Perfect Boyfriend

Perfect Boyfriend
Bab 31


__ADS_3

Raksha menceritakan kisah kelam persahabatannya kepada Dyxie hingga matahari hampir tenggelam karena memang kisah itu cukup panjang.


"Jadi? Lo tahu Angel suka Lo?"


"Hm, gue tahu. Tapi gue gak bisa balas perasaannya sampai kapanpun." jawab Raksha.


"Kenapa?" tanya Dyxie.


"Sudah ada seseorang yang mengisi tempat kosong di hati gue." jelas Raksha sambil tersenyum tipis.


"Siapa?"


Raksha menoleh dan menatap Dyxie beberapa saat. Cowok itu seperti akan mengatakan sesuatu. Mungkin karena keseringan nonton drama, hanya ditatap beberapa detik sukses membuat Dyxie salah tingkah.


"Nga-ngapain Lo lihat gue kayak gitu?"


"Lo kepo ya." cetus Raksha.


"Fuckk!!"


Raksha tertawa mendengarnya umpatan yang keluar dari mulut Dyxie barusan. Suara cewek itu sangat candu ketika mengucapkan kalimat dalam bahasa Inggris. Ya bisa dibilang saat berbahasa Indonesia suaranya biasa, tapi saat berbicara bahasa Inggris walaupun hanya sekedar mengumpat suaranya terdengar keren. Enaknya bilang suara cempreng Dyxie berubah menjadi deep voice.


"Gue menang gak bisa balas perasaannya dengan cinta. Tapi gue balas perasaannya dengan sayang sebagai kakak." tutur Raksha.


"Dia pasti bahagia di surga." kata Dyxie.


"Dia di neraka." celetuk Raksha.


"Njir, gila Lo?"


"Nggak, kan memang benar. Orang yang bunuh diri gak bisa masuk surga." cetus Raksha dengan wajah tanpa dosa.


"Emang lucknutable Lo!"


Setelah pulang dari makam mereka berkendara pelan-pelan di temani hangatnya matahari sore. Seperti biasanya mereka memilih lewat jalan-jalan kecil supaya terhindar dari keramaian. Kegiatan ini yang paling mereka sukai. Berkendara bersama ditempat yang sepi dimana hanya ada mereka berdua.


"Lo mau langsung pulang?" tanya Raksha tiba-tiba.


"Nggak juga."


"Terus? Mau kemana?"


"Lo kepo ya." jawab Dyxie menirukan kalimat yang Raksha lontarkan padanya tadi saat di makam.


"Sialan." desis cowok itu sambil tersenyum tipis.

__ADS_1


"Ke rumah Lo boleh nggak?"


"Ngapain?"


"Main lah, kata Lo belajarnya libur." ucap Dyxie.


"Mau main apaan? Di rumah gue gak ada mainan."


"Gue lihat kemarin di rumah Lo ada PS5." kata Dyxie sambil memainkan alisnya naik turun.


"Jeli juga mata Lo."


"Woiya dong, Dyxie gitu loh."


*


Sesampainya di rumah Raksha, Dyxie langsung merebahkan tubuhnya di sofa sambil bermain handphonenya. Sungguh tabiat yang buruk saat bertamu. Tuan rumah belum sampai ruang tamu, cewek itu sudah enak rebahan di sofa.


"Bikinin minuman dong." pinta Dyxie.


"Gak punya sopan santun Lo."


"Bodoamat. Bikinin lemon tea ya?"


"Hm, lepas dulu itu sepatu Lo. Sampai lantai gue kotor muka Lo gue pakai buat ngepel!" kata Raksha sambil melemparkan tasnya ke Dyxie kemudian berjalan ke dapur.


Setelah beberapa saat Raksha kembali membawa dua gelas lemon tea. Sedangkan Dyxie sudah asik bermain game.


"Udah jadi? Sini ikut main."


Raksha menggelengkan kepalanya melihat tingkah Dyxie yang seolah dirinya adalah tuan rumah. Padahal Raksha adalah tuan rumahnya.


"Tuan rumah berasa pembantu." gumam cowok itu. Kemudian meletakkan lemon tea di meja. Lalu cowok itu ikut bermain.


"Lo gak pernah mainin ini? Tadi pas gue ambil banyak debunya."


"Gak ada teman main." jawab Raksha.


"Yaudah kalau mau main telepon aja gue." kata Dyxie.


