
Chapter 29. -Kekesalan Arnon-
Apa kalian bisa menjelaskan alur cerita ini kenapa terlalu cepat. Atau karena saya terlalu ngebut? Silahkan tanya di kolom komentar, saya akan jawab nanti. Selamat membaca. Maaf jika karya nya banyak typo atau nggak menentu alurnya. Saya masih pemula, mohon dukungan kalian.
...----------------...
Akhirnya Arnon Sampai di depan ruangan bangsal Alena. Dengan nafas terengah engah nya dia berusaha masuk kedalam.
"Kakak..., Huft, hah!!"
Panggil Arnon dengan nafas terengah engah. Dia membuka pintu bangsal dan melihat jika Alena, dan X sedang berbincang bincang.
Sementara itu, Helena pergi beberapa saat sebelum Arnon datang, untuk membersihkan pakaiannya yang sudah berlumuran darah saat dia memeluk tubuh Alena.
Kedatangan Arnon yang membuat Alena dan X kaget bukan main itu menoleh.
Arnon melangkahkan kakinya masuk kedalam dan mencoba menenangkan dirinya.
Nafasnya yang terputus-putus kini mulai teratur Kembali. X mengambil air untuk di minum oleh Arnon.
Seusai Arnon meminum air, dia meletakkan gelas nya di meja yang tak jauh dari tempatnya. Alena beranjak berdiri dan berjalan mendekati Arnon.
"Ada apa? Kenapa kau begitu terburu buru!? Tenanglah sebentar..."
Alena mencoba menenangkan Arnon lebih dalam lagi. Dia mengelus-elus punggung Arnon dengan lembut.
"Huh..., Apa yang telah kau lakukan kepada Ayah, ibu dan kakak?"
Tanya Arnon seraya menatap Alena, dia mengercitkan dahi nya.
"Aku hanya menghukum mereka. Memang ada apa kau tiba tiba menanyakan itu?"
Ucapnya alena bertanya balik, Arnon tertegun sejenak.
"Di mana ibuku? Di mana kakakku? Dan Ayah, apa dia juga masuk rumah sakit?"
Tanya Arnon lagi, kali ini Alena di hujani pertanyaan oleh Arnon.
"Sabarlah, Ibu dan kakakmu masuk penjara. Dan ayah, ayah memang masuk ke dalam rumah sakit ini karena serangan jantung mendadak."
Jawabnya Alena menjelaskan panjang lebar. Mata Arnon terbelalak mendengar hal itu.
"Aku sungguh tak percaya. Kau boleh berbuat apapun, tapi apa kau bisa tidak membuat aku kehilangan kakakku, bahkan ibu dan ayahku? Seharusnya kau tahu betapa pahitnya hidup tanpa kedua orang tua?"
Perkataan itu terucap dari mulut sang adik, Alena menatap sekilas sang adik, dia hendak memeluknya tapi Arnon malah mendorongnya.
"Stop, jangan sentuh aku. Aku ingin keluar mencari udara segar."
__ADS_1
Arnon berlalu pergi setelah mengatakan itu dan meninggalkan Alena yang masih berdiri di tempatnya.
"Apa kau marah kepadaku? Aku tahu aku salah, tapi apa kau tidak pernah memikirkan jika aku juga mempunya hati. Aku hanya membalas mereka, jika mereka baik kepadaku dan mempedulikan aku, tak masalah jika harta keluarga Grazia semuanya di pegang oleh mereka, aku bukan orang yang serakah, hanya saja, aku menginginkan kebahagiaan..."
Kata kata itu terucap dari bibir Alena, wajahnya sudah muram karena melihat sang adik yang mungkin kecewa padanya.
Sementara Arnon, saat dia mendengar Alena mengatakan itu, langkahnya terhenti dan tertegun. Dia mengepalkan tangannya dan hendak berbalik ke belakang.
"..., Apa kau tahu? Apa kau tahu siapa yang telah membuat ku kehilangan ibuku? Ibuku bukan meninggal karena penyakit, dia meninggal karena di bu___"
Perkataan Alena terhenti saat dia sadar jika Arnon tak harus terlibat dalam hal itu.
Arnon membalikkan badannya dan menatap Alena sekilas, tatapan matanya sayu. Alena melangkahkan kakinya maju. Dia terus mendekati sang adik meski Arnon terus menghindar.
"Jangan menghindari aku, kemarilah, aku bukan Psyco Path. Ku tahu kau kecewa. Biarkan aku memeluk mu."
