Pernikahan Terhangat

Pernikahan Terhangat
Chapter 20. -Bertemu dengannya (kepentingan kontrak)-


__ADS_3

Chapter 20. -Pertemuan dengannya (kepentingan kontrak)-


Siangnya pukul 14.20, mereka semua sudah berkumpul di tempat yang sudah di janjikan.


*restoran x kota A pada pukul 14.20 siang.


"Apa yang bisa saya bantu nona Alena?"


Tanya ketua departemen keuangan, Tina.


"Saya ingin berbicara mengenai harga produk yang terlalu tinggi."


Balasnya Alena. Alvin dan Aluna ikut dengan Alena sesuai kesepakatan yang di buat saat video call.


"Oh, memang kenapa dengan itu?"


Tanyanya Tina meremehkan.


"Sebagian besar orang orang di desa adalah orang sederhana. Mereka tak sanggup jika harus membayar harga tinggi tapi kualitas masih sama dengan toko toko kecil. Jelas nya mereka lebih memilih untuk berbelanja di toko toko kecil, itulah mengapa produk kita tak ada yang di beli. Apa kau tak bisa menurunkan harga untuk menyesuaikan keadaan di desa?"


Jelasnya Alena seraya bertanya. Tina termenung sesaat. Dia mempertimbangkan apa yang di katakan oleh Alena, sementara Ryan yang duduk di samping Tina hanya diam mendengarkan.


"Lalu, apa urusan Anda memanggil saya?"


Ucap Ryan membuka mulut, kini pandangan Alena teralihkan ke arah Ryan.


"Saya memanggil anda untuk urusan tertentu. Mengapa kau tak mengirim kan barang ke mall itu? Aku melihat jika sebagian besar barang yang ada di sana sudah melewati masa expired. Apa anda pernah memikirkan bagaimana jika orang orang tak memperhatikan masa expired nya dan siapa yang akan bertanggungjawab atas semua ini?"


Jelas Alena panjang lebar. Ryan menundukkan kepalanya sepertinya dia merasa bersalah. Kedua orang itu kewalahan menghadapi perkataan Alena.


Sementara dua orang itu di buat pusing oleh Alena, tapi berbeda dengan Alvin dan Aluna yang duduk santai. kedua bocah cerdas itu sudah tahu solusinya tapi Tina dan Ryan belum menemukan solusi terbaik.


Alena melirik kedua buah hatinya seraya tersenyum licik, tak kalah licik dari ibunya, kedua bocah itu mengedipkan sebelah matanya menandakan mereka sudah paham dengan apa yang di katakan oleh Alena.


Beberapa saat telah berlalu, tapi Tina dan Ryan masih berfikir keras. Alena sudah cukup lama menunggu.


"Aunty, lama banget. Mereka semua payah!!! Orang orang tak berguna, pecat saja mereka!"


Ucapnya Aluna kesal. Tina dan Ryan ternganga kaget mendengar ada anak kecil yang berbicara meremehkan orang dewasa.


"Hey bodoh, kalian mau tu mulut ke masukan lalat ya? pertanyaan mudah kok di buat susah, cepat jawab dong!"


Kesal Alvin mengikuti rencana yang sudah di persiapkan.


"Hah!? Maaf!"


Ujar Tina dan Ryan bersamaan.

__ADS_1


"Eh dek..., Kayaknya Aunty punya bawahan yang nggak becus semua deh. Pecat aja lah aunty, susah susah amat. Soal mudah jawabnya lama banget, dari tadi aku sudah menemukan jawabannya."


Ucapnya Alvin meremehkan Tina dan Ryan. Harga diri kedua orang itu serasa di injak injak, bagaimana tidak? Bahkan anak kecil saja berani melawan? Apa itu tak memalukan?


"Hah? Anda, anda sudah menunjukkan jawabannya?"


Tanya Tina dengan mata terbelalak. Alvin memutar matanya malas.


"Ahem... Hati hati ya tu mata jangan kelamaan melotot, ntar keluar lagi. Kalo keluar nggak ada gantinya, masih mending kalo bisa di masukin awal, lah..., ntar kalo jatuhnya ke selokan gimana tuh jadinya?"


Sindir Alvin yang membuat Tina merasa malu. Ryan tersenyum kecil menertawakan Tina. Sekarang giliran Aluna menatap Ryan dengan tatapan merendahkan.


