Pernikahan Terhangat

Pernikahan Terhangat
Chapter 17. -Rencana-


__ADS_3

Chapter 17. -Rencana-


Sorenya, Alena sudah berada di mall. Di sana ada sekitar 16 pelamar yang sudah siap bekerja. Sean yang berdiri di samping Alena hanya diam.


"Jadi mereka orang orang yang melamar?"


Tanyanya Alena.


"Ya nona, mereka semua sudah melewati tahap kualifikasi dan sudah lulus uji coba. Silahkan anda memeriksa nya sendiri."


Balasnya Sean dengan sopan. Alena mengernyitkan dahi.


"Oke baiklah, kalian semua di terima. Gaji perbulan 5 juta. Bekerjalah dengan baik, jangan sampai bermalas-malasan!"


Tegasnya Alena dan berlalu pergi, Sean hanya mengikuti dari belakang.


Saat sudah di luar, Alena berhenti dan menoleh ke belakang.


"Aku perlu mendiskusikan harga barang dengan kepala departemen pemasaran dan keuangan. Siapkan jadwal untukku."


Ucapnya Alena, Sean mengiyakan permintaan dari boss-nya itu.


Beberapa saat telah berlalu, masih di keadaan yang sama.


"Bagaimana?"


Tanyanya Alena.


"Besok pukul 14.25 di restoran x. Anda akan bertemu langsung dengan Tina, dia lah kepala departemen pemasaran. dan tuan Ryan adalah kepala departemen keuangan."


Balasnya Sean. Alena mengangguk.


...----------------...


Waktu sangat cepat berlalu, sekarang adalah waktunya makan malam. Alena sedang duduk di kursi makan sendirian. Tak ada makanan yang bisa di makan olehnya.


"Makan apa coba? Aku nggak bisa masak. Kalau lagi di luar negeri pasti Alvin yang masak makan pagi, siang, dan malam."


Gumamnya Alena sembari duduk dengan tatapan kosong melihat meja makan yang kosong melompong.


"Huh..., mau makan apa? ini di desa, tak banyak toko atau warung yang masih buka. terpaksa hanya minum air putih."


Ucapnya Alena seraya berdiri dan mengambil gelas lalu menuangkan air putih ke dalam gelas itu.


"Jadi wanita gini amat ya? kok gadis gadis yang lain bisa makan lah aku kok nggak bisa? aish, perutku keruyukan."


Keluhnya Alena seraya meminum air putih.


"Terpaksa tidur dengan perut keruyukan."


Alena hendak menunjuk kamarnya tapi tiba tiba bell apartemen di tekan.


"Siapa sih yang bertamu malam malam begini?"


Kesal Alena seraya berjalan ke arah pintu dengan tujuan membuka pintu itu.


Saat Alena membuka pintu, terlihat seorang Pengantar pos yang berdiri di depan pintu.


"Ya,"


Ucapnya Alena dengan wajah serius.


"Apa anda adalah nona Alena Grazia?"


Tanya si kurir pos, Alena mengangguk mengiyakan pertanyaan si kurir.

__ADS_1


"Ini nona, ada paket yang di kirimkan oleh Nona Helena Shen untuk Nona Alena Grazia."


Ucapnya si kurir sembari menyodorkan paket untuk Alena.


Alena melihat paket itu dan menerimanya lalu si kurir meminta untuk menandatangani catatan kecil sebagai bukti.


Dia kembali ke dalam dan hendak membuka paket itu, tapi hp nya berdering, Alena langsung merogoh kantong dan mengambil HP-nya lalu menjawab panggilan video dari Helena.


"Hey, apa paketnya sudah sampai?"


Tanyanya Helena tersenyum manis, tiba tiba kedua bocah muncul di layar.


"Mam, masakan itu aku, kak Alvin dan Tante Helena yang membuatnya. Apa Mama menyukainya?"


Tanya Aluna yang tiba tiba menyahut dalam telepon.


"Kelihatannya enak, sebenarnya Mama baru mau buka, tapi malah ada panggilan masuk. Jadi Mama jawab dulu. Kalian nggak merepotkan Tante Helena kan?"


Ujarnya Alena dengan mood yang baik.


"Nggak kok, mereka nggak merepotkan sama sekali. Oh iya, bagaimana urusanmu di sana?"


Tanya Helena sembari mengelus rambut Aluna.


"Besok aku akan ke kota A, sepertinya aku harus berangkat lebih awal agar bisa bermain dengan kalian terlebih dahulu."


Balasnya Alena seraya membuka paket yang di kirim oleh Helena.


"Mama, apa Aluna dan kak Alvin boleh ikut?"


Tanyanya Aluna dengan nada merengek.


"Sepertinya bisa, apa Alvin mau ikut?"


"Aluna dan Alvin pergi main dulu ya, Tante mau bicara dulu sama Mama Alena."


Pintanya Helena, Aluna dan Alvin langsung pergi meninggalkan Helena.


Saat Aluna dan Alvin sudah pergi, Helana Kembali lagi ke pembicaraan nya dengan Alena.


