Pernikahan Terhangat

Pernikahan Terhangat
Chapter 59. -Curhat-


__ADS_3

Jenny berlalu pergi karena tangannya terus mengeluarkan darah. Mata Alena teralihkan saat Jenny menggerutu, "Awas kau!" Setelah jenny mengatakan itu, pandangan Alena teralihkan lagi pada bayangan tadi dan ternyata bayangan itu sudah tidak ada.


"Kemana bayangan tadi?" Ucapnya Alena sembari memeriksa sekitar. Tapi bayangan itu tak di temukan seperti tertiup angin begitu saja. Sungguh hal yang aneh!


Alena melangkahkan kakinya maju dan hendak masuk ke dalam rumah besar Arga, tapi langkahnya terhenti saat ponsel di sakunya berdering. Sesegera mungkin dia mengambil ponselnya dan melihat siapa yang mengirimkan pesan.


Matanya terbelalak saat melihat siapa yang mengirimkan pesan padanya, "My Husband Handsome." Gumamnya Alena. Gadis itu memasuki pose berfikir nya.


"Aku tak punya suami terkecuali si cabul yang mengaku ngaku sebagai suamiku." Pikir gadis itu. Tanpa basa basi dia langsung membuka pesan itu.


"Pukul 17.00. Datanglah ke lobby perusahaan ku. ~My Husband Handsome~" Itu isi pesannya. Seketika Alena langsung yakin bahwa nomor itu adalah nomor ponsel Arga. Alena tak menjawab pesan itu. Dia hanya me-read pesan dari Arga.


"Seenaknya saja membuka ponselku dan mengubah nama kontaknya..." Gerutu Alena merasa geram, "Lihat saja ini..." Senyuman di wajahnya merekah. Sungguh menakutkan. Alena mengubah nama kontak Arga dari 'My Husband Handsome' menjadi 'Si Cabul Sialan' Alena tertawa begitu keras setalah dia mengubah nama kontak itu dan men-save ulang. Sungguh luar biasa.


Tawanya berhenti ketika panggilan masuk ke nomornya, "Siapa lagi sih?" Gerutunya Geram. Dia melihat kontak orang yang meneleponnya itu. "Alvin..." Panggilnya Alena setelah sesaat dia membaca kontak panggilan itu. Alena sesegera mungkin menggeser tombol hijau dan menempelkan ponselnya pada salah satu telinganya.


"Alvin?" Serunya memeriksa. "Mama... Ini aku." Jawab Alvin berbalik menyeru. "Liburannya senang atau tidak? Apa Tante Helena ada? Di mana Aluna?" Bocah lelaki itu di hujani pertanyaan dari Mamanya itu.


"Satu persatu Mam.... Pusing jadi nya." Sahut Alvin tak senang. Alena tersenyum canggung di balik telepon itu. "Ya baiklah. Apa Mama boleh bicara dengan Tante Helena?" Tanya Alena.


Alvin langsung mencari Helena tanpa berkata kata. Saat dia melihat Helena sedang duduk di bersantai di kursi, Alvin mendekatinya dan memberikan ponsel itu, "Mama ingin bicara dengan Tante. Ini ponselnya." Alvin menyodorkan ponsel itu.


Helena langsung menerimanya, "Alena tolong aku! Oh tuhan... Pria itu sangat menyebalkan!" Tiba tiba saja Helena berteriak yang membuat Alena menjauhkan ponsel miliknya dari telinganya itu.


"Kenapa? Coba ceritakan..." Sahutnya Alena mencoba mencerna. "Baiklah... Aku akan menceritakannya. Sungguh sial!" Helena langsung menceritakan apa yang di rasakan olehnya. sangat sangat kesal itu yang di rasakan oleh nya.

__ADS_1


*flashback on...


Angga dan Helena sudah sampai di tempat tujuannya. Alvin dan Aluna terlebih dahulu masuk ke dalam dengan cerianya. Senyuman mereka membuat semua yang melihatnya terpesona.


"Anak siapa ini? Imut sekali..."


