
Pasukan Marquez sudah menelusuri lautan itu, tapi tak terlihat tanda tanda keberadaan Alena dan Arga. Mereka terus melakukan pencarian sampai tengah malam.
Karena perasaan Marquez semakin lama semakin tidak enak, dia memutuskan untuk menelpon Sean terlebih dahulu untuk mengetahui info.
"Hallo tuan?"
Ucapnya Sean membuka pembicaraan, tapi suaranya seperti ketakutan.
"Bagaimana dengan adikku?"
Tanya Marquez penasaran. Sean meneguk air liurnya dan mencoba menenangkan diri.
"Belum di temukan Tuan. Tapi tenang saja, saya akan terus berusaha mencari Nona Muda."
Balasnya Sean dengan suara yang semakin bergetar. Marquez mencengkram ponselnya lebih kuat lagi.
"Apa kau bilang..."
Marquez kini berkata dengan suara datarnya. Sean lagi lagi menelan saliva-nya dengan susah payah.
"Tu-tuan, anda pulanglah dulu, serahkan semuanya padaku."
Bujuknya Sean, Marquez mengernyitkan dahinya lalu tanpa peringatan dia memutuskan telepon.
Sementara itu, Sean dengan wajah gelisah nya melihat laut yang luas itu. Dia menghela nafas panjang.
"Nona, sebenarnya anda di mana? Tolong jangan mempersulit diriku."
Gumamnya Sean yang masih sibuk mencari itu. Pandangan Sean teralihkan ke sebuah pulau besar yang lebat dengan pepohonan.
"Apakah memungkinkan jika nona berada di pulau itu!? Tapi tidak mungkin, pulau itu sangat terlarang."
Batinnya Sean dengan ragu ragu. Sean lebih memilih untuk tidak pergi ke sana.
Sean dan tim-nya melakukan pencarian hingga pagi. Pencarian masih berlanjut sampai pukul 8 pagi. Tiba tiba saja ada sebuah helikopter besar yang mendekati ke pasukan itu.
Helikopter itu memiliki cap 'The King Of LUSCENTAI'. Sean yang melihat itu langsung bersiaga menyambut kedatangan king-nya itu.
Saat helikopter itu mendarat, 4 orang keluar dari helikopter itu. Marquez, Loise, Zhuge Liang, dan Angga. Mereka sudah menggunakan perlengkapan. Ransel yang besar, pakaian yang panjang dan tebal, serta makanan.
"Apa kau sudah mencari ke dalam?"
Ucapnya Marquez membuka pembicaraan, Sean langsung menundukkan kepalanya memberikan hormat.
__ADS_1
"Be-belum Tuan."
Jawab Sean gugup, sepertinya jawaban dari Sean kurang memuaskan di telinga Marquez. Terlihat kemarahan yang besar di matanya, rahang dan Otot tangannya sudah mengeras.
"Lalu apa yang kau lakukan selama ini!? Kau tidak becus sebagai asisten pribadi ku Sean!"
Datarnya Marquez. Dia sedang menahan amarahnya untuk tidak memukul sembarangan orang.
"A-aku..."
Sean semakin di buat gugup oleh Pria yang satu itu. Tiba tiba Zhuge Liang melangkahkan kakinya maju.
"Kita masuk saja ke dalam."
Sahutnya Zhuge Liang seraya berjalan maju dan hendak memasuki hutan itu. Tapi tiba tiba Sean berteriak memperingati.
"Tidak Tuan, jangan kesana. Aku mohon jangan ke sana. Di sana sangat berbahaya karena suku asli pulau ini sangat kejam."
Sean yang berusaha menghentikan langkah si datar Zhuge Liang. Sean sedang bersujud meminta kepercayaan dari ke-empat orang yang sangat berpengaruh di Negara itu.
Tiba tiba saja Marquez jongkok lalu mencengkeram erat dagu Sean. Nampak jelas jika si asisten meringis kesakitan.
"Apa katamu? Di sana berbahaya? Dengar lah Sean, jika aku tak di perbolehkan masuk, lalu kenapa adikku di biarkan hm? Aku pergi untuk menari Alena, jadi jangan coba coba kau halangi jalanku!"
