
Chapter 31. -Keributan di kediaman Wilson-
*Kediaman Arga Wilson pov.
Saat ini, Arga sedang duduk di ruangan keluarga beserta dengan ibu, adik dan wanita yang tak asing baginya. Wanita itu bermarga Frank, yup! Dia Jenny Frank.
"Kau harus menikahi nona Frank secepatnya. Keluarga kita mempunyai janji untuk menjodohkan pewaris utama kepada anak dari rekan bisnis sendiri."
Jelasnya Ny.Wilson, tentu pernyataan itu tak asing di dengar oleh Arga. Dia sudah tahu karena ibunya sudah menasehatinya setiap kali Arga menolak.
"Berapa kali harus ku bilang? Aku sudah menikah."
Bantahnya Arga dengan suara tinggi. Ny. Wilson agak tercengang mendengar anaknya membentak kasar.
"Kakak berhenti! Kau menyakiti perasaan Mama!"
Ara mencoba membela ibunya, namun Arga menyeringai licik dan kini menatap sang adik dengan tajam.
"Apa kau juga akan melawanku?"
Tanyanya Arga dengan wajah datar. Nyali Ara untuk membela sang ibu menciut, dia tahu seperti apa jika kakaknya sedang marah besar. Ara menundukkan kepalanya.
"Arga! Dia adikmu! Kau jangan bersikap kasar seperti itu kepadanya!!"
Teriaknya Ny. Wilson seraya memeluk Ara. Arga mengernyitkan dahinya kesal.
"Tante, bagaimana ini? Sepertinya kalian mempunyai masalah keluarga. Kita bicarakan ini nanti, ya?"
Jenny yang berpura pura sok alim dan sok baik itupun mulai beraksi. Kini Jenny berdiri dan berjalan mendekati Arga.
Dia duduk di samping Arga dan menarik tangan Arga lalu menggenggam nya dengan senyum tipis di wajahnya.
"Berhenti memarahi Arga, Tente. Kasihan dia, kita bicarakan baik baik. Mungkin lain kali juga bisa."
Jenny berakting dan membuat hati ny.wilson tersentuh. Arga memalingkan wajahnya kesal dan menepis tangan Jenny.
"Sekali lagi kau sentuh diriku, aku pastikan kepalamu berpisah dengan tubuhmu!"
Datarnya Arga. Jenny langsung bergidik ngeri dan menjauhi Arga, dia kelihatan canggung bercampur dengan takut.
"Arga, stop! Kau bukan hanya membuat Adikmu ketakutan, tapi kau juga membuat nona Frank ketakutan! Pria macam apa kau ini!?"
Ny. Wilson marah seraya berdiri dan hendak memukul Arga, tapi tiba tiba saja Jenny menghalangi dan akhirnya dia yang terkena imbas kemarahan ny. Wilson.
Plakkk!!
__ADS_1
"Akhhh!!"
Jenny merintih kesakitan akibat pukulan dari ny.wilson. Sontak hal itu juga membuat Ny.wilson terkaget-kaget.
"Jenny! Apa kau tak apa, Nak? Apa ada yang sakit?"
Ny. Wilson yang merasa bersalah itu langsung memeriksa dimana bekas pukulan itu. Dengan rasa khawatirnya, dia memeriksa. Tapi Jenny tiba tiba memegang tangan Karin dan tersenyum tipis.
"Lebih baik aku yang di pukul dari pada Arga, Tante."
Ucapnya Jenny dengan hangat. Arga memiringkan senyumannya dengan licik.
"Cih! Demi mendapatkan perhatian Ibuku, kau rela mengorbankan dirimu sendiri!? Wanita murahan!"
Ucap Arga yang menghina Jenny. Jelas saja, hal itu membuat kemarahan Ny. Wilson semakin membara.
"Kau__!!"
Ny. Wilson masih menahan amarahnya. Dia mengepalkan tangannya kuat kuat dan menatap tajam anak pertamanya itu.
"Ibu sudahlah."
Ucapnya Ara yang membuka suara. Dia berdiri dan mencoba menenangkan sang Ibu yang masih berdiri di tempatnya.
Marah nya Ny. Wilson dengan suara meninggi.
"Aku sudah bilang kepadamu. Aku tak butuh wanita lain, aku hanya butuh Istriku."
