
Chapter 12. -Berangkat Ke Kota C-
Semua sudah bersiap di meja makan. Alena datang dengan membawa nampan berisi makanan.
Mereka makan dengan lahap. Saat sudah selesai sarapan. Alena hendak pergi tapi di tahan oleh kedua buah hatinya.
"Mama mau pergi kemana lagi?"
Tanyanya Alvin dan Aluna bersamaan. Alena menoleh dan tersenyum.
"Mama izin..., Mama mau keluar kota selama satu bulan. Kalian baik baik ya sayang..."
Jawabnya Alena lalu mencium kening kedua buah hatinya itu.
"Mama kok sering pergi? Mama udah nggak sayang lagi sama Aluna!"
Rengeknya Aluna sembari menangis.
Lalu Aluna berlari ke dalam kamarnya, Alena menyusul dengan cepat sementara Alvin terdiam di tempatnya.
"Tante, apa Mama lebih mementingkan pekerjaannya dari pada main bersama kami? Kenapa mama sibuk banget!?"
Tanya Alvin yang sudah berlinang air mata.
Helena berjongkok, "Mama Alena sedang berjuang demi kalian. Mama sedang mencoba merebut hak yang seharusnya menjadi miliknya agar kalian hidup mewah dan nyaman. Mama Alena mempertaruhkan nyawanya demi kalian..."
Jawabnya Helena dengan lembut. Alvin mengangguk pelan. Sementara, Aluna, dia menangis di dalam kamar.
Alena masuk ke dalam kamar dan duduk di ranjang tidur Aluna. "Aluna sayang..., Maafkan Mama, Mama bekerja siang dan malam untuk kalian. Mama mau kalian hidup mewah dan bahagia. Aluna tolong mengerti nak. Kamu juga akan tahu sendiri.., Sekarang Mama pergi dulu ya. Aluna baik baik di sini bersama Kakak Alvin dan Tante Helena."
Ucapnya Alena menjelaskan panjang lebar. Aluna masih menangis dan Alena sudah kehabisan waktu, dia mencium kening putrinya itu lalu pergi meninggalkan Aluna.
"Mama udah nggak sayang Aluna lagi! Buat apa Aluna punya Mama tapi nggak peduli pada Aluna!!??? Aluna lebih baik nggak punya Mama!! Mama jahat...!!!!"
Teriak Aluna dengan kencang. Hati Alena serasa habis tersambar petir. Air matanya mulai bercucuran tapi dia tetap berjalan meninggalkan Aluna.
Saat berada di ruangan, Aluna berganti mencium kening putranya itu. Dia memeluk Helena sekilas sembari menangis.
"Jaga baik baik Adik Aluna..!!" Pesan Alena lalu pergi menuju mobil dan mengendarainya dengan kecepatan penuh.
Alena mengebut menuju kediaman Grazia untuk mengambil kopernya. Di rumah itu kosong, dan Alena langsung pergi menuju kota C.
Saat sampai di kota C, Alena keluar dari mobil dan datang ke suatu tempat sesuai perjanjian dengan Tn. Bram.
__ADS_1
Flashback On...
Setelah Alena memutuskan untuk menerima tantangan itu, rapat pun berakhir dan semua orang meninggalkan ruangan itu. Sekarang tinggal Alena dan ayahnya yang berada di ruangan itu.
"Jika kau berani datang ke kota C, maka kita bertemu di restoran xxx yang berada di tengah hutan tenggara kota C, pukul 10.00. Jangan Sampai terlambat!"
Ucapnya Tn. Bram sembari meninggalkan Alena di dalam ruangan itu.
"Heh!! Aku pasti akan datang..."
Jawabnya Alena dengan senyuman smirk di wajahnya.
Flashback End...
Alena mencari rute terdekat ke hutan tenggara kota C. Saat sudah sampai, ternyata sisa waktunya hanya 15 menit lagi. Alena bergegas pergi ke dalam restoran itu.
Terlihat jika Ayahnya sedang duduk di dalam satu meja dengan seseorang yang tak asing di hati tapi asing di mata.
"Putriku..., Kemarilah!"
Tn. Bram melambaikan tangannya dan Alena berjalan mendekat.
"Halo..."
Sapanya Alena dengan sopan.
Ucapnya Tn. Bram mempersilahkan.
Alena duduk di tempat yang sudah di sediakan oleh Ayahnya.
"Tuan Muda Wilson, perkenalkan ini anak saya, namanya Alena Grazia. Dan Putri ku, ini adalah Tuan muda Wilson."
Tn. Memperkenalkan Alena dan Tn. muda Wilson.
