Pernikahan Terhangat

Pernikahan Terhangat
Chapter 18. -Sabotase-


__ADS_3

Chapter 18. -Sabotase-


Besok hari itu, langit sangat cerah dan Alena sudah bersiap siap untuk berangkat ke kota A.


Dengan mengendarai mobilnya, dia melaju cepat di atas rata rata. Saat dia memasuki jalanan hutan dengan tikungan tajam, dia hanya menginjak gas.


Alena terus menginjak gas sampai akhirnya ada satu tikungan yang amat sangat tajam dan letaknya tak jauh dari jembatan penghubung antar kota A dan C.


Saat Alena menginjak pedal rem, kenapa kecepatan mobilnya sama sekali tak melambat, kenapa malah semakin cepat?


"Aahhhhh....!!!! Rem-nya rusak. Aahhhhh!!!"


Teriak Alena dari dalam mobil, dirinya panik tapi ntah mengapa senyuman smirk malah terlihat di wajahnya.


Brakkk!!


Mobil Alena keluar jalur dan masuk ke dalam sungai yang berarus deras itu. Sesuai Rencananya, Alena keluar dari mobil diam diam menyebrang sungai itu.


Saat sudah di daratan, dia melihat seorang pria berbaju hitam sedang berdiri menunggunya.


"Hay X."


Sapa Alena dengan santai.


"Huh, jadi apa tugas ku?"


Tanyanya x mengangkat kedua alisnya itu. Alena melirik orang orang bermotor di atas jembatan yang sedang tertawa bahagia.


"Bunuh mereka."


Titah x melalui jam tangannya yang super canggih itu.


Alena masih memperhatikan para pemotor yang sedang tertawa riang di atas jembatan itu, tiba tiba saja pemotor yang memakai jaket berlabel "LUSCENTAI" datang dan langsung menghajar pemotor yang di kirim oleh Tn. Bram.


Ketua mereka melarikan diri sementara anak buahnya sudah mati di tangan pemotor yang sangat di takuti di dunia gelap.


"Terimakasih x, aku harus berterimakasih padamu sebanyak mungkin."


Ucapnya Alena memberikan pujian.


"Sudahlah, kau Terluka karena kejadian tadi. lihatlah jidat dan bibirmu terluka, bahkan tangan kanan mu robek."


Balasnya X lalu menarik Alena dan naik ke motornya. Dan tentunya itu motor sport ya.


"Kemana?"

__ADS_1


Tanya Alena yang duduk menjadi penumpang.


"Melanjutkan perjalanan dan mampir ke rumah sahabatmu."


Balasnya X lalu melesat dengan kecepatan tinggi. Alena hampir terbang terbawa angin karena saking cepatnya x mengebut.


Sebelum sampai ke rumah Helena, Alena dan X sempat singgah ke toko ice cream untuk membeli beberapa ice cream.


Saat sudah sampai di rumah Helena, mereka masuk ke dalam, tapi rumah itu kosong melompong.


"kemana Helena dan anak anak?"


Tanya Alena sembari memeriksa seluruh ruangan.


"Sepertinya mereka ada di ruangan atas."


Jawabnya X sembari berjalan ke lantai atas lalu Alena mengikutinya dari belakang.


Benar saja, mereka ada di ruangan atas. Saat Helena dan anak anak menolehkan kepalanya ke arah Alena yang berlumuran darah, mereka berlari dengan keadaan cemas.


"Mama, hiks!!! Kok bisa gini? Mama kenapa?"


Tanyanya Aluna dan Alvin dengan beruntun. Helena menepuk jidatnya.


"Jadi ini yang kau sebut rencana? Bodoh! Ku kira rencana mu akan sangat baik, tapi kenapa malah membuat dirimu terluka?"


Alena tersenyum cengengesan. Dirinya tahu bahwa sifat cerewet Helena akan muncul jika Alena sakit atau pun terluka.


