
Sesampainya di sebuah apartemen. Raksha langsung di bawa masuk ke kamar oleh papanya. Cowok itu tidak melawan dia takut papanya ini benar-benar akan menyiksa mamanya jika dia melawan.
"Dimana mama?!"
"Dia tidak disini. Dia masih di rumah." jawab Mark sambil menekan sebuah tombol yang menyalakan komputer. Di komputer tersebut menampilkan kondisi namanya yang terikat di kursi. Di kanan kirinya terdapat dua orang anak buah papanya memegang cambuk.
"MAMA!!"
"Saya gak main-main, kalau kamu melawan saya akan mengerahkan mereka untuk menyiksa wanita itu."
"Lepaskan mama saya!"
"Tanggalkan atasan kamu! Lalu berlutut!"
Raksha tahu betul apa yang akan dilakukan papanya setelah ini, dia akan mendapatkan cambukan itu lagi. Dia sudah pasrah demi mamanya. Setelah menanggalkan baju atasannya dia berlutut sesuai yang dikatakan papanya. Tidak seperti wajahnya tampan, punggung cowok itu penuh luka bekas cambuk.
Baru saja dia berlutut, satu cambukan sudah mengenai punggung cowok itu. Tapi tidak ada rintihan yang keluar dari mulut Raksha.
"Kamu tahu berapa hukuman mendapatkan nomor dua?"
Raksha menelan ludahnya susah payah mengingat hukuman tersebut. Terakhir kali dia mendapatkan hukuman itu saat kelas 9, ya jaraknya tidak jauh dari kematian Angel karena terpuruk dengan kematian Angel nilai cowok itu turun. Alhasil dia mendapatkan ranking dua di kelasnya. 20 cambukan akan dia dapatkan saat mendapatkannya juara dua, bayangkan di usia yang sangat muda dia mendapatkan hukuman sekejam itu.
Pria paruh baya tersebut mencambuk Raksha membabi buta. Seolah-olah dia sangat membenci Raksha. Raksha sendiri bisa merasakan hal itu, dia merasakan bahwa papanya itu tidak mengharapkan kehadirannya. Dia selalu diperlakukan seperti ini sejak masih kecil. Cowok itu tidak tahu dia salah apa sehingga papanya terlihat begitu benci padanya. Yang dia benci, saat di depan publik keluarganya terlihat begitu harmonis.
20 cambukan mengenai punggung cowok itu. Darah segar sudah mengalir dari sana. Tapi Raksha tetap kokoh dan tidak terjatuh. Dia masih duduk dengan posisi yang sama seperti sebelumnya.
"Sudah puas anda?" tanya Raksha dengan suara serak.
"Tidak! Itu baru hukumanmu untuk nilai! Hukumanmu karena gadis berandalan itu belum kau dapatkan!" jawab Mark sambil mengangkat cambuknya bersiap melayangkan cambukan itu lagi.
BRAK!!!!
Mark langsung berbalik mendengar pintu yang di dobrak.
"Siapa yang Lo sebut berandalan bangshat?!"
Shaka langsung melemparkan pisau ke arah tangan Mark yang memegang cambuk, tepat sasaran. Pisau itu menusuk tangan Mark hingga membuat cambuknya terjatuh.
"Wow, siapa ini? Arshaka Karvino Lleonara. Sejak kapan kau dekat dengan anak saya?"
"Kalau adik gue berandalan Lo apa? Iblis?!"
__ADS_1
"Saya? Saya malaikat maut yang akan mencabut nyawa adik kesayanganmu itu. Sama seperti apa yang akan saya lakukan ke dia." jawab Mark sambil melirik Raksha.
Shaka tidak menghiraukan perkataan Mark, dia langsung melayangkan pukulannya tepat ke wajah Mark lalu menendang pria paruh baya tersebut hingga tersungkur.
"Gila Lo?! Itu anak Lo setan!" bentak Shaka. "Otak Lo dimana? Nyiksa anak sendiri sampai sekarat!"
"Kenapa gak? Karena anak pungut itu anak saya mati!"
"Salahin anak kesayangan Lo itu! Ngapain pakai nyelamatin adik pungutnya!" ucap Shaka sambil membantu Raksha berdiri.
Raksha masih tidak paham dengan maksud pembicaraan mereka berdua. Selama ini dia tidak tahu apa alasan papanya begitu kejam padanya. Ternyata dia punya kakak? Pungut? Berarti dia bukan anak kandung papanya?
"Ayo pergi!" ajak Shaka..
