Pernikahan Terhangat

Pernikahan Terhangat
Chapter 79. -Masalah-


__ADS_3

Flashback...


Malam itu, saat malam pernikahan Arga dengan Jenny yang gagal di kapal pesiar. Jenny yang belum bersiap-siap melihat seseorang berbadan tinggi, putih, dan tampan, walaupun wajahnya tertutupi topeng.


Rambutnya yang berwarna putih panjang membuat auranya semakin berkharisma. Jenny mendekati pria tadi lalu berkata, "Hai tampan," ucapnya tanpa basa-basi. Zhuge Liang tersentak. "Ayo habiskan waktu bersamaku. Hanya sebentar, tapi akan memuaskanmu," bisiknya lagi.


Zhuge Liang mengernyitkan keningnya. "Maksud anda?" selidiki Zhuge Liang, waspada. Jenny tertawa lalu menarik lengan Zhuge Liang. Mereka pergi ke bagian belakang kapal yang sepi. "Untuk apa kemari?" tanya Zhuge Liang masih dengan kecurigaan.


"Untuk melakukan sesuatu," Jenny hendak mencium bibir Zhuge Liang, namun di tertahan oleh Zhuge Liang yang menghindari. "Ayo lakukan. Kau tidak perlu bertanggung jawab. Hanya perlu menghamili aku," tukasnya, manja.


Perut Zhuge Liang serasa ingin muntah. Rasanya sangat mual. "Maksudmu, aku harus menghamili dirimu!?" tanya Zhuge Liang, lagi. Jenny mengangguk. Zhuge Liang tersenyum miring.

__ADS_1


"Aku tidak mungkin menanamkan benih unggulan keluarga Zhuge pada gadis murahan ini. Itu terlalu berharga!" pikir Zhuge Liang. Pria itu mendorong tubuh Jenny jauh-jauh. ''Maaf, tapi aku tidak tertarik dengan tubuh jelekmu ini! Dan lagi, aku tidak ingin benihku hidup dikeluarga kurang mampu!" hina Zhuge Liang yang kemudian pergi meninggalkan tempat membuat Jenny marah.


"Memang siapa kau!? Beraninya kau menghina keluarga Frank kami!?" teriak Jenny dari kejauhan. Zhuge Liang tidak menjawab sama sekali. Didalam hatinya dia tertawa terbahak-bahak.


.


Lama sudah Ara menunggu dipenjara, namun Zhuge Liang tak kunjung datang. Ia khawatir, begitu pun dengan Arga dan Alena yang sedari tadi ikut menunggu. "Apa terjadi sesuatu dengannya?" pikir Ara kacau. Arga mencoba menenangkan, tapi sikap Arga yang tiba-tiba menjadi baik kepadanya membuat ia agak merasa risih.


"Jangan buang-buang kasih sayangmu untukku. Berikan saja untuk keponakan kesayanganmu," ketus Ara. Arga terdiam. Ia terfikir bahwa selama ini memang kenyataannya bahwa ia selalu membedakan kasih sayang antara Dita dengan Ara.


Ia menyesal. "Baiklah," ucap Arga, pasrah. Dikantor polisi itu, tinggal Arga dan Ara saja yang masih terjaga dan beberapa polisi yang masih berpatroli. Alena sudah pulang sementara keduanya dalam keadaan hening.

__ADS_1


"Kak, apa kau mencintai kakak ipar!?" tanya Ara secara tiba-tiba. Arga agak terkejut sehingga menjawab iya dengan lantang secara spontan. "Alena seharusnya beruntung bisa mendapatkan kasih sayang dan cinta darimu," puji Ara yang sekaligus menyindir.


Hening.


Arga tidak dapat menjawab apapun. Ara tersenyum. "Apa kau lebih menyayangi Dita daripada aku!?" tanyanya lagi. Pertanyaan ini membingungkan. Harus menjawab yang mana? Berbohong? tidak ada gunanya.


"Iya," jawab Arga dengan nada kecil. Ara kemudian tersenyum. "Aku sudah menebak apa yang akan kau jawab. Ternyata benar," senyuman kecil yang nampak manis tapi kepedihan berada didalamnya.


Ternyata pengorbanan ku selama ini tidak ada apa-apanya. Masih saja Dita yang nomor satu. Bahkan, sampai aku masuk penjara, dia masih tetap memprioritaskan Dita. Pikir Ara, dalam. Sangat menyakitkan.


"Aku yang terlalu bodoh mengharap kasih sayang darimu," cicit Ara, lirih.

__ADS_1


__ADS_2