Pernikahan Terhangat

Pernikahan Terhangat
Chapter 50. -Pulang-


__ADS_3

Di keadaan lain, Sean sedang sibuk menjalankan tugasnya, tapi dia tak sendiri, dia di temani oleh Putri. "Bagaimana ini? Kenapa belum ada pasukan yang datang?" Ucapnya Sean agak cemas sembari mengawasi kesana sini. Putri yang sedang duduk di atas dedaunan pun bangkit dan menghampiri Sean.


Putri menepuk pundak Sean dan berkata, "Mungkin mereka belum sampai. Tunggulah sebentar lagi." Sean terdiam dan mengangguk. Mereka berdua duduk di tempat yang sama. Kini hari sudah siang dan Putri mengeluarkan kotak nasi yang sudah di bawanya sejak awal.


Dia membuka kotak itu, "Hari sudah siang, mari kita makan dulu." Ucapnya Putri sembari mengajak Sean untuk makan siang terlebih dahulu. Sean pun melirik Putri yang sibuk mempersiapkan makanan dan jantung nya tiba tiba berdetak kencang.


Mereka makan dengan lahap dan mereka saling curi curi pandangan saat yang lainnya sedang lengah. Saat sudah makan, Sean kembali mencari kepastian lagi. Dan akhirnya...


Za..!!


Za..!!


Za..!!


Za..!!


Za..!!


Banyak sekali pasukan Helikopter dengan Bendera yang di terbangkan bebas. Lambang bendera itu adalah 'THE LUSCENTAI DARKNESS'. Lantas, Sean melambaikan tangannya tinggi sekali. Dan seseorang melihat itu akhirnya datang ke sana.


"Tuan Sean, bagaimana keadaan di sini? Dan di mana King X?" Lapor salah satu orang dari geng gelap itu, Sean hanya menghela nafas lega, "Mereka tak jauh dari sini. Ayo kita pergi ke sana." Ajaknya Sean yang melangkahkan kakinya terlebih dahulu dan di ikuti oleh pasukan besar itu.


...----------------...


Di sisi lain, Marquez sedang sibuk dengan perbincangan nya. Luoise, dan juga Zhuge Liang mengobrol kecil besama Marquez sembari tertawa riang. "Kapan ini akan berakhir?" Sahutnya Zhuge Liang seraya menatap langit luas itu.


Marquez menatap lirih sahabatnya itu, "Lihatlah ke depan." Ucapnya Marquez sembari menunjuk ke arah depan. "Tuan!! Tuan!! Akhirnya kita terselamatkan!" Teriak Sean kegirangan.

__ADS_1


Mendengar suara derapan kaki yang banyak, Alena sesegera mungkin mencari sumbernya. Dan ternyata, itu pasukan LUSCENTAI. Senyuman Alena terlihat merekah mengingat dirinya akan segera pulang dan bertemu dengan anak anaknya.


Lalu mereka semua bersiap untuk masuk ke dalam helikopter. Tapi orang orang asli suku itu terlihat sedih. "Apa ada yang bisa kami bantu?" Tanya Marquez sebelum naik ke dalam helikopter.


Dan kepala desa dari pulau itu datang, "Apakah kau bisa mengajak kedua putri kesayangan kami ke kota? Di sini mereka tersiksa, bawalah mereka." Jelasnya Kepala desa sembari menunjukkan kedua gadis pulau itu yang masih muda.


Mengingat kebaikan yang telah mereka lakukan, Marquez bersedia membawa kedua gadis itu. "Siapa saja?" Tukasnya Marquez bertanya untuk memastikan. Lalu dua gadis itu muncul dari belakang badan kepala desa.


"Ini adalah Putri," Tukasnya Kepala suku yang menjeda perkataannya, "Dan ini Dini." Sambungnya kepala desa. Beralih ke sisi Alena, gadis itu tengah perfikir mengingat sesuatu.


"Bukankah gadis itu memberikan aku senyuman licik?" Pikir Alena dalam hatinya. Lalu Marquez menundukkan kepalanya memberikan hormat.


"Saya dapat menerimanya. Lalu, apakah ada lagi?" Tanyanya Marquez yang masih menundukkan kepalanya. Dan kepala desa itu menggelengkan kepalanya.


Akhirnya mereka semua naik helikopter dan terbang langsung menuju kota. Saat di perjalanan, ternyata pasukan itu berpapasan dengan pasukan Helikopter lainnya. Itu helikopter dari keluarga Wilson. Tapi sayangnya Arga sudah ikut dengan helikopter LUSCENTAI, jadi dia tak bisa apa apa.


