
Besoknya, Arga sudah berada di kantor. Yeri sebagai asisten tentu siap sedia. "Apa tugas yang aku inginkan sudah ada ditanganmu?" tanya Arga pada Yeri yang berdiri disampingnya. Kemudian, Yeri memberikan sebuah laporan.
Arga menerimanya, dan membacanya. "Apa-apaan ini? Hasil yang kau bawakan, bahkan tidak menjelaskan apapun!" marah Arga. Yeri menundukkan kepalanya. "Maaf tuan, tapi ada seorang hacker yang menjaga artikel itu. Bahkan, virus juga menyerang komputer. Dan tulisan 'Berhenti, atau mati' terus menjadi ancaman."
Ck! Arga berdecak kesal lalu menyuruh Yeri keluar dari kantornya. "Hacker? Bahkan hacker yang menjaga artikel itu, lebih pandai dari para hacker yang ku asuh selama ini?" pikir Arga. "Siapa sebenarnya kau?" perasaan Arga kini sudah kacau balau dibuatnya.
"Paman," panggil seseorang yang membuat Arga menoleh kearahnya. "Kau tidak mungkin bisa mencari informasi itu." Willy berjalan kearah Arga, "Apa jangan-jangan kau menjadi hacker penjaga artikel itu?"
"Bukan aku! Aku tidak ingin menaruh nyawaku didepan maut." ucap Willy. Arga berdiri, "Katakan padaku, apa rahasia yang kau maksud?" teriak Arga sudah tidak sabaran.
"Huh, kau juga akan tahu pada akhirnya!" ucap Willy berlalu pergi. Arga lantas mengepalkan tangannya, geram. Dia menahan amarahnya sebisa mungkin.
Sementara di keadaan lain...
.
.
.
__ADS_1
Luscentai Headquarters (markas luscentai)
.
.
"Ternyata, Arga Wilson sudah mencurigai asal usul adikku." Marquez tersenyum tipis. Dia duduk didalam kegelapan. "Adikku, tidak lama lagi, kau akan bersatu dengan suamimu, namun, bahaya yang akan kau hadapi, lebih besar dari yang sekarang."
"Tuan, pesawat keberangkatan sudah sampai didepan. Apa anda akan langsung pergi ke tempat nona muda!?" ucap Lion. "Sepertinya, aku tidak akan pergi sekarang. Batalkan penerbangan itu," titah Marquez yang sungguh menyiksa para bawahannya.
Dengan kekecewaan, Lion menurutinya. "Aku akan terus mengawasi dari jauh, adikku." ucap Marquez dalam hatinya. "Namun, sepertinya, keberadaan dirimu sudah sedikit terlacak oleh musuh, dan aku akan segera turun tangan, hanya saja, aku menunggu waktu yang tepat!"
.
.
"Yang satu bernama Willy, dan yang satunya lagi... Arga!" lapor Sean, jujur. Alena menggulirkan bola matanya, malas. "Arga Wilson lagi. Pasti akan ada keributan!" batin Alena.
"Sampaikan pada mereka berdua, aku tidak ada di kantor!" titah Alena yang memaksa Sean untuk berbohong. "Baik nona," Sean hanya menuruti apa kata tuannya. Bagaimana lagi? sudah kewajiban bawahan mematuhi titah sang atasan. Meski itu kebaikan, atau keburukan, harus tetap di jalankan.
__ADS_1
Sean berjalan keluar. Dia memberikan hormat terlebih dahulu. "Maaf tuan-tuan, tapi nona Grazia sedang tidak ada di tempat!" ucap Sean menyampaikan titah Alena. Arga mengernyitkan keningnya, begitupun dengan Willy.
"Tidak mungkin!" teriak keduanya, kompak. Mereka akhirnya menerobos masuk kedalam untuk mencari Alena. Sean berusaha untuk menghentikannya, tapi tidak berhasil karena kekuasaan Willy dan Arga lebih tinggi.
Brak!
Pintu ruang pribadi Alena didobrak kedua pria sinting itu. "Alena!" panggil keduanya, dan kembali kompak. Alena hanya mengusap wajahnya malas dan berharap sebuah mukjizat datang. "Aku sudah makan siang," dalih Alena.
Kruyukkkk...
Perut Alena sepertinya tidak bisa diajak kerja sama. Pada akhirnya, Alena dipaksa pergi oleh kedua pria yang menurutnya sinting itu. Mereka berdua memesankan makanan kesukaan Alena. Jadi pesanannya double.
"Gue yang bayar!" seru Arga dengan tiba-tiba. Willy nampak tidak terima. "Nggak. Gue yang bayar!" teriak Willy.
Saat perdebatan itu berakhir dengan keputusan, mereka membayar pesanan mereka masing-masing yang khusus mereka pesankan untuk Alena. Pada akhirnya mereka setuju, tapi belum cukup sampai disitu saja.
"Alena, ayo makan pesanan punyaku dulu," ucap Willy sembari menyodorkan sebuah piring berisikan daging barbeque. "Tidak, makan punyaku dulu!" Arga tidak mau mengalah. Dia juga menyodorkan makanan yang sama dengan Willy.
"Aku sedang diet," Alena mencari alasan agar keduanya tidak bertengkar. Arga dan Willy saling bertukar tatapan, benci.
__ADS_1
Pesan satu salad buah!
Mereka berdua memesan makanan yang sama. Pada akhirnya, perdebatan itu tidak bisa di hindari. Ketika makanan sudah datang, mereka kembali bertengkar dan memaksa Alena untuk memakan pesanan mereka terlebih dahulu.