan Dyxie. Cowok itu juga menatap bulan di langit. Teringat saat-saat dia bersama Dyxie berkendara bersama. Melihat bintang, bulan, kunang-kunang.
"Udah tiga hari, masih marahan?" tanya Galang.
"Gak baik marahan lebih dari tiga hari." sahut Oliver.
"Lo benar-benar benci sama Dyxie?" tanya Galang karena melihat Raksha tidak merespon.
"Gue yakin dia punya alasan ngelakuin itu." kata Oliver.
"Hm, gue tahu itu." jawab Raksha tanpa menatap kedua sahabatnya.
"Dan Lo masih benci dia?" tanya Galang.
Raksha menggeleng tegas. "Gue gak benci dia. Gue takut ngelukain dia. Entah itu karena gue sendiri atau karena bokap gue." jawab cowok itu. Dia memang tidak membenci Dyxie, setiap melihat Dyxie dia terbayang dengan perlakuannya pada cewek itu saat di rooftop. Dia membuat Dyxie terluka karena ulahnya. Dia takut dia tidak bisa mengendalikan dirinya lagi, ketika panic attack-nya kambuh dia takut kehilangan kendali atas dirinya dan melukai Dyxie.
"Gue yakin bokap Lo gak akan bisa ngelukain Dyxie." ucap Oliver.
"Lo juga gak akan nyakitin Dyxie, lupain yang Lo lakuin saat penyakit Lo itu kambuh. Itu diluar kendali Lo." kata Galang.
Raksha hanya diam mendengarkan, dia ingin berpikir seperti itu, tetapi yang melekat di otaknya tetaplah dia yang membuat kaki Dyxie terluka.
"Saran gue cepat baikan, sebelum semua terlambat." ucap Galang kemudian.
__ADS_1
...***...
...Bersambung......