Pernikahan Terhangat

Pernikahan Terhangat
Chapter 69. -Willy-


__ADS_3

Alena mengendara dengan keadaan melamun, hingga akhirnya mobil nya hampir bertabrakan dengan mobil lain. "Ugh..!!" Alena memegang keningnya yang memerah gara-gara terjedot kemudi. Alena terdiam sejenak.


"Hey, keluar! Kenapa anda berkendara dengan ceroboh?" seorang pria--lebih tepatnya sopir mobil lain keluar. Dia memarahi Alena, sehingga gadis itu keluar dari mobilnya dan meminta maaf dengan segera. "Maaf tuan, lain kali saya akan lebih berhati-hati," ucap Alena memohon.


Tiba-tiba, pria yang ada didalam mobil itu keluar. "Alena," panggilnya. Sontak, Alena menolehkan kepalanya. Matanya mengamati pria tadi. Pria itu tidak asing baginya. "Willy!?"


Pria tadi tersenyum. "Lama tidak bertemu," Willy maju dan memeluk Alena. Gadis itu terdiam. Willy adalah sahabat masa kecil Alena. "Bagaimana kabarmu?" Tanyanya padaku.


"Aku baik, kau?" jawabku bertanya balik. Lalu, Willy melepaskan pelukannya. "Aku baik, bagaimana kalau kita makan bersama?" tanya Willy, mengajak makan. Alena berfikir, tidak apa jika dia makan bersama Willy, karena sudah lama dia sudah lama tidak bertemu dengan Willy. Lagipula, Alena belum makan siang, bagaimana pun, makan siangnya gagal ketika dirinya teringat sang ibu, dan langsung pergi ke penjara.


.


.


.


Direstoran Imperial World, Alena memesan makanan, dan Willy memesan makanan yang sama dengan Alena. "Bagaimana keadaan perusahaan Yi?" tanya Alena basa basi. Willy meliriknya, santai. "Baik, dan kudengar, perusahaan ayahmu sudah berada di tanganmu?" