
Pagi harinya Rania bangun terlambat,tubuhnya remuk redam setelah kejadian semalam ,Arya sudah bangun duluan dalam keadaan segar bugar ,ketika bagun Rania mengingat kejadian semalam jadi malu sendiri ,ia senyum senyum sendiri
" Kamu udah bangun bunda ? ,Ibu dan yang lainya sudah menunggu di meja makan ,ayo bangun " ucap sambil mengecup kening Rania membuat pipi Rania merona
" Aku ,kesiangan mas Arya mengapa tidak membangunkan aku ,auuuu...kenapa sakit sekali" rintih Rania kemudian ia bangun hendak menuju kamar mandi kemudian bergabung dengan yang lainya di meja makan
" Biar aku gendong saja ,aku sudah menyiapkan air hangat untuk mengurangi rasa nyeri ,maafkan aku terlalu bersemangat semalam " tutur Arya sembari mengendong Rania ,selesai mandi Rania bergabung di meja makan dengan yang lainya
" Bunda kok lehernya merah merah gitu " tanya Rama ,Rania yang ditanya langsung gelagapan
" Ini sayang ,ada serangga di kamar bunda " bual Rania ,seketika ibu Rania ikut memperhatikan Rania ia tersenyum
" Rama ,sepertinya doamu akan terkabul kamu akan segera punya adek " ucap Ibu Rania tersenyum simpul Rania yang mendengar ucapan ibunya bagai mukanya bagai kepiting rebus
" Hore... Rama mau punya adek " teriak Rama
" Doakan saja ya nak " ucap Arya yang langsung dicubit perutnya oleh Rania
****
Seminggu sudah berlalu tibalah hari orang tua berpamitan pada keluarga Arya
" Ibu ,kenapa cepet cepet pulang aku kan masih kangen " rengek Rania pada ibunya
" Ibu sudah menginap disini sudah seminggu kasihan adekmu dirumah sendiri ,lagian misi ibu juga sudab berhasil " kata ibu Rania sambil tersenyum
" Misi ? misi apaan kok Rania nggak tau ? " tanya Rania penasaran
" Itu misi ,supaya Rama lekas punya adek " ucap Ibu Rania sambil tersenyum ,wajah Rania sontak merah merona di goda ibunya
" Apaan sih bu ... " ucap Rania malu malu
" Ibu pulang dulu yah ... ingat pesan Ibu rumah tangga itu tidak selalu mulus pasti ada kerikil kerikil kecil yang akan kamu lalui ,tapi ibu yakin kamu pasti akan bisa melaluinya nantinya " nasehat Ibu Rania pada putrinya
" Iya bu.... " ucap Rania memeluk ibunya sambil menangis
" Nggak usah nangis kaya nggak pernah pisah sama ibu saja ,sekarang kamu sudah ada anak dan suami jangan cengeng lagi " ucap Ibu Rania kemudian
" Aku nggak bisa antar ibu ,karena harus ngajar "ucap Rania kemudian
" Ibu mengerti nak ,ada eko yang antar ibu sampai rumah ,baik banget suami kamu ,kata suamimu ibu tidak boleh naik angkutan umum harus dianter eko kamu beruntung punya suami nak Arya , jaga diri baik baik ibu pulang dulu " pamit Ibu Rania
__ADS_1
" Dahhhh.... ibu " ucap Rania sembari mengantar ibunya sampai ke gerbang
" Rumah ini kembali sepi saat semua orang memulai aktifitasnya ,aku harus segera berangkat mengajar " guman Rania
dan aktifitas berjalan seperti biasa
Sebulan sudah berlalu semenjak kejadian malam itu hubungan Arya dan Rania semakin mesra
sepulang dari mengajar Rania tiba tiba terbesit keinginan membersihkan kamar suaminya hal yang tidak pernah ia lakukan selama ini
" Mbok minah ... minta kunci kamar mas Arya mbok " kata Rania pada mbok minah
" Tumben neng ? " tanya mbok minah
" Mau bersihin kamar mas Arya ,meskipun tidak pernah ditempati kan harus di bersihin " tutur Rania
" Kamarnya selalu bersih dan rapi neng ,bibi jarang membersihakanya cuma sesekali aja kalau pas bapak nyuruh aja ,masalahnya bapak sendiri yang membersihkanya ,ini kuncinya neng " ucapa mbok minah sambil menyerahkan kunci pada Rania kemudia mbok minah kedapur meneruskan pekerjaanya
" Ceklek .... " pintu terbuka Rania mulai masuk kamar
" Benar kamarnya bersih dan Rapi " guman Rania kemudian tak sengaja matanya melihat ke meja rias disana masih tertata rapi aneka make up mendiang istri Arya
" Tes...." air mata Rania mengalir tanpa permisi
