
Matahari sudah berada di atas, sangat atas. "Sayang, kembalilah bersamaku." Siang hari begini, drama panas sedang terjadi. "Aku tidak mau. Kau pengkhianat, hiks..." Tolak seorang gadis.
"Ayo kita besarkan anak-anak kita. Hanya berdua," ajak sang lelaki. Tapi si gadis tetap pada pendiriannya, yaitu tidak ingin menutut pada sang lelaki.
Hoammm...
Alena menguap. "Apa selera mu sudah berubah, Will?" tanya Alena yang mengantuk. Drama yang ditontonnya di bioskop, benar-benar membuatnya mengantuk. "Kukira kau suka dengan drama seperti ini?" ucap Willy.
"Membosankan," ucap Alena sembari memakan popcorn ditangannya. "Kapan selesainya?" tanya Alena. Willy juga sebenarnya bosan, dia mengira bahwa Alena akan menyukai film drama, dan ternyata itu salah. Willy salah ingat jika Alena menyukai drama, Alena sebenarnya menyukai film horor dan aksi.
"Ya sudah kalau begitu, kita tunggu saja film selanjutnya. Film yang akan datang bergenre horor dan action." jelas Willy. "Hoam, kau menyukai film yang lebay seperti ini?" ejek Alena.
"Ku kira kau menyukai drama, jadi aku memilih film drama, yang sebenarnya menjadi musuh bebuyutanku," pikir Willy.
Hening.
__ADS_1
Saat keheningan menggantung, film berganti. Kini film horor lah yang menjadi tontonan. Semua melihat film itu dengan seksama.
Kyaaa!!
Teriak salah satu penonton yang tidak asing di telinga Alena. Gadis itu mencari asal suara. "Astaga, Arga Wilson dengan Jenny Frank!? Sial sekali aku selalu bertemu dengan mereka berdua." pikir Alena sembari mengalihkan pandangannya kembali.
"Bisakah kau diam? Aku benci wanita cengeng!" teriak Arga sangat kencang agar Jenny mendengarnya. Bagaimanapun, suara film itu sangat keras, sehingga kita harus mendengarkan orang disekitar kita dengan sangat baik.
.
.
Seusai BAK, (buang air kecil) Alena hendak keluar area toilet, namun langkahnya terhenti. "Arga Wilson," pekik Alena. Ternyata Arga sudah mengetahui kebenarannya. Arga mengunci pergerakan gadis itu ditembok.
"Berani sekali kau pergi bersama pria lain keluar." Ucap Arga, terdengar menyeramkan. Alena terkekeh. "Lalu?" tanya Alena. Arga menatapnya tajam. Kemudian dia mencium bibir Alena dengan paksa. "Kau hanya bisa keluar denganku,"
__ADS_1
"Lalu bagaimana dengan tunanganmu?" tanya Alena. Gadis itu tersenyum licik. "Jenny Frank, tidak lebih tepatnya, calon nona muda keluarga Wilson yang terhormat, bukankah kalian sebentar lagi akan sah? Lalu mengapa kau mengejar ku? Lelaki murahan. Kau kira dengan hartamu, aku bisa tertarik? Tidak!"
"Gadis nakal," pikir Arga. "Ternyata, kau sudah banyak belajar dariku, gadis kecil?" tanya Arga, menyeringai. Alena menarik dasi Arga. "Kenapa tidak?" jawab Alena.
"Minggir! Jika tidak, tunangan mu yang manja itu bisa-bisa pingsan karena ketakutan!" ucap Alena. Ya, memang sedari tadi Jenny terus berteriak ketakutan. Sungguh, membuat gendang telinga rasanya ingin pecah.
Tuan! Tuan!
Panggil seseorang. Ya mungkin itu bawahan Arga. Pikir Alena. "Ada apa?" tanya Arga, ketus. Pria itu menundukkan kepalanya. "Nona... Nona Frank, pingsan." lapor pria tadi.
Pufftt!!
Alena menahan tawanya sekuat mungkin. "Baru dibicarakan, ternyata sudah pingsan? Crazy!" Alena pergi meninggalkan Arga. Tapi tangan Arga menarik pergelangan Alena. "Kau urus si cengeng itu. Aku tidak ingin berurusan dengannya sekarang!" Titah Arga, mutlak.
Alena yang jatuh ke pelukan Arga pun hendak meronta, tapi tidak bisa. Dan akhirnya!
__ADS_1
Brak!
"Alena!?" panggil seseorang yang tidak asing ditelinga.