
Keesokan harinya mereka pergi jalan-jalan. Oliver bersama Aura pergi ke mall. Keyla dan Galang pergi ke toko Ice Cream yang baru saja buka. Bisa dibilang mereka sedang pdkt. Sedangkan Raksha dan Dyxie memilih untuk pergi ke danau. Walaupun tempat itu jauh dari pusat kota, tetapi mereka tidak peduli hal itu. Yang penting nyaman ya gas aja.
Jangan tanya si jones Shaka. Cowok itu lebih memilih bersantai di markasnya yang ada di gunung terpencil daripada jalan-jalan. Dia duduk anteng di depan komputer mengawasi Dyxie, Aura, dan juga Keyla. Ya, Shaka mengirim 3 drone kecil yang mengikuti ketiga pasangan tersebut.
Terlihat dari layar komputer Dyxie sedang berjalan-jalan mengitari danau sambil bergandengan tangan dengan Raksha.
*
Mereka baru berhenti berjalan ketika sampai di sebuah pohon yang rindang.
"Xie.." panggil Raksha sambil melihat ke arah dahan pohon di atas mereka.
"Apa?"
"Lo bilang sering lihat cowok duduk disana kan?" tanya Raksha sambil menunjuk dahan pohon yang paling besar.
"He'em, kenapa?"
Raksha hanya tersenyum. Kemudian ia melepaskan tangannya dari tangan Dyxie dan berjalan menuju belakang pohon. Terukir senyum tipis ketika melihat tumpukan batu disana. Ya, batu-batu itu dia susun sendiri sebagai tangga untuk memudahkannya naik ke pohon. Dia tidak menyangka batu-batu itu masih ada ditempatnya.
Dengan hati-hati Raksha memanjat ke dahan pohon itu, dan berbaring disana, tangannya meraih buah pohon itu dan memakannya. Dia tidak tahu pasti buah apa itu, tapi itu sangat menyegarkan.
Dyxie tercengang melihat apa yang di lakukan Raksha. Ini adalah pemandangan yang selalu ia lihat ketika datang ke danau ini dahulu.
"Lo? Cowok itu?" tebak Dyxie dengan tepat.
Raksha menoleh ke arah Dyxie. Kemudian sambil tersenyum dia mengiyakan tebakan Dyxie. "Iya."
"Wah gila!"
Cowok itu bangkit dari tidurannya, kemudian duduk di dahan pohon. Dia menepuk dahan pohon sampingnya. "Sini naik!" ajak Raksha.
"Gak! Ntar dahannya patah."
"Yakin deh gak akan."
Dengan terpaksa Dyxie menuruti permintaan Raksha. Dia pergi ke belakang pohon mengikuti cara Raksha naik tadi menggunakan batu-batu disana. Hingga akhirnya dia berhasil naik ke dahan dan duduk di samping Raksha.
"Kok pas banget ada tangga batu disitu?"
"Gue yang nyusun dulu."
Dyxie manggut-manggut mengerti. Kemudian pandangannya melihat setiap sudut taman danau tersebut. Sangat indah jika dilihat dari sini. Pantas saja dahulu cowok disampingnya ini sangat suka nangkring disini.
"Lo tahu gak kenapa gue sering ke danau ini?" tanya Raksha.
__ADS_1
"Kenapa?"
"Karena gue pengen lihat Lo."
"Hah? Gue?" tanya Dyxie sambil menunjuk dirinya sendiri.
Raksha mengangguk. "Cewek pecicilan, yang gak pernah pasang bet kelas atau nama itu Lo." tutur Raksha.
"Bagaimana Lo yakin itu gue?"
"Pas Lo bilang sering kesini. Soalnya gak ada orang yang pernah kesini kecuali Lo sama gue." jelas Raksha.
Memang benar, hampir tidak ada orang yang berminat datang ke taman danau tersebut. Pemerintah bahkan hampir menutupnya. Tapi entah kenapa taman itu tidak jadi ditutup. Sampai sekarang pun hanya Dyxie dan Raksha yang sering terlihat di taman itu.
"Lo makan buah apaan?" tanya Dyxie.
"Gak tahu. Tapi enak. Mau?"
"Nggak, beracun?"
"Kalau beracun gue pasti udah mati dari dulu." cetus Raksha.