Jelasnya Arga dengan duduk Santai sementara sang ibu berdiri dengan kemarahan yang sudah berada di ubun-ubun kepala nya.
"Mana istrimu!? Mana dia? Apa kau pernah membawanya pulang? Atau kah kau hanya mengada ada saja? Sudah cukup! Aku ingin segera menimang cucu!"
Balasnya Ny. Wilson dengan lantang. Arga hanya diam dan duduk di sofa ruangan itu, ekspresi nya sama sekali tak berubah.
"Kau tak perlu menimang cucu. Aku sudah memiliki dua anak dan mereka sudah besar. Bukan bayi lagi. Apa kau akan menerima mereka?"
Tanya Arga dengan suara dingin. Jenny yang mendengar itu terkejut! Sudah habis usahanya untuk mendapatkan hati dari Arga Wilson! Dengan keberadaan kedua anaknya itu, meski dia menikah dengan pria itu, tak ada kesempatan untuknya agar mendapatkan keturunan dari keluarga itu!
"Apa? Apa kakak sudah mempunyai anak? Siapa mereka?"
Sahut seseorang dari arah pintu. Suara itu tak asing di telinga Arga.
"Dita, kemarilah."
Pintanya Arga dengan hangat. Gadis itu berjalan mendekati pria itu dan duduk di sampingnya.
__ADS_1
"Kakak, aku sangat senang mendengar kabar itu."
Ucapnya Dita yang bahagia dengan ucapan Arga. Tentu dia bahagia, karena kebahagiaan Arga adalah kebahagiaan nya juga. Dita dan Arga sudah seperti kakak beradik yang hidup bahagia.
"Ya. Apa kau bahagia?"
Tanya Arga memanas manasi keadaan itu. Dia memberikan kode pada Dita untuk menemani sandiwara nya itu. Dita membalas kode itu dengan anggukan kepala yang pelan.
"Sangat bahagia. Itu artinya aku sudah akan menjadi aunty dong..,"
Balasnya Dita.
".., Kapan kau akan membawa kakak ipar, kakak sepupu? Aku sudah tak sabar lagi!"
Sambungnya Dita penuh senyuman.
"Secepatnya..."
Ucapnya Arga tersenyum hangat. Tiba tiba saja, Jenny keluar dari tempat itu tanpa berkata kata. Ny. Wilson yang melihat itu, langsung berusaha mengejar Jenny untuk membujuknya kembali. Sedangkan Ara, dia masih berada di tempat itu, berdiri di samping Arga.
"Apa kau tak melihat ketulusan hati yang di tunjukkan oleh kak Jenny, kakak!?"
Tanya Ara dengan kecewa. Arga menolehkan kepalanya ke arah sang adik yang berdiri di samping nya.
"Mata mu minus atau plus, dek?"
Ucapnya Arga dengan datar. Ara sudah merasa biasa di dinginkan oleh Kakaknya, namun kini perasaannya berbeda. Ara pergi meninggalkan tempat itu dengan rasa kecewa.
*Ara Pov.
Dia pergi ke dalam mobilnya dan tak ada niatan baginya untuk mengejar sang ibu. Dia mengendarai mobil itu dan pergi dari kediaman itu.
"Kakak tak pernah tersenyum sehangat itu ke padaku. Tapi kakak selalu hangat terhadap Dita. Kakak selalu dingin terhadapku. Aku sudah melakukan segala cara untuk mendapatkan perhatiannya, tapi kenapa selalu begini akhirnya!?"
Gumam Ara dengan suara lirih. Dia sebenarnya sudah tak ingin melakukan hal yang di lakukan oleh ibunya. Dia tahu hal itu salah, tapi dia hanya berusaha untuk mendapatkan perhatian dari Kakaknya itu.
"Aku akan berusaha lebih keras lagi!"
Ucapnya Ara seraya mengusap air mata yang hendak mengalir membasahi pipinya. Dia pergi ke bar di bawah perusahaan tekstil terbesar di kota itu. Yap! Bar Ice Lotus.
Ara memarkirkan mobilnya di sana. Dia keluar dengan keadaan putus asa. Mendongakkan kepalanya dan melihat gedung perusahaan yang menjulang tinggi di depannya. Dia bergumam.
"Kapan kau akan memperhatikan aku sebagai seorang adik, kakak!?"
...----------------...
__ADS_1