Pernikahan Terhangat

Pernikahan Terhangat
Chapter 48. -Kutukan-


__ADS_3

Malamnya, semua sudah siap untuk tidur. Tapi mereka tidak bisa tidur karena keadaan yang tidak menjamin. Keadaan hanya gelap gulita dan suara hewan yang saling sahut menyahut membuat suasana semakin mencekam.


Di sana tidaklah ada listrik apalagi lampu. Sumberdaya minyak bumi juga terbatas jadi menyulitkan untuk membuat lampu petromax. Mereka hanya berdiam diri tanpa cahaya di sana.


Tiba tiba badan Louise bergidik ngeri, lalu berkata, "Hantu, tolong ada hantu. Kenapa gelap sekali!?" Zhuge Liang menolehkan kepalanya ke arah pria yang berkata ketakutan tadi. "Berisik!" Tegasnya Zhuge Liang kesal.


Tiba Tiba, Zhuge Liang berdiri dan hendak pergi, tapi seseorang menghentikan langkah kakinya, "Mau kemana kau?" tukasnya Marquez bertanya. "Mencari kayu bakar." jawabnya singkat dan berlalu pergi. Tapi tak lama kemudian Marquez berdiri dan mengikuti Zhuge Liang.


Sementara di tempat tadi, tersisa Alena, Arga, Louise, Angga dan Sean. Mereka duduk bersampingan. Alena berada di tengah-tengah.


Gadis itu merasa ngantuk sehingga tak sadar jika kepalanya perlahan-lahan memiring tanpa sadar. Arga yang menyadari itu langsung menyuruh Sean berpindah tempat dengannya. "Bro lu bisa pindah nggak?" tukasnya Arga bertanya tanpa suara, Angga hanya mengangguk lalu berpindah. Kini Arga duduk di tempat Angga dan Angga duduk di bagian paling ujung.


Setelah itu, Arga memiringkan kepala Alena ke arah dirinya, "Tidurlah di sini..." Bisiknya Arga pada telinga Alena. Gadis itu langsung tersadar dan membenarkan posisi nya, lalu bertanya, "Sejak kapan kau berada di situ?"


Arga tersenyum kecil. Dia tak menjawab pertanyaan dari gadis itu. Alena hanya berusaha untuk membuka matanya sekuat mungkin, tapi apalah daya. Karena sangat ngantuk akhirnya Alena menyerah dan tertidur di pundak Arga tanpa sadar.


Pria itu terlihat tersenyum kecil dan membelai lembut rambut Alena lalu menyium kening gadis itu. Tak lama setelah itu, Zhuge Liang dan Marquez kembali membawa gundukan kayu bakar.


"Kayu bakarnya datang, kita bisa menghangatkan diri sekarang." Sahutnya Marquez yang membuat Louise menghela nafas leganya lalu menyambut kedatangan kedua temannya itu, "Akhirnya kalian datang. Cepat buat api unggun nya." Pintanya Louise berbinar.


Mereka berempat menyiapkan api unggun termasuk juga dengan Sean dan Angga. Beberapa saat telah berlalu, Mereka berempat akhirnya selesai menghidupkan api unggun. Mereka semua menghangatkan diri tapi tiba tiba suara serigala saling sahut menyahut semakin dekat dan dekat.


Byuuurrrr!!!

__ADS_1


Seseorang menyiram api unggun menggunakan air hingga api itu padam. Orang itu dengan marah bertanya, "Apa yang kalian lakukan!?" Marquez dan yang lainnya mengerutkan keningnya dalam. Lalu Zhuge Liang maju dan menjelaskan, "Kami sedang menghangatkan diri."


Pria itu nampak semakin marah setelah mendengar hal itu, "Apa kalian tahu di daerah ini dilarang menyalakan api di malam hari." Geramnya si Pria tadi. Tak lama dari itu, Marquez maju, "Larangan atas apa? Memang apa yang terjadi?" Tukasnya Marquez bertanya.


Pria tadi itu nampak membuat nafas dengan kasar, lalu menunjuk ke arah belakang para pemuda itu dan berkata, "Lihatlah kebelakang mu." Ucapnya.


Semua orang mengalihkan pandangannya ke arah yang di tunjukkan oleh si bapak terkecuali Alena yang tengah tertidur. Mata mereka terbelalak saat melihat banyaknya mata yang bersinar sedang mengawasi mereka di balik semak-semak.


"Serigala," tukasnya Marquez terbelalak. Lalu dengan sigap Arga langsung berdiri dan menggendong Alena, "Lalu kita harus apa?" ucapnya Arga cemas.


Pria tadi nampak menghela nafas panjangnya, "Kita harus masuk." Ucapnya Pria tadi dan melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah yang di ikuti oleh Arga dan yang lainnya.


