
Tapi sebelum Alena ke tempat pesta pernikahan itu, sempat singgah ke toko pakaian. Dia membeli beberapa pakaian laki laki dan pakaian hitam yang serba panjang.
Dia terus memilih baju yang mana yang menurutnya cocok untuk tubuhnya yang kecil itu. Tentu saja kecil karena Alena adalah seorang wanita.
"Susah ya pilih pakaian laki laki!? Aduh...."
Gumamnya Alena yang masih memilih. Kini dia melihat jas merah dengan kemeja hitam dan celana hitam yang menggantung di gantungan pakaian.
Alena meraih pakaian itu dan langsung melangkahkan kakinya menuju kasir untuk membayar. Dia tak ada niatan untuk mencobanya terlebih dahulu.
Saat sudah selesai, Alena sampai di depan lobby hotel mewah. Dia memesan satu kamar pribadi untuk di tempati nya.
"Satu kamar VIP."
Ucapnya Alena seraya menyodorkan kartu ATM. Wanita yang bekerja di bagian administrasi itu langsung mengambil kartu itu dan memeriksanya dan karyawan yang lainnya memberikan kunci.
"Ini kartu anda dan itu adalah kuncinya. Kamar anda berada di kamar nomor 176 lantai ke-empat setelah keluar dari lift, anda belok kanan dan tetap lah berjalan lurus."
Jelasnya wanita itu seraya menunjuk kan jalan yang tak di respon oleh Alena. Gadis itu tanpa basa basa langsung berjalan mengikuti arahan dari wanita administrasi tadi.
"Belok kanan. Ke kanan... Lalu lurus..."
Gumamnya Alena seraya mengikuti arahan dari wanita tadi. Alena berhenti di depan pintu dengan nomor 175.
"Kamarku berada di sebelah."
Umpatnya Alena dalam hatinya seraya maju ke depan beberapa langkah. Kini dia tepat berdiri di kamar nomor 176. Dia langsung menggesek kartu untuk membuka kunci.
Tiiittttt....!!!
Pintu kamar terbuka dengan sendirinya. Alena langsung masuk dan menutup kembali pintu itu, dia berbaring di atas kasur empuk yang sudah rapih itu.
"Lelah sekali. Hanya untuk menyelamatkan uang berjalan ku, aku sudah merasakan lelah Seperti ini, apalagi jika lebih..."
Gumamnya Alena seraya meregangkan otot-otot tangannya dengan posisi yang masih terbaring itu.
__ADS_1
"Apakah keluarga Wilson itu pembuat masalah yang selalu membuat orang kecil sepertiku pusing?"
Tambah Alena yang kini mengganti ekspresi wajah nya.
Kini wajah gadis itu nampak menyedihkan, tentu saja menyedihkan, bagaimana tidak? Orang lain yang akan menikah dia yang pusing, orang lain yang di sekap, dia yang merasakan sakit.
"Tuhan, biarkan aku terlelap tidur."
Ucapnya gadis malang itu dengan mata yang perlahan-lahan tertutup.
...----------------...
beberapa saat telah berlalu, akhirnya hari sudah hampir petang dan bahkan mungkin sudah magrib. Alena masih tertidur itupun merasakan jika ada yang tak beres.
Dalam mimpi gadis itu, terlihat wajah seorang lelaki samar samar yang muncul dari kegelapan. Sepertinya..., Itu saat saat dia di jual oleh ibu tirinya dan melakukan hal di hotel itu. Di dalam mimpi yang sangat buruk itu, Alena sedang memberontak.
Pria itu memasukkan obat kecil ke dalam mulut Alena dan memaksanya untuk menelan obat itu. Seketika, badan Alena menjadi panas dan terangsang.
"Tuan, bantu aku."
"Ini kau yang meminta baby."
Balasnya Arga dan langsung menc**m Alena dengan ganasnya. Malam itu sangat panas meski AC sudah di nyalakan.
Alena membalas c**m*n itu dan mereka melakukan nya selama 5 menit. Ya..., Kagak usah lama lama y, jika di pikir pikir c**m*n itu bikin nafas abis :v.
"Mmm... Mmphhh...!!"
Alena mulai meronta-ronta sambil memukul-mukul dada bidang Arga dengan pelan, itu menandakan jika Alena sudah kehabisan nafas.
Arga langsung melepaskan c**m*n nya dan mulai menc**mi bagian leher jenjang Alena yang mulus dan putih itu. Beberapa d*s*h*n keluar dari mulut Alena yang membuat nafsu birahinya Arga semakin mengganas.
"Ahh... Tuan, pelan pelanlah. Aku tak aka kabur dari mu."
D*s*h Alena dengan nada bicara nya yang serak itu semakin mengg*d* Arga. Dengan sifat centil yang di miliki Alena, bagaimana dia tidak bisa mengg*d* Arga?
__ADS_1
"Oh baby, aku suka gaya liarmu."
Nafsu Arga semakin memuncak, kini dia meninggalkan bekas kep*m*lik*n di setiap inci kulit Alena. Mulai dari leher hingga bagian p*y*d*r* nya.
Tangan Arga tak hanya tinggal diam. Tangan yang satu meremas p*y*d*r* nya Alena sementara sisanya melepaskan semua pakaian Alena.
Seusai melepaskan semua pakaiannya Alena, kini tinggal Arga yang melepaskan pakaiannya. Kini tak ada sehelai benang pun di badan mereka. Tubuh yang sama sama menggoda itu membuat nafsu birahi keduanya semakin menggila.
Arga yang masih menindih tubuh Alena itu dengan tatapan nya yang dingin tapi bernafsu melihat pupil mata Alena dalam dalam, sementara Alena pun sebaliknya.
"Come on baby."
Goda Alena yang tanpa aba aba langsung menc**m bibir s**y milik suaminya itu.
Mata pria itu terlihat terbelalak karena kaget bukan main. Tapi dia mencoba menyembunyikan kekagetannya itu dari hadapan Alena.
"Kucing liar yang ganas."
Batin Arga seraya membalas c**m*n panas itu.
Beberapa saat telah berlalu, akhirnya c**m*n panas mereka berakhir, tapi tak puas dengan semua itu, tangan yang mulai menjajah bagian bawah Alena. Lebih tepatnya, bagian sensitif.
"Ahhh.... Jangan!"
Pinta Alena seraya menutupi area sensitifnya menggunakan tangan.
"Ck! Merepotkan."
Ucapnya Arga seraya menyingkirkan tangan Alena yang menutupi area sensitifnya. Lalu Arga langsung melakukan nya tanpa basa basi.
Jlebbb!!
Dressss!!!
Darah segar mengalir. Itu tandanya selaput dara Alena sudah sobek. Keperawanan nya di rebut begitu saja oleh seorang lelaki.
__ADS_1
Alena meringis kesakitan bahkan ia menangis seraya meremas sprei erat erat. Dia mencoba menahan sakit itu dan Arga barmain dengan kasar. Ya, malam masih panjang, jadi mereka melakukan itu sampai ber*nd*-r*nd*.