"Mana karung beras? Aku ingin membawanya pulang."


"Psttt!! Itu ada kedua orang tuanya."


"Mana? Mana?"


"Itu di sana..."


Di sisi lain, Helena merasa sedikit malu dengan hal itu. Tuhan tolong jangan buat mereka salah faham. Aku mohon... Umpat Helena dalam hatinya memohon.


Tiba tiba saja seorang gadis menghadang jalan mereka dan meminta berfoto besama dengan Angga, "Tuan, bolehkah aku berfoto bersamamu?" Tukasnya gadis tadi malu malu.


Sayangnya gadis itu memiliki nasib yang cukup buruk, Angga langsung menolak tawaran gadis itu mentah mentah, "Tidak bisa. Jika tidak istriku akan marah." Tukasnya Angga sembari merangkul Helena secara tiba tiba.


Karena hal itu, Helena terkejut dan sedikit marah karenanya. Angga yang pintar itu langsung memanfaatkan keadaan, "Lihatlah, gara gara kau istriku merasa kesal." Angga berakting seolah olah sedang menjadi pasangan yang romantis untuk Helena.


Gadis itu terlihat putus asa. Dia pergi meninggalkan Angga. "Lepaskan!" Tukasnya Helena ketus. Rasa kesalnya pada Angga semakin bertumpuk menjadi semakin banyak dan banyak.


Duak!!!

__ADS_1


Helena menginjak kaki Angga sekuat tenaganya. Sungguh sakit. "Aduh... Duh... Sakit sekali..." Rengeknya Angga sembari menjinjit jinjitkan kakinya karena terasa sangat sakit. Bagaimana tidak? Dia di injak menggunakan sepatu boot untuk gaya wanita tomboy. Sungguh sangat amat sakit.


Helena berlalu pergi, "Rasakan itu cabul!" Ejek nya Helena sembari meninggalkan Angga. Matanya masih tertuju ke belakang dan tidak melihat apa yang ada di depannya itu.


Brukk!!


Gadis tomboy itu terjatuh karena tak memperhatikan jalan, "Aw..." Dia mengusap usap pantatnya karena terjatuh tadi. Angga yang melihat itu berusaha menghampiri Helena meskipun dengan keadaan berjalan tertatih tatih.


Pria yang di tabrak Helena itu langsung mengenali suaranya, "Helena?" Panggilnya untuk memastikan. Gadis itu pun menoleh karena suara pria tadi juga tak asing di telinganya. "Teo?" Panggilnya balik. Kedua orang itu saling bertukaran tatapan.


"Ehem..." Dehem Angga yang membuyarkan. Teo langsung tersadar dan membantu Helena bangun. Dia menjulurkan tangannya dengan lembut dan Helena menerimanya dengan lembut pula. Hati Angga serasa terbakar melihat hal itu.


Meski kakinya masih sakit, dia berjalan seakan akan tak terasa apapun. Angga langsung memeluk Helena, "Dia milikku! Jangan kau ganggu!" Tukasnya Angga dengan kasar. Dia menepis tangan Teo yang sedang menggenggam tangan Helena.


"Aku ada di sini, kau tak perlu apapun lagi. Pergilah!" Usirnya Angga kesal. Helena malah balik menepis tangan Angga. Gadis itu terlihat kesal. "Kau jangan mengaku-akui bahwa kau kekasihku! Dasar bodoh!" Omelnya Helena.


Teo terkekeh kecil melihat Helena yang mengomeli Angga seperti pada anak kecil. "Diam kau! Dasar bodoh!" Kesalnya Angga yang tak senang dengan kekehannya Teo.


"Kau yang diam cabul!" Ia menjeda perkataannya. "Aku tak mau!" Bantahnya Angga tak terima.


"Pergi kau bodoh!" Sambungnya Helena marah. Angga diam dan berlalu pergi dengan menghentakkan kakinya kasar. Sungguh malang nasib pria itu.


...----------------...


Bagaimana dengan Angga selanjutnya? Apa dia akan menyerah? atau tidak?

__ADS_1


__ADS_2