
Chapter 33. -Ara-
...----------------...
Zhuge Liang yang tiba tiba datang lalu merangkul Ara sungguh membuat mata gadis itu terbelalak. Dia tak percaya akan ada orang yang merangkulnya seperti itu, bahkan, kakaknya saja tidak pernah.
"Apa yang kau lakukan!?"
Teriak Arga yang tak terima adiknya di rangkul oleh pria lain.
"Memang apa salahnya jika aku merangkul wanitaku sendiri!?"
Jelasnya Zhuge Liang dengan wajah datar. Ara yang masih terbelenggu dengan apa yang di katakan oleh Zhuge Liang tersadar.
"Kapan aku menjadi wanitamu?"
Ucapnya Ara membuka suara. Zhuge Liang menatap wajah gadis itu.
Cup!!!
Gerakan tiba tiba itu di lakukan seorang bangsawan kepada gadis di depan kakaknya!? Apa yang terjadi? Umpat Ara dalam hati.
Zhuge Liang melepaskan ciumannya dan Ara semakin tak percaya jika ciuman pertamqnya akan di berikan kepada orang asing!?
"Mulai sekarang dan mulai hari ini, menit ini, dan detik ini, aku Zhuge Liang mengakui bahwa Gadis yang kucium tadi adalah wanitaku."
Lantangnya Zhuge Liang yang membuat semua orang yang berada di sana terkejut bukan main termasuk dengan Marquez dan Loise.
"Kau...!? Beraninya kau mencium adikku!"
Marahnya Arga hendak memukul wajah Zhuge Liang.
Phakkk!!
Zhuge Liang menepis tangan Arga dengan sangat mudah. Arga agak tercengang dan menarik kembali tangannya.
"Ara ayo pulang!"
Arga langsung menarik tangan Ara dan membawanya pergi ke dalam mobil. Mereka mengebut untuk menuju ke kediaman Wilson.
* Ketiga pangeran pov.
Marquez yang ternganga itu langsung tersadar dan berdiri mendekati pria yang mencium gadis tadi itu. Dia menepuk pundak Zhuge Liang.
"Bro, otak lu nggak ada yang konslet kan? Atau jangan jangan, gara gara lu sering di fitnah oleh orang orang makanya jadi begini?"
Tanya Marquez asal menebak. Tiba tiba sorot mata Zhuge Liang memanas.
Happ!!
Zhuge Liang menarik kerah baju Marquez dengan erat. Sorot matanya sudah berubah, dari dingin dan datar berubah menjadi kejam dan brutal.
"Jangan bahas hal itu lagi. Aku muak dengan orang orang seperti mereka!"
Ucapnya Zhuge Liang seraya menatap tajam Marquez. Nyali Marquez yang tadinya besar agak menciut mendengar perkataan Zhuge Liang yang di ucapkan dengan nada dingin dan agak mencekam itu.
"Maaf, aku salah bicara. Bisakah kau melepaskan tanganmu?"
Tanpa aba aba, Zhuge Liang langsung melepaskan tangannya seraya mendorong tubuh Marquez menjauh. Zhuge Liang langsung pergi ke mobilnya dan melesat dengan kecepatan tinggi.
Marquez menghela nafas lega nya setelah kes mencengkam tadi. Kini Loise berdiri dan mendekati tubuh Marquez.
__ADS_1
"Lu kelepasan atau bagaimana? Kok bisa bahas hal itu lagi!?"
Ucapnya Loise bertanya. Tapi Marquez hanya menggelengkan kepalanya.
"Gue nggak sadar. Gimana ini!? Zhuge Liang pasti marah besar."
Cemasnya Marquez, tapi Loise malah menghela nafasnya.
"Sebentar lagi juga baikkan. Gue mau pulang ke apartemen dulu. Siapa tau aja bertemu dengan pangeran es itu di jalan."
Loise berlalu pergi meninggalkan Marquez setelah mengatakan itu. Akhirnya, Marquez pun memutuskan untuk pulang karena hari sudah hampir gelap.
* Kediaman Wilson pov.
Arga dengan wajah merahnya itu menahan amarahnya. Ara di hempasnya supaya duduk di sofa ruangan itu.
Brukkk!!
"Akhh!!"
Rintih Ara kesakitan. Amarah Arga kini sudah memuncak.
"Apa apaan kau datang ke tempat itu!? Ingin mahkota-mu hilang!?"
Tanya Arga dengan nada meninggi. Hal itu membuat Ara sangat ketakutan.