"Cepat duduk. Aku akan membersihkan luka mu lalu membalutnya dengan perban."


Helena mengajak Alena duduk di sofa lalu mengambilkannya air hangat untuk mengompres luka memar karena benturan saat di mobil.


Saat sudah mengompres luka memarnya, Helana bergilir membersihkan luka Alena yang terbuka. Alena meringis menahan sakit sementara Alvin dan Aluna di ajak jalan jalan oleh x untuk menenangkan rasa khawatir mereka.


"Sakit..., Aduuhhhh!!! Pelan pelan dong!"


Keluh Alena meringis kesakitan.


Helena yang geram karena sahabatnya itu terlalu ceroboh tak mendengarkan keluhan sang sahabat.


"Aduuhhhh...!!! Sakit!! Kau ini dokter atau Psyco Path!?"


Kesal Alena karena Helena merawatnya agak kasar. Jelas saja jika Helena melakukan itu karena itu juga salah Alena yang telah membuatnya khawatir.


"Kau ini ceroboh. Tak pernah melakukan hal dengan benar. Biarlah rasa sakit ini menjadi pelajaran untuk mu, supaya kau bisa menghargai perasaan orang lain!"

__ADS_1


Balasnya Helena dengan kesal, Alena terdiam seketika dan tersenyum walaupun sedang merasakan sakit.


"Terimakasih kau sudah menjaga ku."


Ucapnya Alena tersenyum getir.


Saat Helena sudah selesai membalut luka Alena, dia pergi untuk membuang bekas air yang sudah berwarna merah karena darah Alena yang cukup banyak.


"Sekarang masih pukul 09.19. aku masih mempunya waktu."


Gumam Alena seraya berdiri lalu berjalan menuruni tangga.


* Sementara itu, di rumah keluarga Sanjaya.


"Apakah bocah sialan itu sudah lenyap dari dunia ini?"


Tanyanya Tn. Bram sembari mondar-mandir kesana kemari.


"Tenanglah suamiku, mungkin bocah itu sudah di makan habis oleh ikan ikan predator yang ada di sana."


Ucapnya Ny. Rika mencoba menenangkan suaminya itu. Di sisi lain, Arnon sedang di kurung di kamarnya dengan keadaan tangan dan kaki di rantai.


"Lepaskan aku!! Kalian semua biadab!! Cepat lepaskan aku..!!! Kalian semua memang binatang! Lepaskan aku!!!"


Teriak Arnon yang meronta-ronta minta di lepaskan. Diri nya sangat tersiksa dengan keadaan itu .


"Lepaskan aku...!! Apa kalian mendengar suara ku? Ku bilang lepaskan aku!!!"


Teriak Arnon, tiba tiba saja jendela kamar Arnon terbuka dan seseorang sedang berdiri di sana.


"S-siapa kau!? Ma-mau apa kau di situ??"


Tanya Arnon terbata bata saking takutnya, jelas dia takut karena dirinya tak bisa berbuat apa apa jika sesuatu terjadi pada dirinya.


Pria itu tak menjawab tapi malah berjalan mendekati Arnon, tiba tiba saja dia melepaskan rantai yang mengikat tangan dan kaki Arnon.


"Kau tak perlu tahu siapa aku. Cepat naiklah ke punggung ku."


Ucapnya pria misterius itu sembari membungkukkan badannya.


"Ta-tapi...,"


Kata Arnon terpotong.


"Aku bukan orang jahat. Aku ke sini untuk membantumu."

__ADS_1


Potongnya si pria yang masih membungkukkan badannya. Arnon terdiam sejenak dan terdengar langkah kaki yang berjalan mendekat, tanpa ragu Arnon langsung naik ke atas punggung pria itu.


Hal nekad di lakukan oleh pria itu, Arnon terbelalak saat pria itu melompat gedung ke gedung tanpa alat bantuan sedikitpun yang menempel di badannya terkecuali sarung tangan khusus.


__ADS_2