Pernikahan Terhangat

Pernikahan Terhangat
Chapter 71. -Terjebak-


__ADS_3

Note; Author yang berbicara.


Hai guys, ini miss~ btw, Miss mau cepet-cepet tamatin cerita ini, biar cerita satu lagi bisa ke urus. Mungkin, beberapa bulan lagi bakalan tamat. Masih lama ya? Yaudah, lanjut aja.


.


.


.


Aluna dan Alvin sudah bangun dari tidurnya. Hari ini hari Minggu, jadi mereka libur sekolah. Aluna mendekati Helena yang memang sedang bersantai diruang tamu, "Tante Helena," manja Aluna. Tiba-tiba Arnon datang dan menggendongnya. "Keponakan uncle kenapa? Kok kayaknya sedih? Uncle belikan ice cream ya?" Bujuk Arnon sembari hendak berjalan ke luar.


"Wa... apa uncle benar-benar ingin membelikan Aluna es krim?" tanya Aluna, gembira. Arnon menatap sang keponakan. "Apa ada tampang berbohong di wajahku ini?" ucap Arnon, bertanya balik. Aluna menggeleng-gelengkan kepalanya. "Kalau begitu, ayo kita beli!"


Ayoo!!

__ADS_1


Alvin menggeleng kepala dengan cepat. Kepalanya terasa pening. "Apa secepat itu dia melupakan misinya?" Gumam Alvin sembari menghela nafas panjang. Alvin menarik nafasnya dalam-dalam. Dia sudah membulatkan tekad untuk menggunakan jurus yang menurutnya memalukan.


"Tante Helena...." Rengek Alvin, yang sebenarnya merasa sangat risih. Helena bangun dan menatap Alvin dengan heran. Seperti tengah terjadi sesuatu yang ajaib. "Barusan kau merengek Alvin?" kaget Helena, ternganga.


"Tidak," pikir Alvin, geram. "Tante..." rengek Alvin kemudian. Helena langsung menempelkan punggung tangannya di dahi Alvin. "Tidak panas," ucap Helena. Kemudian dia menatap Alvin dengan seksama. "Apa ada yang sakit?"


Argh!


Alvin sangat ingin berteriak, tapi tidak mungkin. "Tante, pipi mama kenapa?" tanya Alvin dengan suara manjanya. Lalu, Helena terduduk kembali. "Ternyata demi ini," cicit Helena, tidak semangat.


"Tante..." Alvin kembali merengek-rengek. Helena hanya menghela nafas panjang. "Mama Alena kan sudah menjelaskan tentang luka memarnya, kenapa kalian tidak percaya?" Ucap Helena, menjelaskan.


Cup!


Alvin mencium pipi Helena dengan lembut. Mata Helena membesar karena kaget, kaget bukan main. Alvin kemudian duduk di pangkuannya. "Aunty... Aku tidak tega melihat mama kesakitan karena bekas lukanya... Aunty, katakan apa yang terjadi?" bujuk Alvin, dengan nada merengek.

__ADS_1


"Aunty tidak tahu, Alvin." Helena masih tetap pada pendiriannya. Astaga, bagaimana lagi aku bisa membujuk Aunty. "Baiklah kalau begitu, Alvin punya permainan, tapi Aluna sedang pergi bersama uncle Arnon, aunty temani Alvin bermain ya?"


Hmm,


Alvin kemudian turun dari pangkuan Helena. "Aunty, jawab dengan jujur." ucap Alvin sembari melipat tangannya di depan dada. "Siapa sahabat terbaik aunty?" tanya Alvin dengan tegas.


Alena Garzia.


Alvin berjalan memutari Helena yang tengah duduk di sofa itu. "Aunty, siapa orang yang sedang aunty sukai?" tanya alvin.


Angga Brayen.


Alvin menyeringai licik. "Aunty, siapa yang membuat luka memar diwajah mama Alena?" tanya Alvin.


Arga Wilson!

__ADS_1


Helena terdiam. Dia menyadari dirinya sudah dijebak oleh keponakannya sendiri. "Alvin, apa kau menjebak aunty?" tanya Helena, geram. Alvin hanya tersenyum. "Haha... terimakasih informasinya, Aunty,"


Kemudian, Helena mengejar Alvin karena bocah laki-laki itu sudah menjebaknya. "Wleekkk" ejek Alvin sembari mengeluarkan lidahnya. "Awas kau Alvin Garzia!" teriak Helena sembari terus mengejar Alvin hingga waktu tidak terasa berjalan begitu cepat.


__ADS_2