
*Alena pov.
Di rumah itu, hanya terdapat Alena dan Helena yang sedang duduk di sofa. Alvin dan Aluna sedang bermain bersama Arnon ke taman hiburan.
"Bagaimana, semua urusan sudah selesai. Kapan perusahaan itu menjadi milikmu?"
Tanya Helena membuka pembicaraan.
"Surat perusahaan tak bisa di ubah begitu saja, aku harus menunggu persetujuan dari Orang tua itu. Tapi dia tak akan takut jika bila hanya aku yang mengancamnya."
Jawabnya Alena. Helena mengernyitkan dahinya.
"Lalu apa yang akan kau lakukan!?"
Tanya Helena melirik Alena, sang sahabat. Alena terdiam sejenak.
"Cara satu satunya mendapatkan orang terkaya se-asia atau se-Eropa."
Balasnya Alena.
"Maksudnya, kau akan mendekati anak keluarga Wilson itu!? Ternyata rencana mu tak mudah untuk di lupakan, ya?"
Ucapnya Helena setengah mengejek.
"Huh, siapa dulu dong yang mikirin caranya."
Alena menyombongkan dirinya di depan Helena.
Helena melirik wajah Alena yang sedang berbinar binar dengan kesombongan nya itu.
"Orang narsis!"
Ketusnya Helena dan berlalu pergi meninggalkan tempat itu.
"Hey tunggu. Apa kau tahu, aku hanya bercanda! Ayolah..."
Rengek Alena seraya mengejar Helena yang pergi. Dia mengikuti nya sampai ke dapur.
"Mau apa?"
Tanya Helena menghentikan langkahnya.
"Buntuti kamu dong..."
Jawabnya Alena seraya cengengesan.
"Mau buntuti sampai ke kamar mandi?"
Sindirnya Helena, wajah Alena langsung berubah seketika, dari menjengkelkan menjadi orang yang sedang kesal.
"Ya udah, aku pergi. Hati hati, jangan sampai di tarik ke lubang semut loh ya..."
Sindir balik Alena seraya berjalan pergi.
Alena Pergi ke kamarnya dan mengunci pintunya. Dia menidurkan badannya di kasur yang empuk itu. Alena menghela nafas panjang nya.
"Rencananya, aku akan mendekati pria itu."
Gumamnya Alena.
"Tapi bagaimana caranya?"
Alena sudah seperti orang gila yang berbicara sendiri.
Tiba tiba saja...
Tok.. tok tok!!
Pintu rumah di ketuk seseorang, tak mungkin jika Helena mendengar ketukan itu, dia sedang berada di kamar mandi. Akhirnya Alena memaksakan diri untuk bangun dan berjalan mendekati pintu.
Alena membuka pintu itu perlahan lahan dan terlihat seseorang sedang berdiri di sana. Baginya tak asing untuk di lihat dan tercium bau alkohol yang masih pekat.
"X, apa kau sehabis dari bar?"
__ADS_1
Tanya Alena seraya mempersilahkan masuk.
"Ya, hanya bersenang senang."
Jawabnya X dengan suara khas orang mabuk. Dia pergi ke kamarnya.
"Dia kenapa sih?"
Tutur Alena sembari mengikuti X masuk ke dalam kamar.
"Hey Alena, nanti sore aku akan pergi lagi. Kau harus pandai pandai menjaga diri."
Ucap X seraya membuka pintu lemarinya.
"kau mau ke mana sih? tinggallah disini sebentar lagi."
Bujuk Alena. Tapi X menolaknya dengan segala cara dan akhirnya Alena berhenti membujuk.
"ya begitulah, aku akan pergi ke eropa lagi untuk mengurus geng motor milikku."
Balasnya X, seraya memasukkan barang barangnya ke dalam koper.
"oh? apakah secepat itu X. ayolah tinggal di sini sebentar lagi, pasti anak-anak akan merindukanmu."
Pintanya Alena memohon.
"dengar aku juga memiliki kehidupanku sendiri. kau harus mengerti."
Tolaknya X tanpa melirik Alena dan masih terfokus pada barang barang yang akan dia bawa.
"kau bilang kau akan pulang nanti sore, maksudku jam berapa kau pulang?"
tanyanya alena seraya duduk di kasur kamar itu.
"nanti setelah pukul 04.00 sore aku akan pulang, kembali ke eropa menggunakan pesawat transportasi umum."
jawabnya X tanpa basa basi.
"jika ada apa-apa hubungi lah aku, maka aku akan segera datang ke sini."
"ya baiklah aku akan memanggilmu jika ada sesuatu. oh iya aku akan mengantar mu sampai bandara."
