
Setelah Alena mengatakan itu semua, Arga tercengang mendengarnya. "Kau..!!!" teriak Jenny yang terhenti saat teleponnya berbunyi. Gadis itu mengangkat teleponnya terlebih dahulu lalu tiba-tiba saja pergi tanpa alasan yang jelas.
"Kau menyebutku apa tadi?" ucap Arga membuat Alena terkaget. Alena terdiam lalu menatap Arga. "Apa telingamu budek?" tanya Alena, ketus.
Gadis itu berjalan pergi menjauh dari Arga dan meninggalkan pria tadi. Disisi lain, Jenny sudah sampai di kediaman Wilson, dimana semuanya sangat sepi karena Nyonya Wilson sedang pergi bersama Dita.
Jenny bergegas masuk kekamarnya dan mencari sesuatu. "Dimana hasil test dna itu?" pekik Jenny sembari terus mencari. Jenny kemudian berjalan kearah kamar Ara. "Dimana kau sembunyikan hasil test dna itu!?" teriak Jenny, kasar.
Wanita itu tidak segan-segan untuk menarik rambut Ara. "Hasil test dna!?" beo Ara pura-pura bodoh. Jenny mempelototi dirinya. "Iya! Kau kira aku tidak tahu!? Kau mengikuti ku sejak satu minggu lalu!" teriak Jenny dengan nada yang sama.
"Lalu?" ucap Ara. Kemudian Jenny menarik baju Ara, sekuat tenaga. "Kau sudah tahu bukan!? Kau sudah tahu bukan bahwa Alvin dan Aluna anak kandung Arga Wilson!? Kau sudah tahu bukan!?"
Ara tersenyum miring. Kemudian, gadis itu menepis tangan Jenny. "Iya... Aku tahu semuanya. Aku tahu Jenny Frank! Kau wanita jahat yang tidak berhati, aku tidak ingin mempunyai kakak ipar gila sepertimu! Kau melakukan segala cara, salah satunya dengan mempertaruhkan nyawaku."
__ADS_1
Ara berjalan mengelilingi Jenny yang sudah berkeringat karena ancaman Ara, lebih menakutkan darinya. "Kau sama gilanya seperti ibuku. Kalian gila!" ucap Ara menyambung perlahan-lahan perkataannya tadi.
"Heh, terserah apa yang ingin kau katakan. Saat ini kau tidak bisa melakukan apapun!" ucap Jenny memanas-manasi keadaan. Ara tersenyum, licik. "Aku bisa melakukan apapun!" teriak Ara, menakutkan.
"Kau tidak akan bisa..." Jenny terus memanas-manasi keadaan yang membuatnya seperti mendekati maut. Ara merogoh sakunya. Pistol! Ara ternyata mempunyai pistol. "Aku bisa..." Kemudian, Ara mempermainkan pistolnya.
"Aku bisa melakukan ini..." teriak Ara dalam satu tarikan nafas. Dan...
Dor!
Ara Wilson!
Teriakan itu terdengar dari bawah. Ara mengalihkan pandangannya. "Ibu!?" Ara tersenyum, licik. Kemudian, Nyonya Wilson segera naik ke lantai dua dan hendak menampar Ara. "Apa yang sudah kau lakukan!?" teriak Nyonya Wilson.
__ADS_1
"Menembaknya," jawab Ara, santai. Nyonya Wilson tidak jadi untuk menampar Ara, karena Ara sudah terlebih dulu menodongkan pistol ke kepala ibunya itu. "Jangan macam-macam!" ancam Ara yang membuat nyonya Wilson tidak berkutik.
Ara kemudian pergi keluar. Sementara Nyonya Wilson langsung memanggil ambulans, beserta memanggil polisi.
Disisi lain, Ara menelpon kakaknya. Namun beberapa kali telepon Ara diabaikan Arga. Hatinya sakit, sangat sakit. Dia tahu Arga saat ini sedang memegang ponsel. Ara menghentikan laju mobilnya. Dia langsung mengirim video saat Jenny menyogok salah satu pekerja rumah sakit, beserta rekaman saat Jenny mengungkap semuanya tadi.
Ara langsung mendapatkan panggilan dari Arga. "Apa ini!?" tanya Arga, serius. "Seperti yang kau lihat, itu kenyataan." jawab Ara.
Gadis itu kemudian memotret hasil test dna yang sudah dibawanya sedari tadi, sebelum Jenny datang. Ara mengirimkan file itu ke Arga. "Ara, darimana kau tahu ini semua?" tanya Arga, tergesa-gesa.
Ni Nu Ni Nu Wiu Wiu Wiu (Anggap saja suara sirine polisi)
Ara tersenyum, "Sudah tidak ada waktu lagi," ucap Ara yang membuat Arga kebingungan. "Nona Wilson, angkat tangan. Anda sudah dikepung!" teriak polisi memperingati. Ara langsung angkat tangan. Kemudian, Ara keluar dari mobil dengan perlahan.
__ADS_1
...----------------...
Holla guys. Maaf ni author idenya mentok. Hehe. Tadi ada yang komen, dan katanya pelakor nya suruh disingkirkan. Terimakasih ya atas sarannya. Sekarang ide nya udah berjalan lagi. Terima kasih banget.