"Alena, aku sudah mengawasi gerak gerik Keluarga Sanjaya tadi pagi hingga siang. sungguh melelahkan!"


Gerutu Helena dengan wajah kesal, Alena terkekeh kecil.


"Lalu, apa yang kamu dapatkan?"


Tanyanya Alena mengangkat sebelah alisnya.


"Begini, kamu harus berhati hati. Kamu sudah berhasil dan hampir menyelesaikan tugas itu. mereka sudah mengincar mu. Aku mendengar mereka akan menyabotase dirimu. Tapi aku tak tahu apa yang akan di sabotase karena alatnya mungkin rusak."


Jelasnya Helena dengan gelisah. Alena tersenyum Smirk. Jelasnya mungkin Alena sudah tahu apa yang akan di lakukan oleh keluarga itu.


"Heh, bermain curang? aku bisa lebih curang."


Gumamnya Alena, Helena masih terlihat cemas.


"Helena, aku menutup nya dulu ya. ada hal yang harus ku urus."


Ujarnya Alena lalu memutuskan telepon itu.


*Reallive Alena


"Sungguh bagus. Menyabotase anak sendiri hanya demi harta. Hahah!! Mereka sungguh gila akan harta. Tapi sayang semua kekayaan itu milik Ibuku, dan aku akan merebutnya kembali. Bram Sanjaya, aku akan menjadi anak yang baik dan mengikuti alur yang sudah kau buat."


Ucapnya Alena di dalam rumah itu sendirian. Dia seperti seorang wanita gila yang kaya akan harta. Berbicara sendiri dan berbuat jahat? bukannya itu adalah sifat iblis?

__ADS_1


"Aku harus menelepon seseorang..., untuk membantuku. Tunggu dan lihatlah pembalasan dariku kalian para keluarga terkutuk!!"


Teriak Alena dalam ruangan itu, dengan senyuman devil nya yang menyeringai lebar. Dia mengambil ponselnya lalu menelepon seseorang.


"Hallo X, apa kabar?"


Tanya Alena membuka pembicaraan. Pria yang ada di telepon itu sempat terdiam.


"Hahah..., Apa itu Nona Alena Grazia?"


Balas nya sembari tertawa kecil di dalam telepon itu.


"Ya ini aku. Apa kau bisa membantuku X?"


Ucapnya Alena sembari menyeringai jahat.


"Apa yang bisa ku bantu?"


Tanyanya pria misterius yang bernama X itu.


"Kau berjaga di jembatan yang menghubungkan kota A dan C. Aku akan memberikan aba aba jika terjadi sesuatu. Yang jelas, ada orang yang mengincar diriku."


Jelasnya Alena. X langsung paham dan mematikan teleponnya.


* reallive x.


Di sebuah ruangan gelap. Seorang pria berpakaian kulit yang berwarna hitam sedang berdiri di pojok ruangan sembari menatap keluar jendela.


"Huh, berani sekali mereka mengganggu Adikku. Aku tak akan melepaskan mereka."


Gumamnya X meremehkan. Dia memetik jarinya dan tiba tiba saja seorang datang dari kegelapan.


"Hormat yang mulia, ada apa memanggil hamba?"


Tanyanya pria yang tak lain adalah asisten dari X.


"Sean, terus awasi gerak gerik perusahaan itu. pastikan keamanan Putri aman. Aku mau dia tak terluka sedikitpun."


Jelasnya X dengan nada datar.


"Baik yang mulia, hamba akan melindungi putri, dengan jiwa dan raga hamba. Jika putri sampai terluka sedikit saja, maka nyawa hamba yang akan menjadi taruhannya."


Ucapnya pria itu yang tak lain adalah Sean. Pria yang menyamar menjadi asisten Alena dan bekerja di perusahaan AG Company hanya sebagai topengnya saja.


"Kalau begitu, hamba pamit undur diri."


Pamitnya Sean memberikan hormat. X hanya mengangkat tangannya ke atas dan Sean langsung pergi meninggalkan tempat itu.


X berjalan menuju sebuah ruangan rahasia yang berisi foto foto keluarga nya. Dirinya, ayah dan ibunya yang sedang mengandung Alena saat itu.


Dia bersujud memberikan penghormatan pada ibunda tercintanya itu.


"Mama, apa kabar di sana? Mama mendengar percakapan aku dan Alena kan mam? Lihatlah Alena sudah besar. Dia sangat cantik, mirip seperti Mama dulu. Aku akan menjaganya secara diam diam mam. Tolong lindungi kami... Ibunda..."


Air mata x seketika meleleh saat dirinya melihat detik detik kematian sang ibu tercinta. Dengan kedua orang biadab yang ada di depannya saat itu, dia menangis histeris.


Flashback...


Waktu itu X masih berusia 10 tahun dan Alena baru 5 tahun. Alena di kurung di kamar sementara Natalia di paksa untuk meminum racun oleh kedua orang itu. Saat itu X diam diam menyelinap masuk ke dalam ruangan itu.


Dia sangat terpukul melihat ibundanya meninggal karena di berikan racun. Karena tak kuasa menahan tangis, dia berlari keluar ruangan itu.


flashback end...


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2