Raksha sudah melangkahkan kakinya di bantu Shaka. Tetapi langkahnya terhenti mendengar kalimat yang di ucapkan papanya.
"Satu langkah lagi mama kamu celaka!" ucap Mark.
"Sorry gue--"
"Nyokap Lo aman di rumah gue!" jawab Raksha. "Gak usah takut sama si setan!" kata Shaka kemudian melangkahkan kakinya lagi diikuti Raksha.
Di luar rumah, Raksha terkejut melihat anak buah papanya tergeletak tidak berdaya semua. Tidak ada yang sadar satu pun.
Ctak. Shaka menjitak kening Raksha.
"Lo kira gue pembunuh?!" tanya Raksha sinis.
"Mirip."
Shaka memutar bola matanya malas, kalau adiknya tidak mencintai orang disampingnya ini. Pasti sudah dia buang Raksha ke kandang buaya peliharaannya di markas.
"Masuk lo!" perintah Shaka menyuruh Raksha masuk ke mobil sedangkan Raksha hanya menurut.
Brumm
"Lo kakaknya Dyxie?" tanya Raksha.
"Kenapa? Lo kira pacarnya?" terka Shaka dengan tepat.
"Nggak!"
__ADS_1
Selama perjalanan Raksha sesekali melirik ke arah Shaka seperti ingin menanyakan sesuatu. Tetapi dia ragu menanyakannya.
"Kalau mau tanya buruan!"
"Gue punya kakak? Gue bukan anak kandung papa?" tanya Raksha.
"Hm, Lo anak pungutnya. Anak kandungnya mati gara-gara nyelamatin Lo dulu pas ada perselisihan antara keluarga Lo dan keluarga gue."
"Mama, gue bukan anak kandungnya?"
"Dia emak kandung Lo. Dia istri kedua bokap Lo. Dia nikah sama nyokap Lo buat balas dendam sama keluarga nyokap Lo yang udah bunuh istri pertamanya."
"Darimana Lo tahu semua ini? Sedangkan kita seumuran."
"Otak gue encer, gak beku kayak Lo."
"Sialan." desis Raksha dan langsung membuang muka ke arah jendela mobil. Perkataan Shaka barusan, memang sedikit menusuk, apalagi dia kalah OSN dari Shaka. Itu sudah menjadi bukti kan kalau otak Shaka memang lebih encer dari Raksha?
"Baperan!" cetus Shaka membuat Raksha langsung menatap tajam ke arahnya.
"Gak usah sok kuat! Di cambuk diam! Bego Lo!"
"Gue bisa aja ngelawan, tapi gue masih sayang nyokap gue." jawab Raksha.
"Lo mau tahu kenapa gue waktu itu ngalahin Lo?" tanya Shaka kepada Raksha.
"Kenapa?"
"Karena gue mau ngajarin Lo, sempurna itu gak harus jadi nomor satu. Sekarang gue tanya, Lo merasa kekurangan sekarang? Lo merasa gak sempurna?" tanya Shaka.
"Hm, gue lemah. Gue gak bisa lindungi mama gue. Gue bodoh."
Shaka berdecak sebal. Bisa-bisanya cowok disampingnya ini masih belum sadar. "Lo itu udah sempurna! Lo diberi wajah yang sempurna walaupun gue enggan ngakuin itu. Lo dikasih anggota tubuh yang lengkap, otak cerdas sama Tuhan. Tubuh Lo kuat, sekalipun Lo dicambuk sampai punggung Lo robek Lo masih kuat duduk sama sekali gak ambruk. Lo masih bilang Lo gak sempurna? Lo lagi ngehina ciptaan Tuhan?" tanya Shaka.
Belum pernah sebelumnya Shaka berkata kalimat sepanjang ini kepada orang selain Dyxie dan Aura. Terpaksa kali ini dia ngomong panjang lebar, jika tidak begitu Raksha gak akan pernah sadar jika dirinya sudah sempurna. "Oh iya lupa, Lo itu cuma pinter di materi sekolah. Soal beginian Lo kan bego." ucap Shaka mengakhiri kalimatnya.
Raksha hanya diam mendengarkan perkataan Shaka. Cowok itu tidak pernah berpikir sampai kesana.
Jangan pernah merasa tidak sempurna, Tuhan itu menciptakan kita manusia dengan sangat sempurna. Sekalipun kita punya kekurangan kita juga punya kelebihan untuk mengimbangi kekurangan itu. Insecure? Ngatain diri sendiri gak sempurna? Sama aja Lo ngehina ciptaan Tuhan.
...***...
__ADS_1
...Bersambung......