Ucapnya Alena.
"baiklah, terserah kamu saja. mau mengantar aku sampai markas LUSCENTAI juga nggak masalah sih."
Gurau nya X.
"kapan-kapan main ke sini lagi, ya? hehehe."
Tawa cengengesan Alena terpatri di wajahnya.
" ya baiklah asalkan aku kemarin traktir makan di restoran, oke?"
Ucapnya X yang di tanggapi anggukan kepala dari Alena.
Sorenya, Alena dan X bersama anak anak sudah berada di bandara Internasional.
X sudah hendak menaiki pesawat terbang itu.
"Uncle, apa sekarang mau pulang?"
Tanya Alena seraya menarik salah satu jari pria itu.
X berjongkok.
"Aluna, bulan depan mungkin Uncle akan kembali lagi. Jangan terlalu sedih, ya? Nanti uncle bawa kamu jalan jalan memakai pesawat jet pribadi uncle, ya.."
Jawabnya X dengan senyuman ramahnya. Aluna menganggukkan kepalanya.
"Aluna, cepatlah.
Nanti Uncle ketinggalan pesawat!"
__ADS_1
Sahutnya Alvin.
"Iya iya iya..."
Balasnya Aluna.
"X, hati hati ya. Cepatlah ke sini lagi jikanada waktu."
Alena dan X berpelukan beberapa saat. Dan seusai berpelukan, X langsung pergi ke dalam pesawat. Akhirnya, pesawat itu lepas landas.
Alena dan anak anak pulang ke rumah Helena. Tapi mereka terhenti di sebuah mall besar.
"Mama, mau ke mall. Aluna mau beli sepatu."
Ucapnya Aluna yang sedang melihat keluar kaca mobil.
"Baiklah Sayang,"
Alena memarkirkan mobilnya di tempat parkir lalu mereka masuk ke dalam untuk berbelanja.
*Kediaman Wilson Pov.
Arga sedang berada di ruangan tengah dengan keadaan khawatir karena Ara mengurungkan dirinya di kamar. Apalagi setelah Ara mengancam akan menusuk kepalanya sendiri menggunakan gunting.
"Arggghh!! Apa aku terlalu kasar sebagai seorang kakak?"
Tanya Arga seraya mengacak acak rambutnya.
"Tapi Ara juga sangat keterlaluan. Kalau saja dia tidak memancing amarahku, mungkin aku juga tak akan bersikap keras padanya!"
Arga berdiri dan hendak ke kamar Ara untuk memastikan.
"Tunggu kakak! Biarkan Ara sendirian. Mungkin dia butuh waktu."
Sahut Dita yang menghentikan langkah Arga. Dita duduk di sofa yang berada di ruangan itu. Arga memutar balik badannya dan kini berjalan mendekati sepupunya itu.
"Ara, kapan kau akan kembali ke China!? sekolah mu belum selesai."
Sahutnya Arga.
"Hmmm, sepertinya besok aku berangkat. Tapi aku juga belum tahu."
Balasnya Dita seraya cengengesan kecil.
Sementara di kamar Ara, dia masih mengurung diri dengan keadaan menangis seraya memeluk lutut.
* Kamar Ara Pov.
Drth...!! Drth...!!! Drth..!!
Ponsel nya berdering, Ara langsung bangun dan hendak mengambil ponselnya. Dia melihat nama orang yang meneleponnya itu. Tenyata itu adalah Ibunya.
"Ibu? Untuk apa dia meneleponku!?"
Gumamnya Ara seraya menggeser tombol hijau pada layar ponselnya.
"Hallo? Ibu ada apa."
Tanya Ara dengan suara terisak. Sontak hal itu membuat Ny. Wilson kaget.
"Ara, kenapa kau menangis sayang? Apa kakakmu menyakiti dirimu? Katakan padaku sayang..."
Ucapnya Ny. Wilson yang terdengar gelisah.
"Hiks, tidak. Aku tidak apa apa Ibu. Dan kenapa kau menelpon ku?"
Balasnya Ara bertanya lagi.
"Dengan nak, Kakakmu dan Jenny Frank harus segera menikah. Aku mempunyai sebuah rencana. Datanglah ke mall terbesar di kota A. Kita bicarakan di sana."
Ny. Wilson menyeringai licik di dalam telepon itu. Ara hanya mengiyakan permintaan dari ibunya lalu mematikan teleponnya.
"Seperti yang ku janjikan Kakak, aku akan membuatmu menderita."
__ADS_1
Gumamnya Ara seraya menggenggam erat ponsel di tangannya.
...----------------...