Ucapnya Alena lirih, Arnon yang tadinya terus menghindar kini berhenti. Dengan wajah muram Arnon berdiri di depan Alena.
"Ku tahu kau bukan Psyco Path, aku hanya ingin menghirup udara segar."
Arnon berlalu pergi meninggalkan Alena.
X yang sedari tadi melihat drama itu melangkah maju mendekati Alena. Dia menepuk pundaknya.
"Berikan dia waktu. Mungkin dia perlu menenangkan dirinya."
"Ya, ayo kita pergi. Urusan di kota C belum terselesaikan. Dan.., Apa kau mengetahui bahwa ayahku koma? kira kira berapa lama dia akan tak sadarkan diri?"
Tanya Alena dengan nada lirih.
"Akupun tidak tahu. Berapa lama ayahmu akan tak sadarkan diri, aku bukan Tuhan. Berdoalah agar ayahmu sadar."
Ucapnya X menjawab pertanyaan Alena. Senyuman tipis menyeringai di wajahnya.
"Aku senang karena keluarga itu mendapat balasannya, Tapi hal yang membuatku bahagia malah membuat Arnon sedih. Itu rasanya itu lebih dari sakitnya di cabut nyawa."
Alena mengepalkan tangannya dan hendak pergi tapi tangannya di tahan oleh seseorang.
"Kau mau kemana? Tetaplah di rumah sakit ini. Apa kau pernah berpikir jika kau keluar dari rumah sakit secepat ini, media massa akan mencurigai mu."
Suara itu sangat tak asing di dengar oleh Alena, benar saja, itu adalah Helena, dialah yang menahan tangannya.
"Berapa lama aku akan menetap di sini?"
Tanya Alena seraya membalikkan badannya. Dia dan Helena saling bertatapan.
"Setidaknya 3 hari paling cepat."
__ADS_1
Jawabnya Helena dengan tatapan serius nya.
"Sungguh? Aku tak mau. Itu sangat lama, aku ingin pulang besok."
Rengeknya Alena seraya memohon-mohon pada sahabatnya itu.
"Aku seorang dokter. Seorang dokter lebih tahu tentang pasien nya! Jangan membantah perintah ku!"
Tegasnya Helena. Begitulah setiap kali jika Alena masuk rumah sakit, sikap galaknya akan keluar karena Alena terus merengek untuk keluar rumah sakit sebelum waktunya.
"Hmph!! Aku malas jika harus di sini. X tolong belikan aku pakaian penyamaran, kau adalah ketua geng gelap, pasti tahu pakaian seperti apa yang harus di pakaian saat menyamar."
X tertegun sejenak.
"Baiklah, aku akan membelikan nya tapi kau tak boleh macam macam!"
Jawab X setelah beberapa detik dia berpikir.
"Jangan lupa CD dan bra nya ya."
Alena melontarkan senyuman tipis di wajahnya. Muka X sudah memerah karena mendengar perkataan Alena.
"Sungguh!? Dia adalah adikku? Seorang bangsawan? Kenapa bersikap seperti ini!? Seharusnya dia tak boleh meminta seseorang membelikan keperluan pribadi nya."
Batin X dengan mata terbelalak.
"Akhhh!!! Yang benar saja! Aku tak mau. Dengar, pakai jaket ku, tulisan KING LUSCENTAI DARK MOTORCYCLE akan melindungi mu. Tak akan ada yang berani mendekati mu sedikitpun!"
Ucapnya X seraya melempar jaket kulitnya pada Alena.
X berlalu pergi meninggalkan Alena dan Helena di tempat itu. Dengan keadaan yang masih tertegun setelah di lempari jaket, Alena langsung memakainya dan menggunakan topi hitam untuk menutupi indentitas nya.
...-Bersambung-...
Penasaran dengan kelanjutannya? Tunggu Eps berikutnya ya. Maafkan author yang serba kurang, saya tidak bisa memuaskan kalian. Saya minta maaf. Mohon dukungan kalian melalui like, vote dan rate, jangan lupa untuk komen kekurangan author. Supaya saya bisa lebih baik lagi.
Satu lagi : @Haica. (maaf tidak terbawa ๐)
Terimakasih untuk kalian semua. Vote kalian sangat berharga. Saya harap yang lainnya bisa menyusul ๐ Mari bantu author meningkatkan vote rank-nya ya.
__ADS_1
Terimakasih untuk kalian para Readers yang sudah menyempatkan waktu luang kalian untuk membaca karya receh author. Author bisa mendapatkan rank karya baru no 4 karena kalian semua. Terima kasih sekali semuanya๐. Maaf jika ada kekurangan...