Perfect Boyfriend

Perfect Boyfriend
Ungkapan Hati


__ADS_3

Pink, Green dan Felix sekarang duduk dengan wajah tertunduk, mereka tidak berani memandang Naku yang berada di hadapan mereka.


"Aku tidak mau berbasa-basi lagi!" Naku mulai memecah keheningan yang ada.


Naku memandangi ketiganya satu persatu, dia sekuat tenaga menahan emosinya. Sungguh kalau dia tidak menahannya, entah apa yang dia lakukan pada supir dan kedua putrinya itu.


"Felix mulai detik ini juga, kau dipecat! Pink dan Green, mulai hari senin kalian akan homeschooling!" ucap Naku tidak terbantahkan.


Felix sudah menduga kalau dirinya memang akan dipecat, untuk itu dia berdiri dan membungkuk hormat pada Naku. Lelaki itu meminta maaf sekaligus berterima kasih pada Naku, setelahnya dia berpamitan pulang.


"Jangan ganggu aku lagi, Pink!" ucap Felix sebelum dia pergi.


Pink meremas bajunya karena merasa semua ini tidak adil, dengan bibir bergetar dia mencoba bicara pada daddy Naku.


"Bukankah ini tidak adil, Dad? Kenapa larangan pacaran hanya berlaku untuk anak perempuan sedangkan untuk anak laki-laki tidak!" protes Pink.


Green langsung menyenggol lengan kakaknya itu karena takut daddy Naku tambah marah, masalah ini sudah berulang kali dibahas dan mereka tahu kenapa daddy Naku melakukan itu.


"Jadi mau dijabarkan satu-satu kesalahan kalian, andaikan daddy tidak datang tadi, kau akan membiarkan adikmu diperkosa sedangkan kau asyik menari dengan pacarmu! Begitu?!" Naku berbicara sambil mengeratkan gigi gerahamnya.

__ADS_1


Pink langsung terkesiap mendengar itu, dia menyesali keegoisannya. Gadis itu langsung memeluk Green dan menangis karena tidak bisa menjaga adiknya.


"Maafkan aku, Green!" ucapnya terisak.


Blue melihat kedua anak gadisnya dari lantai atas, lagi-lagi dia merasa tidak berguna. Seharusnya dia bisa mendidik kedua putrinya dengan baik tapi selama ini mereka tumbuh mandiri dengan didikan keras dari Naku karena Naku tidak ingin kedua putrinya jadi seperti dirinya.


"Mom, lebih baik mommy tidur lagi!" ucap Black yang juga ikut melihat kedua saudaranya dari lantai atas.


Blue menggeleng. "Tidak mau, bagaimana kalau kita kabur, Black?"


"Apa maksudmu, Mom?" tanya Black tidak mengerti.


"Jadi mommy menyuruh kami untuk mengemis?"


*****


Naku tidak kembali ke kamarnya, tapi dia ke ruang pribadinya untuk menenangkan dirinya. Lelaki itu duduk di depan perapian sambil menyesap wine, itulah yang biasa dia lakukan jika setres.


"Ayang...," panggil Blue menyusul suaminya. Dia sebenarnya takut tapi dia ingin menghibur Naku.

__ADS_1


"Kembalilah ke kamar, Blue! Aku ingin sendiri!" ucap Naku tegas.


Blue tidak menurut seperti biasanya, dia justru mendekati Naku dan ikut duduk di depan perapian. Sebelumnya dia sudah mendatangi kedua putrinya dan mereka membujuk supaya Blue berbicara pada Naku mengenai hukuman homeschooling mereka.


"Jadi Pink dan Green tidak boleh pergi dari mansion?" tanya Blue kemudian.


Naku tidak menjawab, lelaki itu diam dan menegak wine di gelasnya beberapa kali yang membuat Blue jengah karena suaminya selalu melampiaskan semuanya dengan minuman beralkohol.


"Bisakah Ayang berhenti minum?" tanya Blue dengan merampas gelas ditangan Naku.


"Don't do that, Blue! Pergilah ke kamar, biarkan aku sendiri!" bentak Naku yang membuat Blue kaget. Karena tidak biasanya Naku membentaknya seperti itu.


"Ayang marah padaku?" tanya Blue mulai berkaca-kaca.


"Memang kau akan mengerti kalau aku memarahimu? Kau tidak akan mengerti dan tidak mau belajar! Aku sudah mengajarimu banyak hal tapi kau tetap seperti itu, Blue!" Naku mulai mengungkapkan isi hatinya.


"Kau hanya mengurung dirimu di mansion ini, 'kan? Maka aku juga akan mengurung kedua putri kita! Didiklah mereka dengan caramu, aku mau lihat mereka akan jadi apa?!"


Blue bergeming, dia meremas ujung dress rumahan yang dia pakai. Dengan lelehan air mata dia bertanya. "Ayang menyesal menikah denganku?"

__ADS_1


__ADS_2