
Akhirnya kelima orang itu bisa keluar dari kuali, tapi kenapa hanya Sean yang tak sadarkan diri? Keadaan Marquez semakin tak terkendali saat mengetahui jika asistennya itu melindungi dirinya dari racun dan akhirnya dia yang terluka parah.
"Bagaimana mungkin? dia pingsan bersama kami."
Tukas nya Marquez menjelaskan, "Anda tidak tahu jika pria itu sempat melindungi anda." Balas pria yang membantah penjelasan Marquez.
"Tidak mungkin. Itu tidak mungkin." Bantahnya Marquez. Tiba tiba sebuah tangan mendarat di pundak pria itu, "Jangan berbesar kepala, tidak semua yang kau ketahui itu benar." Zhuge Liang beralih pergi setelah mengatakan itu.
"Akhhh.... Shhh." Erang seseorang yang tak lain di telinga Marquez, "Kau sudah sadar?" tukasnya Marquez bertanya, pria yang baru sadarkan diri itu tak langsung menjawab, dia terdiam beberapa saat untuk mencerna apa yang di katakan tuannya.
"... mmm, iya." Jawabnya Sean tak berani mengangkat dagu. Marquez membalikkan badannya lalu berkata, "Baguslah. Kau sembuhkan dirimu, setelah itu kita pulang."
Marquez berlalu pergi setelah mengatakan hal itu. Setelah Marquez pergi, Sean mengangkat dagunya tinggi.
"Apakah dia membenciku?" Pikirnya Sean dalam hati seraya melihat punggung Marquez yang semakin menghilang. Tapi seseorang datang masuk ke dalam itu.
"Tuan, kata tuan yang keluar tadi anda sudah sadar, " Ucap gadis perawan yang masuk ke dalam kamar itu, "makanlah sup ini agar anda lebih cepat pulih." Sambungnya seraya meletakkan semangkuk sup di atas meja.
Sean hanya bisa melihat apa yang di bawa gadis itu. Dia berfikir siapa pria yang memberi tahu bahwa dirinya sudah sadar, apakah itu Marquez!? "Siapa yang memberi tahu mi bahwa aku sudah sadar?" Tukasnya Sean membuka pembicaraan.
Gadis itu membalikkan badannya menghadap ke arah Sean, "Tuan yang memakai jaket hitam." Jawabnya gadis itu ramah. Sean terlihat mengangguk kecil.
Gadis itu kembali berbalik dan menyiapkan sup itu untuk di berikan kepada Sean, "Siapa namamu?" Sahutnya Sean penasaran. Gadis itu hanya tersenyum, "Putri." Jawabnya singkat gadis yang bernama Putri itu.
Sean terlihat tersenyum kecil, "Aku Sean, senang bertemu dengan mu." Tukasnya Sean ramah, gadis itu tersenyum tanpa membalikkan badannya. Dia membawa sup dan duduk di sebelah Sean.
"Ini, aku menyiapkan ini untuk mu. Minumlah." Pintanya Putri sembari memberikan semangkuk sup herbal itu. Dengan gerakan pelan, Sean menerima mangkuk itu.
__ADS_1
"Terima kasih." Ucapnya Sean ramah lalu perlahan-lahan dia memakan sup itu. Gadis tadi bangkit dan pergi meninggalkan tempat itu.
*Di sisi lain, Alena sedang berada bersama Marquez sembari mengobrol kecil.
Alena sedang berjalan berdampingan bersama dengan Marquez, "Kita akan kembali kapan?" Tanyanya Alena di sela sela langkah kakinya. Marquez menolehkan kepalanya, "Mungkin besok atau beberapa hari lagi." jawabnya singkat.
Tiba tiba seseorang datang menghampiri kedua orang yang sedang berbincang-bincang itu.
"Hey, apa kita tidak jalan jalan?" Tanyanya Louise sembari menyamakan langkah kakinya dengan Alena dan Marquez. "Ini juga sedang berjalan bodoh." ejeknya Marquez yang membuat Louise menatap sinis dirinya itu.
"Memang siapa yang berbicara denganmu?" bantahnya Louise sembari menekuk keningnya dalam, "Lalu kau bertanya pada hantu?" sindirnya Marquez.
Terdengar samar samar jika Louise menghela nafas beratnya. "Aku pergi, tak ada gunanya berdebat dengan orang yang keras kepala seperti mu." Ucapnya Louise balik menyindir. Marquez mengepalkan tangannya kuat kuat dan berniat menahan amarahnya itu.
"Dasar gila." Omelnya Marquez menggerutu. Alena hanya terkekeh kecil, "Apa yang kau tertawakan?" Tukasnya Marquez datar, tiba tiba seseorang menghampiri mereka lagi.
