
Seusai makan, mereka pulang. Tapi sayangnya ban mobil mereka bocor dan terpaksa harus menunggu taxi.
"Ban mobilnya bocor. Kita harus menunggu di sini, Mama akan cari bengkel dulu, ya?"
Ucapnya Alena seraya melihat kesana kemari. Dia berusaha mencari bantuan tapi tak ada pergerakan karena tempat itu adalah pedesaan jadi tidak ada sinyal.
"Baik Mam, tapi jangan lama lama ya. Aluna takut di sini..."
Jawabnya Aluna.
Dan Alena langsung pergi meninggalkan tempat itu untuk mencari bengkel montir terdekat. Sementara anak anak menunggu di tempat tadi.
Beberapa saat telah berlalu, tapi Alena belum juga kembali, hal itu membuat anak anak merasa cemas dan ketakutan. Bagaimana tidak? mereka hanya berdua di tempat yang sepi tanpa di dampingi oleh orang tua.
"Kakak, Mama kok lama banget ya? Luna takut."
Rengeknya Aluna yang merasa ketakutan sementara Alvin juga merasakannya tapi dia terus menutup nutupi hal itu.
"Tsk! Jangan cengeng ah!"
Alvin mencoba terlihat pemberani di depan adiknya agar Aluna merasa tenang.
Mereka duduk di samping mobil dengan perasaan khawatir. Aluna memeluk boneka kesayangannya. Dia memeluk boneka itu begitu erat. Sementara Alvin hanya bisa mengepalkan tangannya yang sudah gemetaran tanpa henti.
"Oh astaga. Hutan ini sangat menakutkan. Mama cepat kembali, Alvin takut."
Umpat Alvin dalam hati kecilnya.
"Kakak, Mama mana sih? Aluna pengen cari Mama, hiks..."
Isak Aluna yang menangis saking takutnya berada di sana.
"Jangan nangis ku bilang! Mama juga bentar lagi pasti balik kok."
Tegas Alvin mencoba menenangkan Aluna, tapi bukannya berhenti menangis, malahan tangis Aluna semakin keras.
"Huaaaa...., Kakak Alvin jahat banget sih! Aluna kan jadinya takut. Hiks... Mama!!"
Isak Aluna berteriak. Alvin semakin tak tahu harus menghadapi adiknya seperti apa.
"Ih..., Cup cup cup. Kak Alvin minta maaf ya? Kak Alvin nggak akan seperti itu lagi deh. Jangan nangis ya?"
Bujuk Alvin seraya mengelus elus punggung sang adik.
"Hiks..., Kak Alvin jahat! Aluna pengen Mama!!!!"
__ADS_1
Isak aluna semakin keras.
"Yakin nih pengen sama mama?"
Sahut seseorang yang tak asing di telinga kedua anak itu.
"Mama!"
jawabnya kedua anak itu seraya berlarian hendak memeluk Alena. Terlihat jika seseorang pria berpakaian seperti montir
"Loh, kok Aluna nangis. Alvin, adikmu kenapa? Kok nangis kayak gini!?"
Tanya Alena seraya mengusap air mata di pipi Aluna.
"Alvin nggak apa apain kok, Aluna aja yang cengeng!"
Ketus Alvin seraya melirik malas sang adik.
"Huh, dasar kakak tidak berperasaan!"
Kesalnya Aluna membalas kakaknya. Mereka seperti sedang ngambek ngambek manja.
"Ahhh!! Kalian cute banget meski sedang cemberut. Ututu, anak anak mama."
Alena yang gemas dengan tingkah kedua buah hatinya itu pun mencubit pipi sang buah hati dengan lembut.
Mereka melaju di kecepatan rata rata. Alvin dan Aluna duduk berjauhan karena mereka sedang ngambek. Yang pasti bentar lagi baikkan ;b.
Mobil mereka melanju melalui sebuah taman yang di penuhi anak anak dengan tawa riang gembiranya bersama kedua orang tuanya. Alvin dan Aluna hanya melihat anak anak yang sedang bermain itu dari dalam mobil.
"Mama, Aluna pengen punya papa. Cuma Aluna dan kak Alvin doang yang nggak punya papa, sebenarnya, papa kemana sih mam!?"
