
Helena dan Teo kembali berbincang bincang setelah Angga pergi. Tapi siapa yang tahu bahwa Angga diam diam mengikuti Helena dan Teo. Tentunya dia diam diam mengikuti mereka, kalau tidak menguping pembicaraan kan rugi.
"Helena, aku mau jujur dengan mu," Teo berhenti melangkah. Angga seketika langsung menajamkan pendengarannya agar tak salah denger. Memang apa yang mau di katakan oleh Teo sehingga membuat dokter terhebat menguping? Batin Angga tak sabaran.
"Ada apa?" Tanyanya Helena, Teo sedikit murung. Dia nampak mempunyai masalah. Sebenarnya ada apa? Angga dari belakang hanya diam saja. Sebenarnya dia ingin sekali menghajar Teo. Angga menahan amarahnya sekuat tenaga, ia harus tahu sebenarnya apa yang ingin di sampaikan Teo.
Di sisi lain, Teo memegang tangan Helena dengan lembut, "Aku sudah mempunyai tunangan... Maafkan aku, Helena." Teo memohon sembari bertekuk lutut di hadapan Helena. Astaga, ingin sekali kakiku di ayunkan dan mengenai wajah si cabul itu, batin Angga merasa kesal.
Helena terdiam, dia tersenyum kecil, "Selamat. Semoga kau bahagia Teo," Mimik Teo nampak heran. Kenapa Helena tak merasa cemburu? Ah sudahlah, mending aku menanyakannya langsung. "Kau tidak cemburu?" Seru Teo cepat. Astaga, dia sangat narsis. Jelas jelas Helena sudah mempunyai diriku! Geram Angga dari belakang.
"Aku tak cemburu, aku bahagia karena kau memiliki tunangan," Balasnya Helena. Tapi rasa sakit di hati kecilnya sedikit terasa. Bagaimana pun, Teo adalah sahabatnya dari kecil dan dia sudah memiliki sedikit rasa untuknya, tapi bagaimana lagi? Teo sudah memiliki tunangan.
"Helena, jujurlah padaku. Apa kau mencintaiku? Atau kau mencintai pria tadi?" Tanya Teo. Mereka berdua masih tak menyadari keberadaan Angga yang sedang menguntit di belakang. Sungguh, mata mereka berdua katarak.
__ADS_1
"Aku sebenarnya mencintaimu, tapi hanya sebatas sahabat. Dan jika kau tanya aku mencintai Angga atau tidak, jawabannya mungkin iya. Karena tekad menjadi dokter ini ku dapatkan darinya," Jelas Helena panjang lebar. Astaga, Hatiku merasa akan pecah! Pikir Angga girang. Tanpa di ketahui tangannya menyenggol sesuai.
Prangg!!
Suara benda pecah itu membuat kedua orang yang tengah berhadapan menoleh kebelakang. "Sejak kapan kau di sana?" Tanya Helena kaget. Angga hanya tersenyum lebar. Dia berjalan mendekati Helena dengan bahagianya, "Sedari tadi..." Jawab Angga riang gembira.
"Hey kau, minggir! Dia calon istriku. Pergi kau Pria aneh!" Usir Angga pada Teo. Helena mengernyitkan keningnya dalam. "Angga! Kau jangan seenaknya!" Tegur Helena.
"Ah, ayolah... Kau sebenarnya menyukaiku kan? Mengakulah, aku sudah tahu semuanya," Goda Angga. Helena memutar bola matanya malas. Dia langsung menarik Angga pergi meninggalkan Teo. Mereka masuk ke dalam kamar yang sudah di siapkan. Dimana anak anak? Ah mereka sedang bermain dengan anak anak lainnya.
Phak!
Tangan Helena mengunci pergerakan Angga pada tembok. "Apa yang kau lakukan?" Tukasnya Angga bertanya. "Apa kau gila?" Sahutnya Helena kesal. Memang apa yang sudah kulakukan? Batin Angga mengingat-ingat.
__ADS_1
"Kau sudah membuat ku malu di hadapan publik berkali kali!" Geramnya Helena.
Huh!
Angga tersenyum menyeringai. Dia balik mengunci Helena. Sekarang dirinya yang tengah mengunci pergerakan dari gadis tadi. "Woah... Helena Shen, Aku sangat senang saat kau mengakui bahwa kau mencintaiku,"
Helena mengernyitkan dahi, "Lalu," Timbalnya Helena. Angga langsung berjongkok di hadapan Helena mengeluarkan sesuatu dari kantung sakunya. Kotak merah di genggam oleh Angga setelah ia memasukkan tangannya ke dalam saku.
Angga membuka kotak merah itu, mata Helena terbelalak saat melihat benda berkilau di dalamnya, "Mutiara Safir Putih dengan motif mawar berlian merah yang khusus di buat untuk istri penerus keluarga Brayen! Astaga, aku tak menyangka akan melihatnya secara langsung!" Ucapnya Helena tak percaya.
"Kau bukan hanya akan melihatnya, tapi juga kau yang akan mengenakan," Jelasnya Angga. Helena masuk kedalam pose berfikir. Sungguh gadis ini tak mengerti apa apa!
"Helena Shen, Aku Angga Brayen bertekuk lutut di depanmu, Aku melamar mu dengan sepenuh hatiku, Hari ini dan detik ini dengan Cinta sebagai landasan, aku akan setia kepadamu. Apakah kau bersedia menikah dan menua bersamaku?"
__ADS_1
Kalimat demi kalimat terucap lantang dari bibirnya. Helena masih melongo tak percaya. Tapi bukannya menerima, Helena malah melarikan diri dari Angga.