"Om, senyum mu tak bagus. Itu di gigi mu kayaknya ada yang nyangkut deh. Ih, jorok banget jadi orang tua. Aku tebak nih ya, orang orang kayak kalian ini pasti hobinya bergosip tak henti henti, tapi kalau soal pekerjaan tu otak kosong melompong karena yang jelas memori nya udah penuh sama berita gosip gosip nggak penting."


Aluna menyindir Ryan yang menertawakan Tina. Kini dia tak bisa berkutik dan merasa malu melebihi rasa malu nya Tina.


"Alvin, Aluna..., jahil banget jadi orang. Udah ah diam!"


Tegas Alena memberikan tanda.


"Ya kan Aunty..., Dari pada ngomong nya di belakang, lebih baik blak blakan. Orangnya juga tahu kan? Lah buat apa ngomong di belakang tapi kok orang di hina hina yang di caci makinya nggak tahu? Kalo Seperti ini kan udah jelas kalau performa bekerjanya buruk."


Jawab lantang Aluna. Tina dan Ryan langsung menundukkan kepalanya karena malu.


"Betul tuh apa yang di bilang Aluna. Mereka tuh kerja nggak becus kerjanya tapi kalo ada yang usul dikit aja pasti marah marah. Dikit dikit di pecat, dikit dikit di hukum, mereka cuma memanfaatkan kekuasaan nya aja."


Prokkk!!! Prokkk!!! Prokkk!!


Mereka semua menoleh ke meja sebelah. Ternyata itu adalah...


"Tuan muda Wilson..."


Pekik Alena dengan mata terbelalak.


"Aku sangat setuju dengan apa yang di katakan oleh kedua bocah pintar itu. Sesegera mungkin aku akan melaporkan agar kepala departemen keuangan dan pemasaran tak bertanggungjawab sepenuhnya."


Ucapnya Arga seraya menutup koran yang tadinya ia gunakan untuk menyembunyikan muka.


"Kakak, kenapa wajah orang itu mirip sekali dengan mu?"


Tanyanya Aluna dengan melirik Alvin dan Arga bergiliran.


Arga tersadar dan melihat orang yang di maksud oleh Aluna itu, matanya terbelalak saat melihat wajahnya amat sangat mirip dengan bocah yang ada di depannya itu.


"Apa mereka adalah anak anakku? Kenapa aku sangat tak berguna sebagai ayah. Bahkan aku tak tahu kedua buah hatiku sudah lahir ke dunia ini."


Batinnya Arga, tanpa di sadari Arga mendekati ibu dua anak itu.

__ADS_1


"Kau Istriku..."


Ucapnya Arga lalu memeluk tubuh Alena dengan erat. Alvin dan Aluna tak percaya dengan apa yang dilihatnya? Apakah pria itu benar benar adalah ayah dari mereka?


"Apa mereka adalah anak anakku?"


Tanyanya Arga seraya menciumi kepala Alena, dia terdiam membatu seketika. Istriku? Itu tak mungkin! Mana mungkin orang jahat seperti Rika dan Rara mau menikahkan aku kepada pria kaya raya seperti anak dari keluarga Wilson ini!?


Alena langsung mendorong tubuh Arga menjauh.


"Siapa kau? beraninya memanggilku sebagai istrimu. Aku sudah menikah, jangan sentuh aku!"


Bantahnya Alena seraya memeluk kedua buah hatinya itu.


"Mereka bukan anakmu, ini adalah anak dari sahabatku. Kamu jangan ngaku ngaku!"


Teriaknya Alena dan hendak membawa pergi kedua buah hatinya keluar dari restoran.


Sementara itu, Helana sudah berangkat kerja ke rumah sakit. Dan ternyata info terbaru yang di dapatkan nya ada dokter pindahan baru dari rumah sakit Garuda Internasional.


"Siapa yang sangat tak beruntung? Rumah sakit internasional melempar orang itu ke rumah sakit nasional ya? Pffttt!! Kasihan banget sih."


Ucapnya Helena tak memperhatikan jalan, dan...


Brukkk!!


Helena terjatuh.


"Aduh..., Siapa sih yang pake nabrak nabrak segala. Sakit tahu..., No akhlak!!"


Gerutu Helena, dia mendongakkan kepalanya.


"Kau..!! Kenapa kau yang di pindah ke sini? Sekarang bukan kau yang sial, namun aku yang sial!!!"


Celetuk Helena dan berlalu pergi.


Tapi Angga menahan tangan Alena, dia menoleh.


"Apa?"


Tanyanya Helena kesal.


"I love you..."


Goda Angga mengedipkan sebelah matanya. Wajah Helena langsung memerah dan langsung pergi.


...-Bersambung-...

__ADS_1


__ADS_2