
Arga yang masih merasa bingung, namun juga senang langsung memberi tahukan pada Alena. Dia menunjukkan bukti yang dikirim oleh Ara. "A-apa-apaan ini!?" kaget Alena sampai tak bisa berkata-kata. Arga langsung memeluk Alena. "Jenny yang memalsukan data tentang test dna waktu itu. Kita sebenarnya adalah keluarga. Alvin dan Aluna juga anakku,"
Alena tercengang, masih tidak percaya. "Dari mana kau dapatkan informasi ini!?" tanya Alena. "Aku mendapatkan ini semua dari Ara," balas Arga. Sangat senang pria itu mengetahui bahwa Alvin dan Aluna memang adalah anak kandung darinya.
"Kita adalah... Suami istri?" Tanya Alena yang masih tidak percaya. Arga mengangguk lalu mencium bibir Alena dengan lembut. "Iya. Sudah kubilang bahwa kau adalah istriku," jelas Arga, girang.
.
.
Ara dibawa ke kantor polisi dan langsung dipenjara. Para paparazi atau wartawan yang mengetahui bahwa Ara Wilson masuk penjara karena penembakan terhadap Jenny Frank langsung menyiarkan secara live. Berita itu langsung disiarkan keseluruh berita media.
Sementara Ara hanya bisa menunggu seseorang menyelamatkan dirinya. Saat ini Ara langsung di interogasi oleh polisi. "Nona Wilson, apa yang mendorong Anda untuk menembak nona Frank!?" tanya polisi, menyelidik.
__ADS_1
"Tidak ada," jawab Ara, hambar. Polisi itu menatap tajam Ara. "Jadi anda menembak nona Frank tanpa alasan!?" tanya lagi si polisi. Ara terdiam. Tidak ada keributan sama sekali disana. "Jawab!" tegas sang polisi.
"Tidak," jawab Ara masih dengan nada yang sama. Polisi itu masih mempunyai kesabaran. "Apa yang anda ingin jelaskan tentang penembakan anda terhadap nona Frank?" tanya sang polisi, mencoba lagi.
Hening.
"Sedikit saja," polisi itu masih mencoba menggali informasi tentang penembakan Jenny. Ara yang tadinya menundukkan kepalanya langsung terangkat. "Tidak ada!" jawab Ara.
Sang polisi sudah kehabisan kesabaran. Dia kini berdiri dan langsung menggebrak meja. "Jangan membuat kesabaran ku habis, aku bisa berbuat kasar!" ancam sang polisi yang sama sekali tidak membuat Ara gentar.
Phak!
Satu cambukan mendarat dipunggung Ara. Gadis itu sedikit meringis kesakitan. "Berani sekali kau menyakiti adikku!" teriak seseorang yang membuat perhatian semua orang teralihkan. "Kakak!?" pekik Ara. Ternyata itu adalah Arga.
__ADS_1
"Jangan sakiti adikku!" satu peringatan membuat sang polisi tersenyum licik. "Tuan muda Wilson," sambut sang polisi berpura-pura menyapa. Sial! Sepertinya Jenny juga menyogok polisi itu, pikir Ara.
"Lepaskan adikku! Dia tidak bersalah!" ucap Arga, penuh penekanan. Polisi itu terdiam lalu menaruh cambuk yang sudah berdarah itu. "Hahaha.... Tuan Arga Wilson, jangan berfikir bahwa uang bisa melakukan apapun," ucap sang polisi.
"Uang memang bisa melakukan apapun. Bahkan bisa membuat mata hukum tertutup!" teriak Ara dari belakang. Gadis itu membuka suaranya setelah sang kakak datang. "Keluarkan adikku! Dia hanya berusaha membantuku!" tegas Arga.
"Lalu bagaimana dengan nona Jenny?" tanya sang polisi memanas-manasi. "Aku mohon, jangan perpanjang kasus ini. Aku akan menyewa pengacara terbaik untuk adikku!" ucap Arga berusaha bekerjasama. Namun tidak! Polisi itu telah setia kepada Jenny.
"Hukum adalah hukum, dan hukum tidak bisa disogok oleh uang. Ingat itu!" Jelas sang polisi meninggikan diri. "Cih, nyatanya hukum bisa di sogok oleh uang itu fakta!" Ara kembali membuka suara.
"Bungkam dia!" ucap sang polisi. kemudian seseorang membungkam mulut Ara secara paksa. Apa ini perlakuan polisi!? pikir Ara, geram.
"Sial, kalau masalahnya dengan polisi, bukan hanya ku tembak perutnya, aku akan menembak kepalanya agar mati sekalian. Jadi tidak sia-sia aku masuk penjara, bodohnya aku malah menembak perutnya!" batin Ara.
__ADS_1
"Pak polisi, tolong lepaskan adik iparku," mohon Alena yang sedari tadi tutup mulut dibelakang Arga. "Siapa anda!? Kenapa memanggil Ara Wilson sebagai adik ipar!? " tanya sang polisi merendahkan.
"Panggil dia Nona Ara Wilson, jangan sembarang memanggil nama orang lain!" sahut seseorang yang tidak asing di telinga Ara, Arga, dan Alena.