Pernikahan Terhangat

Pernikahan Terhangat
Chapter 15. -Mengawasi gerak gerik keluarga Sanjaya-


__ADS_3

Chapter 15. -Mengawasi gerak gerik keluarga Sanjaya-


Saat seusai pembicaraan dengan Helena, Alena pergi menuju kedua buah hatinya yang berada di ruangan keluarga.


"Alvin, Aluna..., Sini sayang..!!."


Ucapnya Alena meregangkan tangannya, kedua bocah itu berjalan mendekati Alena dan masuk ke dalam pelukannya.


"Dengar..., Besok Mama harus pergi lagi, Alvin sama Aluna baik baik ya. Oh iya, Mama janji setelah Mama menyelesaikan tugas, Mama bakalan ajak kalian sama Tante Helena ke taman bermain."


Bujuknya Alena sembari membelai lembut rambut putra putrinya itu.


"Tapi Mama sering sering main ke sini ya..."


Rengek Aluna dengan tatapan lirih. Alvin hanya diam di dalam pelukan hangat ibunya itu.


"Iya..., Mama akan main ke sini kalau ada waktu luang. Yang terpenting jangan menyusahkan Tante Helana, kasihan dia..., Dia harus berkerja dan menjaga kalian..."


Ucapnya Alena mencium kening Aluna.


"Tak masalah bagiku. Mereka berdua sangat membantu..., Apa kalian besok kau pergi sama Tante ke rumah sakit? Tapi jangan nakal lho. Kalian cuma boleh main di ruangan tante, jangan buntuti Tante ke sana kemari, oke?"


Ajak Helena yang tiba tiba menyahut. Alena tersenyum ke arah Sahabatnya itu.


"Baiklah...!!!"


Jawabnya serentak kedua anak itu.


"Terimakasih..."


Ucapnya Alena dengan nada lembut. Helena tersenyum lalu mengangguk.


"Tak masalah..., Hanya urusan kecil..."


Guraunya Helena sembari duduk di sofa. Aluna dan Alvin melepaskan pelukannya lalu kembali menonton tv.


Alena duduk di samping sahabatnya itu.


"Helena, bagaimana menurutmu jika aku mendekati orang terkaya se-Asia!?"


Tanyanya Alena yang membuat Helena tercengang.


"Kamu jangan gila Len!! Anak pertama Keluarga Wilson itu sudah memiliki istri bahkan anak!! Kamu mau di anggap pelakor!?"


Ucapnya Helena terkaget-kaget.


"Tapi bagaimana lagi? Aku harus menyingkirkan istri dari tuan muda itu...!!"


Balasnya Alena dengan tekad yang kuat. Helena menepuk jidatnya sendiri.


"Apa kau sadar dengan apa yang kau lakukan?"


Tanya Helana lagi.


"Sadar lah, masa mabuk.."


Balasnya Alena bergurau, Helana sudah pusing dengan kelakuan Sahabatnya itu dan langsung pergi meninggalkan temannya itu.


Saat semua sudah tidur, Alena masih bangun sembari melihat layar ponselnya. Dia tentunya sedang memeriksa gerak gerik Keluarga Sanjaya.

__ADS_1


Sementara itu, di keluarga Sanjaya, mereka sedang berkumpul di ruangan tengah terkecuali Arnon. Kemana dia?


"... Baiklah, sesuai rencana kita. Aku akan menyabotase pekerjaan Alena, dengan begitu dia tak akan mendapatkan posisi Wakil Direktur Utama. Jika aku gagal, maka terpaksa aku harus membunuhnya atau melakukan apapun yang membuat dia tak bisa berkutik lagi!"


Jelasnya Tn. Bram, Ny. Rika menyeringai licik dengan di temani putrinya itu mereka tertawa keras.


"Jadi, aku lah yang akan mendapatkan posisi Direktur Utama Perusahaan!?"


Tanyanya Rara dengan gembira, Tn. Bram mengiyakan pertanyaan dari putrinya itu.


Tapi, tiba tiba saja Ny. Rika berdiri.


"Tidak, aku tak setuju. Yang harus mendapatkan gelar Direktur Utama itu harusnya Arnon, karena dia putra di keluarga ini!"


Bantah Ny. Rika yang sempat membuat Rara tenganga tak percaya.


"Ibu, apa maksudmu!? Kita sudah bekerja sama namun kenapa hasilnya malah di berikan pada baj*ng*n tak berguna itu!?"


Balasnya Rara dengan nada meninggi.


Plakkk!!


Satu tamparan mendarat di wajah gadis itu.