Saat mereka sudah di dalam, Arga membaringkan tubuh Alena di atas kasur dengan lembut, lalu bertanya, "Apa yang terjadi dengan pulau ini?"


"Lalu suatu hari, ada rumah seorang nenek yang hidup hanya dengan Cucu laki lakinya, tapi sayangnya, rumah itu terbakar dan mengakibatkan kematian cucu laki-laki nya itu. Nenek yang tak kuasa melihat sang cucu terbakar di dalam pun mengutuk pulau ini 'Aku mengutuk siapapun yang menyalakan api di malam hari, dia akan mati!' Begitulah ceritanya."


Arga yang mendengar penjelasan itu mengangguk pelan, "Jadi, dari mana datangnya serigala serigala itu?" ucapnya Arga bertanya lagi dan pria tadi itu hanya mengangkat bahu.


"Tidurlah, sekarang sudah malam." si pria berlalu meninggalkan ruangan itu dan menutup pintunya. Dan para anak muda itu tidur meski perasaan mereka tidak tenang.


...----------------...


Besoknya, pagi pagi sekali, mereka sudah selesai bersiap siap. Ternyata hari ini mereka pulang, Marquez sibuk mengurus tim-nya untuk masuk ke dalam hutan, "Apakah bisa masuk?" Tukasnya Marquez yang sedang berbicara dengan bawahannya lewat telepon.

__ADS_1


Lalu bawahannta Marquez yang menjawab, "Ya, kami bisa masuk. Kami akan segera menemukan anda." Lalu tiba-tiba sambungan telepon itu terputus karena jaringan yang sangat buruk, dan ternyata... Marquez saja sampai memanjang pohon kelapa untuk mendapatkan sinyal.


Marquez turun dari pohon kelapa itu perlahan-lahan, "Bagaimana?" Sahutnya Zhuge Liang yang membantu Marquez dari bawah. Marquez hanya menghela nafas, "Mereka sedang mencari kita." Jawabnya Marquez singkat.


Sementara di keadaan lain, Alena sangat senang karena sebentar lagi akan bertemu dengan anak anak kesayangannya. Dia tersenyum manis. "kau senang karena sebentar lagi akan bertemu dengan anak anak kita kan?" sahutnya seseorang yang membuyarkan lamunan Alena.


"Ada apa kau kemari? Pergilah, dan ingat; mereka bukan anak anakmu!" Bantah Alena galak. Pria yang berada di belakangnya itu terkekeh kecil, "Ayo lakukan test DNA!" Arga mencoba meyakinkan.


Dan lalu masuklah Marquez dengan Zhuge Liang yang sedang berbincang bincang kecil. Marquez melihat jika Arga sedang berada di dekat Alena, dia menoel Zhuge Liang lalu berkata, "Kau bantulah adikku, semua urusanku akan ku urus."


Zhuge Liang tak bergeming, dia menatap sinis temannya itu, "Apa yang kau rencanakan?" Ucapnya Zhuge Liang tanpa bersuara. Marquez hanya tersenyum kecil, dan menjawab, "Melihat seberapa posesif nya adik iparku."


Lantas, Zhuge menatap sinis sahabatnya itu dan berkata, "Mau melihat seberapa posesif nya adik ipar mu," tukasnya menjeda, "kenapa harus aku? kau saja." sambungnya dan berlalu pergi meninggalkan sahabatnya yang mencoba untuk menjebaknya tadi.


Dan Marquez? Dia tak ada pilihan lain selain mencobanya sendiri. Marquez berjalan mendekati Alena lalu berkata, "Apa yang kalian bicara kan?" Alena menolehkan kepalanya ke arah Marquez, "X..." pekiknya Alena.


Marquez duduk di sebelah Alena dan lebih jarak antara Alena dan Marquez sangat dekat berbeda dengan Alena yang menjaga jarak dengan Arga.


Hati lelaki itu terasa sangat panas melihat Alena yang dekat dengan Marquez, "Hey, apa kau sudah mengemasi baju mu?" tanya Marquez pada Alena untuk menguji kesabaran Arga.


"Ah belum, beberapa lagi belum aku masukkan ke dalam kantong. Dan pakaian, ini, " Ia menjeda perkataan nya dan melihat baju yang di menempel pada dirinya sekarang, "bagaimana dengan pakaian ini?" sambungnya lagi.


Marquez menyentuh pakaian yang di pakai Alena dan berkata, "Buang saja, pakaian ini tidak berharga." Jawabnya Marquez yang membuat Arga marah karena Marquez sembarangan menyentuh Alena.

__ADS_1


Pria yang sudah terbakar api amarah itu pun langsung bangkit dari duduknya dan berjalan untuk lebih dekat dengan Alena lagi, "Minggir!" Tegasnya Arga mengusir Marquez dan duduk di tengah tengah Alena dan Marquez.


__ADS_2