
Chapter 19. -Keributan di rumah Helena-
Arnon di bawa melompati gedung gedung tinggi oleh pria misterius itu sampai akhirnya dia berhenti di rumah besar yang agak asing di mata Arnon.
Dia turun dan pria itu langsung melompat turun tinggi ke atas rumah. Dia melompatinya tanpa kesusahan sedikitpun.
Mata Arnon berkeliling melihat sekitarnya, dia melihat satu orang laki laki dan 2 bocah yang sedang bermain di luar, tiba tiba saja matanya melebar saat melihat seorang wanita yang keluar dari rumah itu.
"Kakak..!!"
Teriak Arnon yang menyahut seraya melambaikan tangannya tinggi tinggi.
Alena menoleh dan terkejut, dia tersenyum kecil ke arah adik tiri kesayangannya itu.
"Arnon...!!!"
Balas Alena bahagia.
Arnon langsung berlari dan memeluk Alena, tapi Alena melepaskan pelukannya karena tangannya yang masih di perban.
"Ukhh!! Jangan sentuh aku Arnon, tanganku.., eh maksudnya mengapa tanganmu memerah?"
Tanyanya Alena berdalih. Dia melihat jika tangan adiknya itu memerah dan memar.
"Ah..., ini., aku tak apa..."
Balasnya Arnon yang berbohong.
Alena mengajak Arnon masuk ke dalam rumah dan menyiapkan teh hangat untuk di minum Arnon.
"Siapa yang bertamu?"
Tanya Helena yang membersihkan tangannya.
"Adik tiriku, Arnon."
Jawabnya Alena seraya menuangkan air panas ke dalam cangkir teh itu.
"Kenapa dia datang ke mari?"
Ucapnya Helena berjalan mendekati Alena. Alena melirik Sahabatnya itu.
"Ah, akupun tak tahu. Tapi, kau seperti harus mengompres luka memar Arnon. Apa kau bisa?"
Tanyanya Alena seraya berjalan dengan membawa nampan berisi secangkir teh.
"Tentu aku bisa, tugasku sebagai dokter adalah merawat pasien, mana mungkin aku menelantarkan adik kesayangan sahabatku."
Balasnya Helena dan pergi menyiapkan alat alat untuk mengompres luka memar.
Alena datang dengan membawa nampan dan menyajikan secangkir teh itu tepat di depan Arnon.
__ADS_1
"Terima kasih Kakak, maaf merepotkan mu."
Ucapnya Arnon seraya menyeruput teh hangat yang di sajikan oleh Alena.
"Mama...!!"
Tiba tiba saja Aluna dan Alvin menyahut dari luar seraya berlari memeluk Alena, mereka tak tahu bahwa Arnon berada di sana.
"Mama? Kak, mereka adalah anakmu?"
Tanyanya Arnon dengan mata terbelalak. Karena sudah tak bisa mengelak lagi, Alena hanya bisa mengangguk.
"Ja-Jadi..., aku sudah menjadi uncle!?"
Ucapnya Arnon gembira, Alena mengiyakan Ucapan adiknya itu.
"Mam, paman itu siapa?"
Tanya Aluna sembari menunjuk ke arah Arnon yang duduk ta jauh dengan Alena.
"Ah, dia adalah adik tiri Mama, namanya adalah Arnon, kalian bisa memanggil dia uncle Arnon atau om Arnon mulai sekarang."
Jelas Alena dengan senyuman kecil di wajahnya.
"Berilah uncle Arnon sambutan sayang."
Ujarnya Alena, kedua anaknya saling bertukar tatapan.
Dan tanpa aba aba, mereka langsung memeluk Arnon dengan erat. Seraya tertawa Arnon membalas pelukan dari keponakannya itu.
Aluna langsung mengajak Arnon pergi ke kamarnya, tapi Alvin menahan tangan Aluna.
"Ish, uncle laki laki lah, mana mungkin main boneka. Main bola dong kayak kakak."
Bantahnya Alvin, Aluna mengerutkan alisnya.
"Hu... Paman X, Kak Alvin jahat!!!"
Aluna berlari seraya menangis keras untuk mengadu pada X, sementara Alvin langsung mengikutinya karena takut mengadu yang tidak tidak.
Arnon terkekeh dengan kelakuan keponakan barunya itu. Dan Helena datang dengan membawa sewadah air hangat yang lengkap dengan pengompres-nya.
"Hay Arnon. Aku Helena, kemarilah, aku akan mengompres bekas luka memar yang ada di tanganmu."
Ujarnya Helena dengan senyum hangat.
Helena sudah menganggap orang orang yang baik pada Alena sebagai keluarganya, dia akan bersikap hangat dan tak peduli orang itu laki laki atau perempuan karena yang terpenting, orang itu adalah orang yang berharga bagi Alena.
Seusai mengompres bekas memar di tangan Arnon, Helena pergi menuju dapur untuk membuang air kompres itu.
Sementara di depan, Alena terlihat serius.
__ADS_1
"Arnon, apa aku boleh bicara padamu?"
Tanyanya Alena dengan serius. Arnon mengangguk mengiyakan pertanyaan Alena.
"Alvin dan Aluna adalah anakku, tapi Keluarga Sanjaya belum ada yang mengetahuinya, terkecuali kau..., jadi,.."
Perkataan Alena terputus oleh Arnon.
"Aku mengerti kak, aku akan merahasiakan ini dari mereka meskipun kau tak memberitahu ku."
Potong Arnon yang sudah mengerti akan keadaan. Alena tersenyum hangat pada adiknya itu.
"Terimakasih sudah mengerti diriku."
Alena memeluk Arnon bergitu pun sebaliknya. Sementara di depan, Aluna sedang mengadu pada X.
* Pov Alvin, Akuna, dan X.
"Paman, kakak jahat padaku... Lihat dia!"
Adu Aluna sembari menangis, Alvin mencoba menjelaskan tapi selalu di potong oleh Aluna.
"Hua...., kakak jahat! Paman X, ayo kita main Barbie di kamarku."
Alena langsung menarik tangan X dengan paksa. Mereka melewati Alena dan Arnon yang duduk di sofa lalu membanting pintu dengan kencang.
Tiba tiba saja Alvin datang dengan keadaan kesal.
"Paman ayo main bola..."
Ajak Alvin seraya menarik tangan Arnon.
Arnon hanya mengikuti kemana keponakan laki laki nya membawa dia. Dengan keadaan kesal Alvin bermain bola dengan Arnon.
Sementara di dalam, Aluna sedang duduk diam di sofa, tiba tiba saja seseorang menepuk pundaknya.
"Sepertinya mereka akan akrab. Arnon bersama Alvin, dan Aluna bersama X."
Ucapnya Helena seraya duduk di samping Alena.
Dia menghela nafas panjang. Alena melirik Sahabatnya dalam dalam.
"Apa kau menatapku seperti itu? Wajahmu terlihat jelek saat berekspresi seperti sekarang."
Guraunya Helena dengan wajah datar.
"Dasar gk ada akhlaqqq! Sahabat lagi di baik baikkin malah di hina lagi. Nyebelin banget sih."
Geram Alena seraya menatap Helena kesal, bukannya merasa tertawa, Helena malah tersenyum terbahak-bahak melihat kelakuan Sahabatnya itu.
"Apa kau tertawa seperti itu?"
__ADS_1
Kesalnya Alena menatap Helena sebal. Jelas sekali jika dia kesal karena kadang kadang Helena bersifat manja, cerewet, dan yang pasti nyebelin.
...----------------...