"Apa kau berkata padaku?" Datarnya seseorang yang membuat Marquez menelan saliva-nya bulat bulat. "Zhuge Liang..." Pekiknya Marquez sembari tersenyum canggung.
Pria itu membalikkan badannya, "Ha... Haha, aku kira kau Louise..." Jelasnya Marquez, "Aku bukan si idiot itu ya." Balasnya Zhuge Liang datar. Tiba tiba seseorang menyahut...
"Aku mendengar itu! Jangan membicarakan diriku!" Teriaknya Louise memperingati. Ternyata dia berada di meja yang tak jauh dari tempat Alena dan yang lainnya bergosip.
"Maaf, aku harus pergi." Alena berlalu pergi meninggalkan tempat itu dan hendak mencari tempat yang tenang untuk menenangkan diri.
...----------------...
Alena sekarang sudah berada di tempat yang agak jauh dari tempat yang tadi. Dia akhirnya bisa menghela nafas panjang nya itu.
__ADS_1
"Aku rindu dengan anak anakku." Ia menjeda dengan tatapan yang sudah berlinang air mata, "Alvin dan Aluna..." sambungnya lagi. Tanpa sadar, air mata sudah mengucur deras membasahi pipinya.
"Mereka juga anak anakku." Sahutnya seseorang yang keluar dari balik pohon. Hal itu membuat Alena terkejut tapi Alena berusaha untuk tidak menolehkan kepalanya, "Ada apa kau kemari?" Tanyanya Alena datar.
Tiba tiba pria itu mendekati Alena, "Mereka anak anakku," Ia menjeda perkataan sembari melingkarkan tangannya di pinggang ramping nan seksi Alena, "Mereka adalah darah dagingku." Tukasnya lagi.
Alena langsung menepis tangan itu dan menjauhi Arga, "Jangan sentuh Aku. Aku sudah mempunyai suami." Alena mencoba menjaga jarak dari Arga sebisa mungkin.
"Akulah suamimu." Tukasnya Arga mencoba meyakinkan. Gadis itu terlihat memasuki dalam pose berfikir, tapi sesaat kemudian, Alena berkata sembari berteriak, "Tidak!! Rara dan Ny.Rika tidak sebodoh itu menjual diriku kepada orang kaya seperti mu! Itu tidak mungkin!"
Arga terlihat menghela nafas panjangnya sesaat. Dia terlihat sudah putus asa karena Alena terus membantah dan menolak saat dirinya mengakui bahwa hubungan mereka yang sebenarnya adalah sebagai suami istri.
"Tapi jika mereka menjual mu, maka orang kaya lah yang akan membeli dirimu, tidak mungkin orang miskin karena dari mana mereka akan mempunyai uang yang sangat banyak hanya untuk mendapatkan gadis cereboh seperti mu?"
Alena terdiam mendengar perkataan Arga, "Orang yang membeliku bukan diri mu, tapi orang dari marga Lian." Alena mencoba meyakinkan Arga untuk yang kesekian kalinya dia berkata.
Arga menundukkan kepalanya putus asa, "Apa kau begitu percaya bahwa pria itu yang menikah denganmu?" Tanyanya Arga pada gadis yang berada di depannya itu.
Alena hanya bisa berdengus kencang, "Kau mungkin tak akan percaya." Alena menjeda kata katanya itu sembari menundukkan kepalanya, "Kau tak akan percaya bahwa aku adalah wanita paling bodoh yang menikah dengan pria tua itu."
Mendengar perkataan itu, Arga langsung bergerak cepat dan langsung menarik Alena ke dalam pelukannya, "Jangan berkata seperti itu. Sudah ku bilang, aku pria yang kau nikahi. Kau bukan wanita bodoh!" Tukasnya Arga menjelaskan.
Lalu... Cupp!!
Sebuah ciuman mendarat di bibir Alena. Sontak, hal itu membuat gadis tak berdaya itu terbelalak. Arga tak begitu saja melepaskan ciumannya, mereka berciuman cukup lama meskipun Alena sudah berusaha memberontak.
...~Bersambung~...
__ADS_1
Author berbicara; Bantu saya. Setidaknya bantu like. Apa kalian tidak kasihan pada saya yang berfikir keras untuk menciptakan alur yang bagus dan memuaskan kalian. Saya ingin membantu orang tua saya melalui ini. Setidaknya, jika saya masuk rank vote 10 besar, maka saya akan mendapatkan penghasilan. Saya hanya ingin membantu orang tua saya, kalian tolonglah bekerja sama, jangan cuma ngasih komentar nyindir. Saya bisa lho lebih tajam dari kata kata sindiran anda. Jika tidak percaya, anda bisa tanya pada orang orang dulu pernah menjadi pembaca setia saya di akun sebelumnya. Saya harap kalian mengerti.