"Sudahlah Marquez. Lebih baik kita masuk ke dalam untuk memeriksa keadaan."
Timbalnya Loise yang hendak memasuki kawasan itu. Tiba tiba Sean kembali bersujud di atas pasir dan memohon.
"Aku mohon Tuan, tolong biarkan aku ikut dan mencari nona Alena."
Mohonnya lagi Sean. Marquez hanya bisa menghela nafas panjangnya.
Marquez tak menjawab sahutan dari Sean, hal itu membuat pangeran dan dokter yang lainnya terdiam tak menjawab. Sean menundukkan kepalanya.
"Saya mohon tuan, saya ingin melindungi anda. Saya rela mengorbankan nyawa saya."
Sean kini memohon kembali, lalu Marquez mengalihkan pandangannya ke arah pria itu.
"Oh? Rela mengorbankan nyawa? Cih! Mulutmu sangat lincah. Pernahkan kau berpikiran jika sedari tadi kau masuk ke dalam, mencari Alena, mungkin saja aku tak perlu turun tangan sendiri."
Balasnya Marquez merendahkan. Perasaan Sean semakin tak karuan. Dia merasa bersalah namun juga ingin bertanggungjawab.
"Sudahlah, lebih banyak orang lebih baik. Biarkan dia ikut, mungkin saja kita akan semakin cepat menemukan Alena dan Arga."
__ADS_1
Sahutnya Angga memberikan usulan. Tapi para pangeran langsung saja masuk ke dalam hutan dengan di ikuti oleh Angga dan Sean.
Mereka masuk ke dalam hutan itu semakin dalam dan dalam. Banyak hewan berbahaya di sana. Ada kalajengking emas dari Eropa, kalajengking putih dari India dan gurun. Ular piton hitam, ular king cobra, katak merah, dan lain lainnya.
Hewan hewan itu tentunya sangat berbahaya karena bisa yang dimiliki masing masing hewan. Tapi, perasaan ke-lima pria itu tak enak karena merasa sedang di awasi.
Di sisi lain, Alena dan Arga sudah berada di sebuah gubuk bambu yang sangat indah.
*Alena dan Arga Pov.
Pelan pelan Alena membuka matanya dan melihat sekeliling. Terlihat jika ada wanita tua yang memakai pakaian sederhana dan bisa di katakan cumpang-camping sedang berdiri membelakangi Alena.
"Eug..."
Alena mengerang seraya bangun bangkit untuk duduk dan memegang kepalanya yang masih sakit.
Wanita itu menoleh dan membuat Alena agak kaget. Apakah wanita itu bisa berbicara bahasa umum?
Umpat nya Alena dalam hati.
Tiba tiba Alena bangun dan langsung mengangkat tangannya lalu memperagakan kejadian. Tapi maksud Alena adalah untuk menanyakan tempat itu di mana dan kenapa bisa menemukan dirinya.
Tapi anehnya, wanita yang sedang berdiri di depannya itu nampak ketakutan melihat tingkah Alena.
"Apa kau gila nona?"
Tanyanya wanita itu dengan berbahasa umum. Alena tercengang dan ada sedikit rasa malu di hatinya.
"Ku kira dia tak mengerti bahasa umum, ternyata dia mengerti. Kalau aku tahu dari tadi, tidak mungkin aku akan mempermalukan diri sendiri."
Batinnya Alena sembari menyuguhkan senyuman canggung nya itu.
"Ini di mana?"
Tanya Alena sembari menggaruk tengkuknya yang tak gatal itu.
"Ini adalah pulau terpencil. Tak ada orang yang ke sini dan di sini juga tempatnya bagi para ras yang sudah langka seperti kami berlindung."
Jelasnya wanita itu.
...----------------...
Tolong bantu vote😠admin mohon. Plisss lah ya, kalian support saya. Saya juga bikin cerita pakai internet, tolonglah, setidaknya bantu saya vote supaya masuk rank vote 10 besar. Susahkah hanya mengirimkan vote dan tap like? Sesusah itu kah!?
__ADS_1