Setelah memainkan beberapa permainan. Mereka bersantai sambil menikmati lemon tea yang dibawakan Raksha tadi.


Raksha memperhatikan ekspresi Dyxie saat meminum lemon tea buatannya. Terlihat cewek itu sangat menyukainya.


"Lo suka lemon tea?" tanya Raksha.

__ADS_1


"Bukan hanya lemon tea, semua yang rasa lemon gue suka. Lemon pun gue sering makan. Asam sih, tapi enak."


Raksha tertegun mendengarnya. Dia kira cuma dia seorang yang punya kebiasaan aneh memakan lemon tanpa diolah dahulu. Jika menyukai makanan atau minuman rasa lemon sih wajar, ini makan lemon tanpa diolah? Bisa bayangin seberapa asam rasanya.


"Kenapa suka lemon?"


"Nenek gue dulu sering buatin gue makanan atau minuman dengan rasa lemon. Saking seringnya gue sampai bosan. Tapi setelah nenek meninggal gue kangen semua itu. Kayaknya mulai dari situ gue suka lemon." jelas Dyxie sambil menatap sendu gelas berisi lemon tea di tangannya.


"Gue juga suka lemon, tapi gue gak tahu kenapa gue suka lemon." kata Raksha.


"Lupain aja, ngapain juga bahas lemon." Mata Dyxie melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 8 malam. "Udah jam 8, gue balik ya?"


Raksha hanya mengangguk.


"Thanks minumannya!"


Setelah itu Dyxie berlari kecil keluar rumah Raksha. Dan segera pulang. Setelah Dyxie pulang seperti biasanya rumah mendadak menjadi sepi.


"Dahlah. Udah biasa juga sendiri." batin Raksha sambil melihat seluruh sudut ruang tamu. "Lo yang suka sendirian kenapa malah kayak kesepian gini sih Sha?" gumamnya. Setelah itu dia pergi ke kamarnya tanpa membereskan kekacauan di ruang tamu.


Cowok itu merebahkan dirinya di ranjang dan menatap langit-langit kamar. Dia mengingatkan bagaimana dirinya bertemu dengan Dyxie. Pertengkaran kecil mereka. Hingga mereka ditunjuk mewakili sekolah ikut Olimpiade Sains Nasional. Balapan. Sikap Dyxie yang mulai berubah. Dari dahulu yang hobi terlambat, sekarang terbiasa datang ke sekolah saat sekolah masih sepi.


"Hampir tobat kah?" gumam Raksha sambil tertawa kecil.


Tetapi sesaat kemudian Raksha menghela napas. "Dia siapanya tuh cewek ya?" batin Raksha. Yap, dia masih penasaran dengan sosok Arshaka. Cowok yang dipeluk Dyxie setelah balapan kemarin. "Pacar? Mungkin?" gumam Raksha.


Sesaat kemudian Raksha membalik tubuhnya menjadi tengkurap. Tangannya memukul-mukul bantal di sebelahnya. Fix. Kalau Dyxie melihat ini pasti dirinya akan diledek habis-habisan.


"Gue kenapa sih anjr?!"


*


Di sisi lain Dyxie pun merasakan hal yang sama. Sebenarnya masih banyak pertanyaan yang ingin dia tanyakan kepada Raksha tentang Aveline dan Angel. Tapi dia tahu jika menanyakan hal itu sama saja menaburkan garam di atas luka.


"Angela... Veline... Sial, mereka terus muter-muter di kepala gue!" desis cewek itu.


"Tapi kenapa kayaknya gue gak asing ya sama cerita Raksha tadi?" Cewek itu merasa pernah mendengar salah satu dari kalimat yang di ceritakan Raksha.


"Lo sakit-sakitan! Lemah! Cengeng! Bentar lagi juga mati! Lo cuma bakal jadi beban Raksha!" kalimat tersebut terngiang-ngiang di telinganya.


"Gue pernah dengar itu, tapi dimana?" batin Dyxie. "Mungkinkah gue ada disana pas Angela di bully Veline?" gumam gadis itu bertanya-tanya. Kemudian dia mengingat dimana dia dulu bersekolah saat masih kelas 9 SMP. Tapi dia tidak ingat sama sekali, saking seringnya dia pindah sekolah.


"Otak ikan mas Lo Dyxie!" ucap Dyxie mencaci dirinya sendiri yang gampang sekali melupakan sesuatu.


"Gue harus tanya mami!"

__ADS_1


...***...


...Bersambung......


__ADS_2