Pernikahan Terhangat

Pernikahan Terhangat
Chapter. 83 -Ternyata...-


__ADS_3

Rumah keluarga Grazia yang begitu luas nan megah namun tidak semegah rumah keluarga Wilson. Kehangatan tengah meliputi keluarga itu. "Ternyata kau ayahku." ucap Alvin dengan menundukkan kepalanya. "Papa... Maafkan aku sudah... sudah membencimu dulu," mohonnya pada Arga.


Arga berjongkok didepannya, lalu mengusap lembut kepalanya dan berkata, "Jangan menyesal. Anak lelaki memang harus bertanggungjawab dan bersikap tegas!" jelas Arga, lembut. Alvin merasa tersentuh dan langsung tersenyum.


"Baik!" jawabnya bersemangat. Arga pun ikut tersenyum melihat putranya bersemangat. "Aluna, Alvin, kita pergi ke rumah papa yuk!" ajak Arga tanpa basa-basi. Arga menatap Alena, "Ayo ikut denganku, Alena." ajak Arga dengan senyuman.


Ini tuan Arga Wilson kah? pikir Alena. "Tidak. Untuk sementara aku akan tetap tinggal disini. Aku rindu dengan rumah ini," jawab Alena, menolak. Ya... Anak-anak pun pasti akan sependapat dengan Alena, namun bermain kerumah Arga tidak ada salahnya juga kan?


Setelah Arga dan anak-anak pergi, Alena pun ikut pergi ke rumah sakit. "Ayah, aku datang untuk berkunjung," ucap Alena setelah ia membukakan pintu kamar rawatnya Tn. Bram. Pria itu menoleh kearah pintu. "Untuk apa kau datang kemari!?" tanyanya dengan nada lemas.

__ADS_1


"Aku membawa sekeranjang buah-buahan untuk kau makan," jawab Alena, lalu duduk di sofa yang sudah di sediakan. Tn. Bram mengalihkan pandangannya ke arah jendela. "Katakan apa mau mu? Jika ada pertanyaan, cepatlah tanyakan, sebelum aku mati!"


Hehe!


Alena tersenyum singkat. Ia berdiri kembali. "Siapa pria ini." ucap Alena sembari menunjukkan foto pernikahan ibunya. "Aku yakin ini bukan dirimu!" sambungnya kemudian. Mata Tn. Bram terbelalak melihat itu.


"Tanyakan saja pertanyaan yang lain. Aku tidak tahu soal itu!" Tn. Bram memilih untuk tidak memberitahu Alena siapa yang ada didalam foto itu. "Cepat katakan! Aku tidak ingin menanyakan yang lain!" ketus Alena, tegas.


"Aku tidak tahu!" teriak Tn. Bram. Alena tersenyum menyeringai. "Ternyata, sebelum ajal datang pun, kau masih ada hati untuk berbohong?" tanya Alena merendahkan.

__ADS_1


Tn. Bram terdiam. "Katakanlah yang sebenarnya! Anggap saja kau sudah berjasa pada seorang anak yang ditelantarkan." ucap Alena, lirih disaat-saat terakhirnya. "Waktu itu... Aku hanyalah pelayan bawahan pria asing entah dari negara mana." ucapnya, mulai menceritakan.


"Dia sudah memiliki istri dan seorang putra. Lalu, ada kabar bahwa istrinya sedang hamil anak kedua, maka diadakanlah pesta megah. Tapi setelah itu..." ia menjeda perkataannya. Raut wajahnya nampak takut. "Bom meledak ditempat itu. Aku yang mencoba menolongnya tidak bisa berbuat apapun setelah ia menitipkan istrinya namun tidak dengan anak lelakinya." lanjutnya.


"Wanita itu adalah ibumu, Natalia Grazia. Namun, aku hanya tahu nama... Ha..." Nafas Tn. Bram mulai terengah-engah seperti orang yang sesak nafas. Ia mulai memegang area dada kirinya. Sepertinya terkena serangan jantung. "Heh... Alena tersenyum, jadi hanya pelayan namun setelah datangnya ibuku, kau langsung kaya. Tapi juga berkhianat, iya?" Alena tersenyum merendahkan.


"Lalu siapa nama lelaki itu?" tanya Alena tegas. Tn. Bram nampak tidak menyahut karena sakit di jantungnya. "Heh. Bersyukurlah aku berbaik hati!" sindir Alena. Tak lama kemudian, Alena langsung memanggil dokter untuk memeriksa Tn. Bram.


...----------------...

__ADS_1


Hai para Readers tercinta... Maafkan author yang jarang update. Author kehabisan ide dan sebentar lagi kan mau PAT (Penilaian Akhir Tahun) jadi ya agak sibuk. Maafkan author ya...


...~Selamat Menunaikan Ibadah Puasa~...


__ADS_2