
Kapal besar itu perlahan-lahan di lahap oleh ganasnya air laut. Marquez, Louise dan Zhuge Liang serta para tamu yang lain terkaget-kaget bukan main dan berlarian kalang kabut untuk melindungi diri. Marquez yang teringat akan sang adik langsung berdiri dan pergi ke lantai dua.
"Bantu aku mencari adikku! Cepat!"
Teriaknya Marquez di tengah tengah langkahnya. Seketika, kedua sahabatnya itu langsung pergi menaiki tangga untuk ke lantai dua dan memeriksa seluruh ruangan.
Langkah mereka bertiga berhenti saat melihat satu kamar dengan pintu yang rusak akibat di buka paksa. Perasaan Marquez sudah tak enak saat melihat ruangan itu, dia langsung berlari dengan di ikuti oleh kedua sahabatnya itu.
Mata Marquez terbelalak melihat seorang pria yang sedang di sekap dan wanita yang memakai gaun putih sedang menjambak rambut gadis di sebelahnya serta kehadiran sesosok pria yang tak asing baginya.
"Apa apaan ini!?"
Teriaknya Marquez dari arah pintu, hal itu membuat Alena menoleh ke belakang. Alena dengan mata terbelalak nya yang tak kalah lebar dari Marquez itu terkejut.
Saat kedua sahabatnya Marquez datang, Jenny langsung mengambil pisau dari saku kecil yang berada di bawah kakinya. Untuk keadaan darurat seperti ini, Jenny akan melakukan apapun.
Seusai mengambil pisau itu, Jenny langsung menodongkan nya ke leher milik Ara. Zhuge Liang yang baru sampai itu tak bisa mengambil nafas lega. Malah, dia mendapati bahwa gadis yang sedang dalam bahaya itu adalah pacar mendadaknya.
Baru saja Zhuge Liang melangkahkan kakinya masuk ke dalam, Jenny sudah menggoreskan pisaunya di leher putih Ara. Sontak hal itu membuat Ara meringis kesakitan.
"Jangan mendekat, atau gadis ini akan mati!"
Ancamnya Jenny seraya berjalan mundur dengan membawa ara sebagai tawanan.
Krakkk!!
Arga yang menyaksikan itu tak hanya tinggal diam. Dia juga berusaha melepaskan diri nya dari rantai yang mengikatnya. Pada akhirnya, dia berhasil melepaskan rantai itu diam diam.
Duakk!!
Arga tiba tiba bangun dan menendang tangan Jenny sekuat tenaganya. Jenny menoleh ke arah Arga karena pisau di tangannya tiba tiba melayang.
Melihat ada kesempatan, Zhuge Liang maju dan menahan Jenny. Tapi keadaan kapal semakin buruk. Kapal mewah itu sudah miring sebelah membuat semua perabotan yang ada di kamar itu berjatuhan.
"Ahhhh!!!"
Terdengar teriakan-teriakan yang sangat nenggema di telinga. Tapi, keadaan kacau yang berada di sana tidak lenyap begitu saja.
"Ayo kita pergi! apa kalian mau mati di sini?"
Teriak Marquez dengan wajah paniknya.
Lalu, semua orang langsung pergi meninggalkan kamar itu, sementara di bawah, keadaan sangat kacau.
__ADS_1
Marquez menekan tombol pada alat komunikasi yang di pasang di telinganya.
"Kirimkan helikopter sekarang!"
Titahnya Marquez dengan nada tinggi di tengah tengah berlarinya.
Krakkkk!!!
Kapal pesiar itu semakin miring, sekarang hanya tinggal beberapa menit lagi untuk kapal besar itu di telan ombak. Marquez mengarahkan para sahabatnya dan adiknya untuk mengikuti dirinya.
Akhirnya mereka sampai di luar Kapal itu. Mata Marquez berkeliling memeriksa keadaan sekitar.
Za..!!! Za!!! Za!!!
Suara helikopter sudah terdengar. Kini pandangan Marquez teralihkan ke arah suara itu. Terlihat jika helikopter sudah berada di atas.