Tn. Muda Wilson menjulurkan tangannya, "Saya Arga Wilson, senang bertemu dengan Anda." Ucapnya Arga dengan sopan, Alena menerima juluran tangan dari Arga.
"Alena Grazia, senang bertemu dengan Anda juga." Balasnya Alena. Arga menyeringai licik.
"Hallo baby, akhirnya aku menemukan dirimu! Berapa lama kamu menghilang dari sisiku? Kemana kamu pergi selama itu!?" Batinnya Arga menyeringai licik. Alena mencoba melepaskan tangannya tapi Arga memegangi tangannya terlalu kuat.
"Maaf Tuan, apa kamu bisa melepaskan tanganku?" Tanyanya Alena yang masih mencoba melepaskan tangannya.
Arga tersadar dari lamunannya dan langsung melepaskan tangan Alena. "Maaf, Saya tidak sadar!" Ucapnya Arga.
__ADS_1
"Jadi dia orang terkaya se-Asia? Bagus sekali aku bertemu dengannya di sini. Aku akan mendekatinya perlahan lahan." Batinnya Alena tersenyum evil. Sungguh, pasangan yang menyeramkan!!
"Jadi bagaimana jika kita melanjutkan pembicaraan!?" Tanyanya Tn. Bram.
Mereka melanjutkan pembicaraan nya. Admin nggak ngerti masalah tentang bisnis, soalnya admin masih sekolah SMP😂. Mohon maklumi aja lah.
Saat sudah selesai, Alena pulang ke apartemen yang sudah di siapkan perusahaan untuk keperluan tertentu. Dia merebahkan tubuhnya di atas kasur.
"Uh..., Baru sehari juga belum, kok udah kangen sama Alvin dan Aluna ya? Jadi ngerasa nggak enak karena udah ninggalin Aluna..., Sekarang Meraka lagi apa ya?"
Gumam Alena, dia menyalakan ponsel nya lalu membuka galeri foto dan melihat foto fotonya saat bersama dengan kedua buah hatinya itu.
"Ah, sudahlah. Di sana ada Helena sama Baby sitter yang sudah siap menjaga Alvin dan Aluna. Berkas untuk besok belum di siapkan apalagi nanti sore harus pergi memeriksa supermarket yang menjadi misi."
Alena bergegas bangun dan meninggalkan hp-nya di kasur. Dia keluar kamar untuk mengerjakan dokumen dokumen yang harus periksa.
Sementara Alena yang sibuk memeriksa berkas, dia rumah Helena, mereka sedang bersiap-siap untuk video call.
Saat Helena mulai memanggil, tapi tak ada balasan dari Alena. Helena terus memanggilnya beberapa kali, tapi jawaban dari Alena tetap saja.
Aluna yang sudah berada di sana dari tadi mengernyitkan dahinya. Dia menahan amarahnya dan tangisnya. Alvin menyadari bahwa adiknya itu sedang dalam keadaan tak baik.
Alvin memegang bahu Aluna dengan lembut. Aluna tak menghiraukan Alvin.
"Lihat...!! Lihatlah apa yang dia lakukan? Apakah sampai sesibuk itu bahkan kita tak di pedulikan!?"
Ucapnya Aluna marah marah, air matanya meleleh seketika.
"Mungkin Mama Alena sedang sibuk, atau dia sedang rapat. Bisa juga hp nya ketinggalan."
Helena mencoba menenangkan Aluna. Alvin mulai mencemaskan Alena.
"Kenapa Mama nggak angkat telepon dari Tente Helena ya!?"
Batinnya seraya melirik lirih Aluna sang adik. Helena membawa Aluna pergi keluar untuk memenangkan Aluna.
Sekarang tinggal Alvin sendirian di dalam rumah itu.
"Mama maaf. Alvin hanya menjadi beban, maaf Alvin nggak bisa bantu..."
Ucap lirih Alvin seraya menundukkan kepalanya.
Diposisi lain, Alena kembali ke dalam kamarnya dengan membawa secangkir kopi untuk di nikmati. Satu buah laptop yang sudah tersedia di ruangan lain sudah menyala. Dia singgah ke kamar untuk mengambil HP-nya dan memindahkan data data kedalam laptop.
__ADS_1
Saat dia membuka hp nya, ternyata banyak sekali panggilan video tak terjawab dari Helena, di karena dia terlalu sibuk karena sore nanti semuanya harus sudah siap, makanya dia tak memanggil balik.
Alena langsung saja mengerjakan semua berkas yang di berikan perusahaan padanya. Dengan waktu yang sedikit, dia mengetik dengan cepat dan teliti.