"Dia adikmu, tak sepantasnya kau menyebutnya baj*ng*n!!"


Bentaknya Ny. Rika dengan nada tinggi, gadis yang di tampar itu melihat Ibunya.


"Ibu!! Aku yang telah membantu mu menyingkirkan Alena, tapi kenapa kau menusukku dari belakang!?"


Ucapnya Rara seraya memegangi pipinya yang di tampar keras itu.


Lerai Tn. Bram, kedua wanita itu duduk kembali. Rara yang mengepalkan tangannya kuat kuat menahan amarahnya dan air matanya.


Sementara di posisi Alena, dia tersenyum licik sembari terus mengamati gerak gerik musuhnya itu.


"Bagus!! Kesempatan..!! Aku bisa mengadu domba kan antara ibu dan anak itu! Rara yang arogan dan semena mena itu sangat mudah di pengaruhi! Setelah menyelesaikan misi, aku akan memulai misi baru lagi!! Hahahah...!!"


Tawa jahat Alena memenuhi ruangan itu, Helena yang mengamatinya dari kejauhan menggelengkan kepalanya.


"Apa aku memiliki teman yang gila!?"


Ucapnya Helena yang membuat Alena menoleh seketika. Dia tertawa cengengesan.


"Kenapa kau belum tidur?"


Tanyanya Helena sembari berjalan ke arah dapur untuk mengambil minum.


"Belum ngantuk..."


Jawabnya Alena sedikit berteriak. Dia kembali fokus terhadap hp-nya.


Beberapa saat kemudian, Helena datang membawa sebotol wine dengan dua gelas kosong ke hadapan Alena.


"Minum? Kita sudah lama tak minum bersama..."


Ucapnya Helena sembari menuangkan Wine dalam gelas.


Dia memberikan salah satu gelas itu pada Alena. Alena langsung menerimanya tanpa ragu dan meminumnya.

__ADS_1


"Kau membosankan!!"


Keluh Helena seraya melirik apa yang ada di dalam hp itu.


"Kamu mengawasi mereka?"


Tanya Helena kepo, Alena hanya mengangguk menanggapi ucapan Sahabatnya itu.


"Apa yang akan kau lakukan selanjutnya?"


Tanyanya Helana lagi, Alena menoleh ke arahnya lalu mematikan layar ponselnya itu.


"Mengadu domba antara ibu dan anak. Sebentar lagi akan ada hal yang menarik."


Tiba tiba saja senyuman licik Alena terpatri di wajahnya. Helana mengernyitkan keningnya.


"Sungguh luar biasa, dan aku menantikan hal itu terjadi..."


Ucapnya Helena tersenyum evil, Alena mengambil botol wine itu dan menuangkannya ke dalam gelas miliknya.


"Ayo..."


Ajak Alena mengangkat gelasnya agak tinggi, Helana sudah faham dengan apa yang di maksud oleh sahabatnya itu.


"Cheers!!"


Ucapnya mereka berdua sembari mengadukan kedua gelas mereka masing masing.


Beberapa saat setelah mereka minum dan sudah habis satu setengah botol wine, Alena berdiri dan hendak pergi.


"Kemana?"


Tanyanya Helana dengan keadaan sadar. Langkah Alena terhenti dan berbalik.


"Aku mau pulang ke kota C. Tolong aku menjaga Alvin dan Aluna..."


Jawab Alena, Helana mengernyitkan dahinya.


"Ini sudah tengah malam, apa kau tak bisa menginap di sini saja!?"


Ucapnya Helena sembari melirik ke arah jam yang sudah menunjukkan pukul 24.53.


"Tak bisa. Aku harus pulang sekarang jika tidak si tua bangka itu akan curiga padaku karena dia selalu mengawasi setiap pergerakan dariku!"


Alena berlalu pergi setelah mengatakan kata kata itu, Helena mengikutinya sampai ke depan rumah.


"Hati hati! Jangan sampai menabrak pohon loh..."


Teriak Helena melambaikan tangan. Alena terkekeh kecil.


"Aku tak akan menabrak pohon, aku akan menabrak seseorang."


Guraunya Akena sembari cengengesan, Helena ikut terkekeh mendengar jawaban dari sahabatnya itu.


"Hati hati masuk penjara!"


Teriak Helena melambaikan tangannya, Alena masuk ke mobil dan langsung melanjukannya Dengan kecepatan di atas rata rata.


Seharusnya sangat tak di perbolehkan untuk wanita berkendara malam malam seperti yang Alena lakukan, apalagi dengan keadaan yang bisa di bilang mabuk karena bagaimanapun dia sehabis minum.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2