"Aku hanya bermain."
Jawabnya Ara yang semakin membuat kemarahan Arga membara bara.
"Bermain main dengan pria lain!? Aku bisa memilihkan pria yang lebih baik dari pada pria tadi!"
Teriaknya arga dengan keras.
Ara langsung berlari ke kamarnya dengan air mata yang meleleh seketika.
"Ara Wilson!!"
Teriak Arga hendak mengejar Ara, tapi langkahnya terhenti ketika seseorang menahan tangannya.
"Jangan kejar dia, dia hanya butuh sedikit waktu."
Ucapnya Dita menahan tangan Arga.
Brakkk!!!
Suara bantingan pintu terdengar hingga ruangan itu. Jelas sekali jika Ara mengunci diri nya di dalam kamar.
* Ara Pov.
Ara langsung mengunci pintu kamarnya dan tubuhnya merosot ke bawah. Dia memeluk kakinya sendiri.
”Hiks..."
Isak Ara yang terdengar hingga keluar.
Tok! Tok! Tok!
Pintu kamar Ara di ketuk seseorang, Isak Ara terhenti seketika mendengar ketukan pintu itu.
"Ara, kemarilah. Aku tahu, seharusnya aku tak membentak dirimu. Buka pintunya Ara.."
__ADS_1
Ucapnya Pria itu dengan lembut. Tapi bukannya senang, malahan kebencian di hati Ara semakin membara.
"Keluar!? Untuk apa aku keluar!? Pergi kau! Aku tak butuh dirimu!"
Teriak Ara dari balik pintu.
Ara berlari ke depan meja riasnya. Dia menatap dirinya melalui cermin yang ada di depannya. Dia mengambil gunting yang sering di gunakan untuk memotong kertas.
"Inikah diriku? Sangat menyedihkan! Sekarang, Aku Ara Wilson tak membutuhkan kasih sayang siapapun!"
Sumpah Ara seraya memotong beberapa helai rambutnya.
Seusai mengatakan itu, Ara langsung membanting gunting itu dan menyingkirkan semua makeup yang berada di atas meja riasnya. Dirinya merosot ke bawah lalu dia menyelusupkan wajahnya di balik tangannya sendiri.
"Arrgghhh!!!"
Teriak Ara yang terdengar hingga keluar. Hal itu membuat keadaan khawatir Arga memuncak.
Brakkk!!
Pintu kamarnya tiba tiba saja terbuka. Ara menolehkan kepalanya dan melihat seseorang yang sedang berdiri di sana.
"Ada apa?"
Datarnya Ara seraya mengusap air mata yang membasahi pipinya.
"Apa kau baik baik saja?"
Tanyanya Arga seraya berjalan maju mendekati Ara.
"Pergilah. Aku tak butuh pertanyaan mu itu."
Ucapnya Ara datar. Arga tertegun sejenak mendengar perkataan sang adik yang begitu dingin.
"Ara..."
Arga mencoba menenangkan sang adik, tapi apa yang di dapatkan olehnya?
"Pergi!"
Tegas Ara memperingati. Tapi Arga tidak berhenti lalu membuang niatnya untuk mendekati sang adik, Arga malah mendekati sang Adik.
"Ku bilang pergi ya pergi! Cepat kau keluar!"
Teriak Ara dengan kemarahan yang memuncak. Arga terkejut karena sang adik tak pernah berteriak sekencang itu kepadanya.
"Tapi Ara...,"
Ucapnya Arga yang terdiam di tempatnya. Mata Ara menyapu seluruh ruangan kamar itu.
Mata Ara langsung tertuju pada sebuah gunting yang di gunakan nya untuk memotong rambutnya. Gunting itu berada agak jauh dari tempatnya terduduk.
Ara langsung berdiri dan berlari untuk mengambil gunting itu. Dan akhirnya, dia berhasil mengambil nya. Gunting itu di angkatnya tinggi tinggi.
"Ara, apa yang kau lakukan!?"
Ucapnya Arga dengan melangkahkan kakinya semakin mendekat dengan sang adik, dia berusah untuk merebut gunting yang berada di tangannya itu.
"Pergi, atau gunting ini akan menembus tulang kepalaku!"
Ancamnya Ara, kakaknya berada di posisi yang sangat membingungkan. Harus pergi? Atau kah harus merebut gunting itu!?
__ADS_1
"Baik, baik..., aku akan pergi. Jangan lukai dirimu, oke!?"
Arga berlalu pergi lalu dan menutup pintu kamar itu kembali.