Lalu kedua gadis dari pulau itu mengikuti Marquez, "Putri, dan kau Dini, aku akan mengajari semua yang ada di kota ini. Mulai dari les bahasa, dan les lainnya untuk dapat membantu ku." Tukasnya Marquez menjelaskan.


Dan Alena tiba tiba maju ke depan, "Tapi X, apa kau berniat menjadikan mereka asisten mu juga?" Ucapnya Alena bertanya. Marquez yang mengingat bahwa Putri sangat dekat dengan asisten kepercayaan nya itu sudah setuju setuju saja dan menganggukkan kepalanya.


Tiba tiba, Marquez berbalik, "Lebih baik kalau kalian belajar semuanya dari Sean, dia adalah asisten kepercayaanku. Dia mengerti segalanya." Tukasnya Marquez yang tiba tiba merubah keputusannya.


Sean yang berada di belakangnya terlihat kebingungan. "Kenapa Aku?" Sahutnya Sean bertanya. "Aku tak punya alasan. Kau tak boleh menolak." Ucapnya Marquez bersifat mutlak bagi Sean. Perintah dari Marquez tak dapat di ubah.


"Baiklah." Dengan terpaksa Sean menerima perintah dari Marquez. Alena maju ke depan, "Apa menurut mu, kau tidak memaksakan kehendak?" Tukas Alena bertanya.


"X, adalah pemimpin, jadi dia bebas berbuat apapun." Sahutnya Zhuge Liang. "Ya, dia adalah pemimpin, jadi memerintahkan pada bawahan nya adalah hal yang wajar." Timbalnya Luoise menambahkan.

__ADS_1


"Sudahlah, jangan bertengkar. Lagipula Sean tak menolaknya, bukan?" Ucapnya Marquez dan berjalan meninggalkan tempat itu yang di susul oleh Zhuge Liang, Louise dan Sean bahkan Angga juga ikut. Sehingga tersisa Alena dan Arga saja.


"Aku ingin pulang. Kau pulang saja sana." Tukasnya Alena yang hendak melangkahkan kakinya pergi. "Tidak! Aku ingin melakukan test DNA! Aku akan ikut bersama mu!" Bantahnya Arga yang mengikuti langkah Alena.


Gadis itu menghentikan langkah kaki nya, "Lalu?" Alena berkata tanpa menoleh ke belakang, "Lalu aku akan membawamu ke rumah besarku!" Jawabnya Arga.


Alena terlihat tersenyum menyeringai, lalu berkata, "Cih! Jangan bermimpi Tuan Muda Wilson!" Arga pun ikut tersenyum licik, "Aku memang tidak bermimpi!" Jawabnya.


Dan pada akhirnya, Alena terpaksa membawa Arga pulang ke rumah Helena. Setelah berada di sana, mereka heboh dengan kabar Alena yang tak pulang selama beberapa hari terakhir.


*Kediaman Helena Shen.


"Kau kemana saja? Apa kau tahu aku tak bisa tidur selama beberapa malam ini? Kau kemana?" Tukasnya Helena bertanya tanpa henti. Dia tentunya khawatir tapi juga kesal.


Alena hanya tersenyum canggung menghadapi pertanyaan dari sahabatnya yang satu ini. Tiba tina, "Kakak!" Teriaknya Arnon sembari melambaikan tangannya dari kejauhan.


Arnon berlari hendak menghampiri Alena yang sedang di peluk erat oleh gadis yang tak asing di matanya. "Kakak, habis dari mana saja kau? aku sangat cemas." Tukasnya Arnon senang.


Alena terlihat tersenyum, "Kau merindukan diriku?" Tanyanya Alena berharap. Lalu, Arnon menjawab, "Tidak sama sekali. Aku hanya ingin ATM-ku kembali."


Seketika, Alena tertegun mendengar ATM. Sepertinya sudah hilang saat di laut. "ATM-mu? Haha..., Maaf ya, tapi sepertinya Kakak tak menjatuhkannya saat di laut." Alena yang merasa bersalah pada sang adik itu tak bisa berbuat apa apa.


Wajah Arnon terlihat di tekuk, "Sungguh?" Beo nya Arnon tak percaya dan Alena hanya mengangguk kecil. "Tidakkk!!! Uangkuuu..!!!!!" Teriak Arnon.


Setelah mendengar teriakkan itu, Helena melepaskan pelukannya. "Diamlah, nanti kau akan membangun kan Aluna dan Alvin!" Geram nya Helena.


Di keadaan lain, Arga yang mendengar 'Aluna dan Alvin' seketika membuka mulut, "Dimana mereka?" Tanya Arga. Helena menolehkan kepalanya. "Sedang tidur di kamar." Balasnya Helena sembari menuju ke arah dalam rumah.

__ADS_1


__ADS_2