Ucapnya Aluna membuat hati Alena bergetar. Matanya hendak mengeluarkan air mata mengingat hal buruk yang terjadi pada malam yang gelap itu.
Alena yang tertegun itu tak memperhatikan jalanan depan dengan benar sehingga hampir keluar jalur berkendara.
"Mama awas!!! Ada pohon di depan!"
Teriak Alvin seraya memperingati Alena. Sang ibu yang terkejut dengan teriakan anaknya langsung membelokkan kemudi mobilnya.
"Hah...! Hah!!"
Nafas Alena terngengah engah karena kaget. Alvin dan Aluna membernarkan posisi duduknya karena belokkan mendadak tadi membuat mereka bergeser.
"Mama, Mama kenapa? Apa ada masalah?"
__ADS_1
Tangannya Alvin seraya melihat wajah Alena dari pantulan kaca spion di dalam mobil.
Terlihat jika Alena sedang terkejut dan matanya masih terbelalak.
"Mama..."
Panggilnya Aluna yang membuat Alena seketika menoleh ke belakang.
"Ya sayang? Ada apa?"
Balasnya Alena seraya menolehkan kepalanya ke belakang namun dengan keadaan menyetir mobil.
"Papa mana, mam? Semua teman teman Aluna mempunyai papa, tapi kok papa Aluna nggak ada!? Aluna pengen punya papa."
Rengek Aluna dengan suara lirih. Hal itu membuat Alena tertegun lalu menolehkan kembali kepalanya ke arah depan.
"Papa ya? Kalian tidak perlu papa! Mama saja sudah cukup. Dan tolong jangan bahas soal papa kalian lagi!"
Tegasnya Alena dengan tatapan benci. Sementara kedua anak yang berada di kursi belakang itu saling bertukar tatapan keheranan.
*Arga pov.
Pria itu sedang berada di kamarnya yang besar. Seraya berbaring di kasurnya, dia melihat keluar jendela. Menghela nafas beratnya dan memejamkan matanya.
"Masalah tentang keluarga ku belum selesai. Aku harus mendapatkan istri dan anak anakku, tapi masalah Ara juga tak kalah pentingnya. Harus ku selesaikan yang mana dulu kah!? Aku pusing!"
Gumam Arga seraya memejamkan matanya. Pikirannya sudah kacau dan pusing, bagaimana tidak? Pria itu sudah di sibukkan dengan urusan kantor, apa lagi sekarang, istri dan anak anaknya sudah di temukan tapi belum tinggal bersama, kini di tambah masalah pernikahan paksanya dengan nona keluarga Frank, bahkan adiknya pun ikut membuat kepalanya pusing dengan sikap keras kepalanya itu.
"Arrgghhh!!! Aku pusing. Sepertinya butuh refreshing. Tapi kemana, ya?"
Arga terbangun dan posisinya dan duduk tegak dengan keadaan kacau.
"Tidak. Aku tidak butuh refreshing. Pekerjaan kantorku sudah menumpuk, bagaimana aku bisa liburan begitu saja..."
Pria itu akhirnya membuang pikiran untuk refreshing nya. Dia berjalan ke arah ruang kerja yang berada di sebelah ruangan Kamarnya.
Saat sudah di ruangan kerja, dia duduk di bangku kerjanya dan melihat data data perusahaan. Tapi, Arga sedari tadi belum makan jadi perutnya terasa sakit. Sepertinya penyakit maag-nya kambuh lagi. Tapi karena Arga jarang makan jika waktu kerja sibuknya di kantor, makanya maag-nya sudah di katakan sudah kronis.
"Akhhh!!! Perutku sakit sekali. Dimana obat maag-ku!?"
Pria itu memaksakan dirinya mencari obat maag di setiap sudut ruangan itu.
Beberapa saat kemudian, Arga belum juga menemukan obat maag itu. Dia meringis kesakitan menahan sakit maag-nya itu. Sungguh sangat kasihan.
"A-aku lupa ji-jika, jika obat maag-nya berada di kamar... ku."
__ADS_1
Wajah pria itu sudah memucat dan bibirnya sudah bergetar akibat menahan sakit yang luar biasa di dalam lambungnya. Tapi dia tetap memaksakan diri untuk mencari obat itu ke kamarnya.
...----------------...