
Note; Author yang berbicara... "Hai guys. Sorry nih ya Author jarang up. Jujur aja kesehatan Author akhir akhir ini menurun drastis. Sumpah itu membuat saya tersiksa. Kemarin aja saya muntah muntah. Tapi Alhamdulillah sekarang udah baikan makanya bisa up lagi. Semoga suka dengan jalan ceritanya, ok?"
...----------------...
Mereka menyudahi aksi bercumbu itu. Tapi siapa sangka bahwa seseorang akan membuka pintu kamar.
Ceklek!
Pintu terbuka dan ternyata itu Dita! Oh My God! Seorang gadis perawan melihat hal tak senonoh!? Sungguh! Apa apaan itu?
Dita terbatu di tempat, matanya terbelalak, "Maaf maaf... Aku ke sini hanya untuk menyampaikan bahwa sarapan sudah siap. Aku akan segera keluar!" Diluar, terlihat jika Dita berbicara dengan canggung. Gadis itu nampak ingin secepatnya pergi meninggalkan tempat yang tak seharusnya ia datangi.
Sementara di dalam, Alena melepaskan lengannya dan mengelap sisi sisi bibirnya yang basah. Dia melirik Arga, "Aku punya sesuatu permintaan..." Ucapnya Alena. Pria yang ada di depannya itu membenarkan posisi nya. Kini Arga tengah duduk. "Katakan..."
Gadis dengan dua anak itu menghela nafas panjang nya, "Bantu aku merebut kembali perusahaan Ibuku." Jelas Alena.
Arga berdiri dari duduknya dan mulai merapikan baju tidurnya yang masih berantakan dan hendak turun ke bawah untuk sarapan. "Itu saja?" Ia menjeda perkataannya, "Ku kira kau meminta berlian atau apalah yang membuat hati perempuan terpikat." Sambungnya Arga.
Alena menggelengkan kepalanya, lalu berkata, "Aku bukan wanita seperti itu." Tukasnya Alena menjelaskan. Tiba tiba Arga berbalik dan menatap Alena. "Aku akan membantumu hanya saja jika kau ikut aku ke sebuah tempat yang akan membuatmu senang." Syarat yang keluar dari mulut Arga terdengar jelas di telinga Alena.
Gadis itu mengernyitkan keningnya dalam, "Untuk apa?" Tanyanya Alena dengan seribu pertanyaan yang keluar di dalam benaknya itu. "Kau tak perlu tahu baby. Yang pasti kau akan menyukai ini." Jawabnya Arga.
Pria itu langsung keluar dari kamar dan hendak sarapan di bawah, begitu juga Alena. Mereka bertiga makan dengan lahap karena selama mereka tidur mereka tak makan sedikitpun. Ya memang tidak makan karena jika makan namanya bukan sedang tidur.
Setelah sarapan, Arga bergegas untuk bekerja ke kantornya. Beberapa menit telah berlalu, Arga sudah siap dengan jas hitamnya dan kemeja putihnya dengan celana hitam kesayangannya. Arga memasuki mobil mewahnya yang di bawa oleh driver nya.
*Kantor Arga.
__ADS_1
Arga keluar dari mobil dan menapakkan kakinya di lobby perusahaan. Banyak pegawai wanita yang berjajar dan rela berdesak-desakan demi melihat wajah Arga yang tampan. Tentunya Arga tak setiap hari datang ke Perusahaan. Karena itu juga para karyawan jarang bertemu langsung dengannya.
Saat Arga hendak masuk ke dalam gedung besar itu, langkahnya terhenti karena sesuatu. "Lepaskan!" Peringatan dari Arga terucap. Pinggangnya di peluk seorang wanita yang sering melakukan itu. Hal itu membuat Arga sedikit jijik.
"Chelsea, lepaskan tanganmu dari diriku!" Pekiknya Arga. Peringatan untuk yang kedua kalinya terucapkan dingin. "Aku tidak mau!" Bantah nya gadis yang bernama Chelsea itu.
Phak!!
Tiba tiba tangan Chelsea terlepas secara paksa. Arga sontak menoleh ke arah belakang, "Dia calon suamiku! Jangan sentuh dia!" Tegasnya Jenny memperingati. Tapi jika di lihat dari mimik wajah Arga, pria itu nampak pusing.
Jika seandainya Jenny berhasil mengusir Chelsea, maka jenny yang akan menempel padanya, dan juga jika Chelsea tak mau mengalah, maka keributan akan terjadi di perusahaannya.
"Berhenti! Kalian semua cepat pergi!" Nada bicara Arga naik lagi satu oktaf. Dia mempelototi kedua wanita yang tergila gila pada diri nya. Tapi hal itu membuatnya jijik.
Arga masuk ke dalam kantornya setelah mengusir kedua wanita tadi. Mimiknya nampak marah. Dia menghentakkan kakinya ke lantai perusahaan. Sungguh sialan!
*Alena pov.
Srazzzz...
Di taman itu terdengar suara air mengalir. Alena tersenyum kecil melihat betapa indahnya pemandangan itu. "Kalian semua menari dengan anggun..." Suaranya terdengar lembut. Gadis itu tengah memuji para kupu kupu yang berwarna-warni.
Tap!
Tap!
Tap!
__ADS_1
Langkah kaki terdengar samar samar karena suara air yang terus mengalir. Alena menolehkan kepalanya ke belakang.
Hap!!
Sebuah tangan menangkap rambut Alena dengan kasar. Tangan itu menarik rambut Alena sehingga beberapa helai rambutnya ada yang terlepas dan terjatuh ke bawah.
"Akhh!!" Erangnya Alena seraya menarik rambutnya agar tidak terlalu sakit. "Jenny, lepaskan rambutku!" Tukasnya Alena dengan mimik kesakitan.
"Ya Tuhan, apa gadis ini gila? Aku salah apa padanya sehingga dia marah seperti ini??" Batin Alena heran.
"Tak akan mungkin! Aku benci kau!" Ungkapnya Jenny yang semakin menarik kasar rambut Alena. Apa gadis ini gila? Pikir Alena.
"Kau membenciku sebab apa?" Tanyanya Alena heran. "Karena kau datang ke kehidupan Arga! Seharusnya kasih sayang dari nya menjadi milikku!" Jelasnya Jenny marah.
"Ya ampun... Gadis ini telah di butakan oleh cinta. Dan ternyata hanya karena Arga!? Sungguh tidak epic!!" Umpatnya Alena dalam hati sembari menggerutu.
Syuuttt...!!!
Sebuah jarum kecil tiba tiba menancap di kulit tangan Jenny yang sedang menarik rambut Alena. "Akh...!!" Rintih nya kesakitan. Gadis itu langsung melepaskan tangannya dan meniupi tangannya yang terluka.
Alena menolehkan kepalanya ke arah dari mana jarum kecil itu tebang sehingga mengenai tangan Jenny. Pandangan Alena tertuju pada sebuah bayangan hitam di balik pohon besar yang tinggi dan sudah tua. Pohon itu berada jauh di luar pagar Keluarga Wilson.
"Siapa dia? Apa dia yang melakukan ini?" Tatapan Alena terlihat menyelidik. Dia terus memperhatikan bayangan hitam itu, "Ah tidak mungkin. Jarak pohon itu sangat jauh, mana mungkin ada orang yang mempunyai mata setajam itu kecuali di jaman kuno." Timbalnya Alena sembari menjauhkan pemikiran curiganya.
...----------------...
Maaf jika terlalu pendek. Author sadar kok jika cerita ini pendek sekali. Huft... Saya akan membuat chapter super duper panjang di eps berikutnya. Mianhe nee?
__ADS_1