
Akhirnya Arga sudah berada di kamar sang buah hati. Mata Arga terbelalak saat melihat betapa miripnya Alvin dan Aluna dengan wajah dirinya. "Anak anakku..." Gumamnya Arga tersenyum bahagia.
Tiba tiba saja, Helena maju lalu berkata, "Apa kau gila? Mereka anak anak dari sahabatku." Arga terdiam sejenak. Lalu Alena maju dan berniat untuk menjelaskan, "Hey begini, dia mengaku sebagai ayah dari anak anakku," Ia menjeda perkataannya, "Dan dia terus memaksa untuk bertemu Alvin dan Aluna." Sambungnya.
Kening Helena berkerut dalam, "Lalu bagaimana lagi?" Serunya Helena mengernyitkan dahi. Alena terlihat hanya bisa membuang nafas panjang yang berat itu, "Dia ingin memastikan bahwa Alvin dan Aluna adalah anak anak darinya atau bukan." Jelasnya Alena panjang lebar.
Sahabatnya itu masih dalam pose berfikir. "Hah? Lalu setelah kedua anakmu ini tidak cocok dengan nya, orang itu mau apa?" Tanya Helena penasaran. "Dia sudah berjanji tak akan menggangu ku lagi." Jawabnya Alena.
Helena hanya mengangguk angguk dan berkata oh. Di keadaan lain, Arga sedang sibuk memperhatikan kedua anak anak uang berada di depan matanya itu.
"Mama..!!" Racau nya Aluna mengigau. Lalu, Aluna terbangun dengan keadaan nafas tersengal-sengal dan keringat yang bercucuran. Dia mencoba menenangkan pikirannya dan melihat ke arah depan.
Aluna melihat Alena sedang berdiri di sana. Aluna hanya berfikir mungkin itu hanya khayalan nya yang terlalu khawatir pada sang Mama. Bocah perempuan itu mengucek ngucek matanya berkali kali untuk memastikan. Dan ternyata, itu adalah Alena.
"Sini sayang." Serunya Alena sembari meregangkan kedua tangannya. Senyuman di wajah bocah itu nampak merekah lebar. Lalu Aluna langsung berlari ke arah ibu nya itu dan langsung memeluknya.
__ADS_1
"Mama! Kau kemana saja? Aluna rindu sekali... Hiks... Mama kenapa tidak pulang?" Tanya Aluna yang mengomel tanpa henti. Air matanya seketika meleleh dan membasahi pipinya. Begitu senang saat dia bertemu dengan Mama nya itu.
Karena keributan yang di buat oleh Aluna, tak lama dari itu pun Alvin ikut terbangun karena merasa terganggu. "Mama..! Kau sudah pulang?" Tanya Alvin yang setengah sadar. Lalu, bocah laki laki itu melihat sekeliling nya.
Mata Alvin terbelalak saat melihat lelaki yang membuat ibu nya menangis terakhir kali saat bertemu di restoran. "Kau mau apa?" Tanya Alvin marah. Dia nampak tidak senang dengan kehadiran Arga. "Ah..!! Om, di sini mau bermain dengan kalian." Jawabnya Arga canggung.
Kening Alvin mengerut dalam, "Apa yang kau inginkan? Cepat pergi!" Usirnya Alvin kasar sembari menunjuk pintu untuk keluar dari kamar itu.
"Ti-tidak... Aku datang baik baik." Bujuknya Arga. Lalu, karena Alvin terdengar marah marah, Aluna melepaskan pelukannya dan melihat siapa orang yang membuat kakaknya marah.
"Kau...!!!" Pekik nya Aluna kaget. Lalu dia merentangkan tangannya yang bertujuan untuk melindungi ibunya. "Ada urusan apa kau kemari?" Tukasnya Aluna yang juga ikut marah.
"Tapi Nak," Perkataan Alena terhenti paksa, "Mama sudah melupakan dia? Tapi kami tidak, Mam!" Potongnya Aluna kasar. Sepertinya kedua anak itu benar benar marah ketika melihat sang ibu menangis terakhir kali.
"Tapi itu dulu..." Serunya Arga lembut. Dan pandangan Alvin kembali tertuju pada pria itu lagi. "Pergi kau!!" Usirnya Alvin untuk yang kedua kalinya.
__ADS_1
Lalu Helena terpaksa membuka suaranya, "Kau pulanglah, ini waktu yang tidak tepat untuk berkunjung ke sini!" Ucapnya Helena sembari mempersilahkan Arga untuk pergi.
Lelaki itu hanya bisa pergi. Dia pergi dengan keadaan putus asa. Ternyata, kenyataan pahit ini harus di dapatkan oleh pria itu, faktanya adalah Kedua anak anaknya sangat membenci dirinya. Bagaimana dengan kelanjutannya nanti?
...----------------...
Akhirnya arga sampai di kediaman Wilson. Kediaman itu terlihat sangat rapi dan sudah tersedia teh hangat di meja itu. "Siapa yang melakukan ini?" Gumamnya Arga sembari berjalan masuk.
Lelaki itu langsung mendudukkan tubuhnya di atas sofa dan meminum teh itu. Lalu Ara yang membawa koper berjalan keluar dari kediaman itu, "Kau mau kemana?" Tanyanya Arga.
Pertanyaan dari Arga membuat langkah Ara terhenti seketika. Gadis itu menolehkan kepalanya ke belakang dan berkata, "Menyelesaikan kuliahku di Istana China." Jawabnya Ara singkat, ia menjeda perkataannya, "Apa kau senang aku mengangkat kaki dari rumah ini?"
Arga menghela nafas panjang nya yang berat, "Apa maksudmu?" Tukas Arga yang tak mengerti apa yang sedang di bicarakan oleh adiknya itu. "Kau senang aku akan pergi bukan?" Ara berlalu pergi meninggalkan kediaman itu.
...----------------...
__ADS_1
Malamnya, Arga sedang berada di kamarnya. Sebenarnya, dia tak habis pikir kenapa adiknya selalu mempunyai dendam pada Dita? Arga memejamkan matanya lelah, "Apa karena aku terlalu memanjakan Dita dan berlaku tegas pada Ara!?" Gumamnya Arga.
Pria itu terlihat pusing dengan apa yang terjadi, dia lebih baik memejamkan matanya untuk tidur karena sudah terlalu lelah memikirkan ini dan itu pada permasalahan yang ada.