Cowok itu berdiri di dahan dan memetikkan buah tersebut untuk Dyxie. Dyxie terlihat ragu memakannya, karena penasaran dia langsung saja memakan buah tersebut. Buah itu berwarna merah cerah. Bentuknya unik menyerupai hati. Rasanya manis ada asamnya sedikit.
"Sha.." panggil Dyxie pelan.
"Kalau misal Aveline dan yang lainnya nyerang gimana?" tanya Dyxie tiba-tiba.
"Ya lawan. Kenapa nanya gitu?"
"Nggak. Gapapa."
Jujur, ada sedikit hal yang mengganjal di hati Dyxie. Cewek itu bisa merasakan akan ada sesuatu yang terjadi tidak lama lagi. Tentunya itu bukanlah sesuatu yang bagus. Maka dari itu pikiran cewek itu tidak bisa tenang. Dia ingin terus berlama-lama bersama Raksha.
Raksha dikagetkan dengan Dyxie yang tiba-tiba menyandarkan kepalanya di bahu dirinya. Tidak biasanya Dyxie bersikap manja seperti ini.
"Kenapa?" tanya Raksha.
"Gapapa."
Raksha membiarkan kekasihnya itu bersandar di pundaknya. Tapi tiba-tiba suasana itu dikacaukan ketika sebuah pisau tiba-tiba melesat ke arah Dyxie.
"Awas!" Raksha dengan sigap menarik Dyxie ke dalam pelukannya untuk menghindari pisau tersebut.
Jleb! Pisau tersebut menancap di batang pohon.
__ADS_1
Raksha mengedarkan pandangannya ke arah datangnya pisau tersebut. Terlihat laki-laki disana. Tanpa ragu Raksha langsung lompat dari dahan pohon dan pergi mengejar laki-laki tersebut.
"Raksha!"
Raksha tidak menghiraukan panggilan Dyxie.
Cewek itu menatap punggung Raksha yang mulai menjauh. Dia tidak mengejar Raksha, karena tahu kekasihnya itu akan baik-baik saja. Dia mencabut pisau yang menancap di batang pohon. Ada suratnya.
...Welcome to the battlefield....
Isi surat tersebut.
Dyxie langsung meremas kertas tersebut. Kemudian lompat turun dari dahan pohon. Dan berjalan cepat mengikuti kemana Raksha pergi.
Sedangkan Raksha dia tidak berhasil menemukan orang yang melempar pisau kepada Dyxie tadi. Tapi dia ingat dengan jelas wajah laki-laki itu.
"Siapa dia? Wajahnya gak asing." gumam Raksha sambil mengingat-ingat wajah laki-laki tadi. Kelihatannya laki-laki tadi tidak berbeda jauh usianya dari dirinya.
"Raksha!!" panggil Dyxie.
"Ada apa?"
Dyxie langsung menunjukkan surat yang ada di pisau tadi. Raksha langsung mengerutkan keningnya melihat nama pengirim yang ada di pojok surat. 'MVA' Dia tahu sekarang dia siapa cowok itu.
"Gue tahu siapa dia." ucap Raksha.
Dyxie diam menatap Raksha dengan tatapan tanda tanya.
"Martin Van Agatha. Gue lihat wajah dia di foto yang ditunjukin Shaka." tutur Raksha.
Dyxie terdiam mendengar penuturan Raksha. Benar firasatnya, sesuatu yang buruk akan segera terjadi. Sebelum itu terjadi mereka harus mempersiapkannya.
"Kita ke markas Shaka!" kata Dyxie.
Ya, itu pilihan yang paling tepat. Raksha melajukan motornya secepat mungkin untuk pergi ke alamat yang diberitahukan Dyxie.
"Kak.. Suruh yang lainnya ke markas. Ada hal penting yang mau gue bicarain." isi pesan Dyxie yang dia kirim melalui MwoApp.
*
Di sisi lain, Shaka membaca pesan Dyxie sudah tidak kaget. Dia sudah tahu sejak awal karena ia mengirim drone mengikuti mereka. Jadi dia juga tahu apa yang terjadi disana. Dan siapa yang melakukan itu.
"Sebentar lagi..." gumam Shaka menatap cowok berambut pirang di layar komputernya. Terlihat cowok itu mengacungkan jari tengah ke arah drone. Kemudian mengeluarkan pistol dan menembak drone tersebut. Berakhir dengan layar komputer yang menjadi gelap.
...***...
__ADS_1
...Bersambung......