Lalu, salah satu dari helikopter itu menurunkan tali untuk Marquez naik ke atas. Marquez, Loise, Zhuge Liang, Ara, dan Arga sudah naik ke atas helikopter, kini tinggal Alena yang berada di dalam kapal itu.
"Maaf tuan, helikopter ini hanya muat untuk 7 orang tuan."
Lapornya salah satu anggota LUSCENTAI yang mengemudikan helikopter.
"Apa!?"
Ucapnya Marquez dengan mata terbelalak.
"Menunggu atau menyelam!?"
Gumam Alena seraya melihat lautan lepas dan helikopter yang sudah terbang secara bergantian.
"Kalau aku mati di sini, kasus kematian ibuku tak akan pernah berakhir, dan juga..., demi kedua anak anakku!"
Ucapnya Alena seraya mempersiapkan diri. Tanpa hitungan aba aba, dia langsung berlari dan melompat dari atas kapal besar itu.
Byurrr!!
Terdengar suara cipratan sampai ke atas, hal itu sontak membuat Marquez, dan Arga kaget lalu melihat ke bawah. Mata keduanya terbelalak saat melihat Alena yang sedang bersusah payah berenang.
"Turun segera!"
Teriak Marquez, tapi helikopter tak segera melakukan teriakan dari Marquez.
"Maaf tuan, kita tidak bisa begitu saja berputar arah karena sebentar lagi badai akan datang."
__ADS_1
Ucapnya salah satu bawahan Marquez yang menolak perintah dari bos nya itu.
"Apa kau payah!? Aku ingin menyelamatkan dia karena sebentar lagi badai akan datang! Putar haluan dan turun ke bawah!!!"
Kini Marquez berteriak semakin keras, tapi, tiba tiba saja Arga melakukan hal nekad. Dia terjun dari helikopter yang sudah berada jauh di atas.
"Sungguh wanita yang membuatku penasaran."
Gumam Arga seraya tersenyum kecil, dan....
Byuurrrrr!!!
Suara cipratan air kini terdengar kembali. Arga berenang secepat mungkin untuk sampai ke tempat Alena berada.
Sementara di sisi lain, Alena yang tidak bisa berenang karena kakinya sudah merasakan keram hampir tenggelam.
Blupp!! Blupp!! Bluppp!!
Suara nafas Alena di dalam air. Dia membuang nafasnya dan tentunya kini dia sudah kehabisan nafas untuk bertahan. Pandangan nya mulai hilang tapi terlihat remang remang jika seseorang datang menyelam.
Alena menjulurkan tangannya hendak meminta pertolongan tapi dia tak bisa berbicara. Pandangannya semakin kabur dan kabur.
"Selamatkan aku..."
Batinnya Alena sebelum dia kehilangan kesadarannya. Arga yang berhasil menangkap tangan Alena langsung menariknya ke dalam pelukan.
"Gadis yang bodoh! Kau kira aku tak akan mengetahui dirimu?"
Pikirnya Arga lalu mendekatkan wajahnya ke wajah gadis yang tak sadarkan diri itu.
Arga mencium bibir Alena untuk memberikannya nafas lalu setelah itu dia membawa Alena ke permukaan laut dan hendak mencari pertolongan.
"Tolong...!!!"
Teriaknya Arga dengan sekuat tenaga. Tapi apa yang di hasilkan oleh nya? Tidak ada! Semua orang tak mendengar teriakannya itu.
Beberapa saat telah berlalu, masih juga tak ada pertolongan yang bisa menyelamatkan Alena dan Arga. Mereka masih berada di tempatnya.
Ctarrr!! Gelegar!!
Suara petir saling bersahutan yang di iringi hujan deras. Keadaan semakin buruk karena ombak semakin deras seiring berjalannya waktu.
...----------------...
__ADS_1
Hai, ini Author... Saya mohon, tolong kalian bantu Like dan Vote. Saya mohon, saya juga butuh pendukung.
Kalian tahu? Saya sudah berkali kali bolos demi kalian, saya butuh bantuan kalian. Saya mohon, setidaknya bantu like dan vote. Tolonglah, jika seandainya saya tidak up, tolong kalian maklumi, saya juga punya kesibukan tersendiri. Sebenarnya saya kadang tidak bersemangat menulis cerita, tapi saya tetap memaksakan diri.