" Bahkan foto pernikahan kami saja tak satupun dipajang ,ini foto mendiang istrinya segede ini masih disimpan di kamarnya " Rania kembali terisak sambil memperhatikan semua foto foto mesra Arya dengan mendiang suaminya ,kemudian ia membuka walkin closed disana masih utuh semua baju tas ,sepatu mendiang istrinya dada Rania semakin sesak dibuatnya ia sudah tidak sangup lagi berada dikamar Arya kemudian ia bergegas kekamarnya menumpahkan semua airmata yang tidak habis habisnya semenjak dari kamar Arya
" Kenapa hati ini begitu sakit .... " Rania tergugu
" Aku mengira mas Arya sudah mulai mencintai aku ,setelah semua yang kita lakukan " Rania semakin sesengukan
" Meskipun mas Arya selalu bilang tidak akan bisa mencintai wanita lain selain mendiang istrinya ,tapi apa yang aku lihat barusan Rasanya jauh lebih sakit " Rania semakin tergugu
Seharian Rania mengurung diri dikamarnya hingga malam tiba Arya pulang ,Rania berusaha bersikab seolah olah tidak terjadi apa apa ,Arya masuk kamar
" Ceklek ..." terdengar suara pintu dibuka Arya memasuki kamar Rania
" Bunda ...sayang " pangil Arya
" Sayang ..sayang kepala loe peyang " batin Rania masih pura pura tidur ,ia berusaha menguasai diri agar tidak terlalu terbawa perasaan
" Kata Rama ,kamu lagi sakit seharian di kamar aja " tanya Arya
__ADS_1
" Iya mas aku nggak enak badan , aku pingin tidur sendiri dulu " ucap Rania sembari menenangkan perasaanya sendiri ,Arya mendekat menempelkan punggung tanganya di kening Rania
" Enggak panas " kata Arya
" Emang enggak panas mas , cuma aku lagi dapet aja rasanya badanku sakit semua dan pingin marah marah " dusta rania sambil berusaha menahan tangis Arya mendekat memijit kaki Rania namun malah membuat Rania tak kuasa menahan tangisnya ,ia menjauhkan kakinya dari Arya
" Mas pergi aja ,aku lagi nggak ingin liat mas Arya moodku bener bener buruk " Rania tergugu ia semakin menangis tatkala Arya mencoba memberikan perhatian ,hatinya semakin teriris setelah ia tau kenyataanya bahwa arya masih belum bisa mencintainya ,semua hanya ia pendam sendiri
" Loh kok malah nangis ,kamu kok jadi sensitif gini kemarin kemarin pas dapet nggak kaya gini deh " kata Arya
" Itukan kemarin sekarang beda " ucap Rania sambil menangis
" Aku bingung bagaimana menghadapi wanita haid yang sensitif seperti ini dulu alesha tidak pernah begini " tutur Arya
" Yah... aku memang bukan mbak alesha ,aku Rania jelas beda dan sampai kapanpun tidak akan pernah sama " tiba tiba Rania sedikit emosi
" Bukan begitu ,aku tidak bermaksud membanding bandingkan kamu dengan alesha ,cuma aku bingung menyikapi kamu " tutur Arya lagi Rania semakin menangis
" Mas ,tolong keluar dari kamar ini aku lagi pingin sendiri " pinta Rania akhirnya Arya meninggalkan kamar Rania dan tidur dikamarnya sendiri
didalam kamar dia tidak bisa memejamkan mata ,selama ini biasa tidur berdua dengan Rania terasa ada yang kosong dihatinya
Pagi harinya Rania menyiapkan sarapan seperti biasa ,ia berusaha tegar
" Aku harus kuat ,dari awal mas Arya sudah bilang bahwa dia hanya mencintai mendiang istrinya ,tapi aku tak menyangka akan sesakit ini " Rania berguman berusaha menguatkan hatinya
" Bunda udah baikan sekarang " tanya Arya pada Rania
" Aku udah lebih baik sekarang mas " kata Rania
" Mbok minah nanti minta tolong bersihkan kamarku yah ... " kata Arya
" Kenapa nggak aku aja mas yang bersihin kamarmu " tanya Rania
" Nggak usah bunda kan lagi ngak enak badan " sahut Arya kemudian
" Bilang aja kamu nggak mau kan ,barang barang mendiang istrimu kusentuh ,pinter ngeles kamu mas " batin Rania
" Aku berangkat dulu sayang ,nggak usah cape cape kalau nggal enak badan ijin dulu nggak usah ngajar " ucap Arya dan Rania hanya menganguk
" Perhatian kamu yang kaya gini mas yang menyiksa aku , membuat aku melambung tapi setelah aku tau hatimu bukan untukku ,aku seperti jatuh ke jurang yang sangat dalam " batin Rania teriris sembilu
__ADS_1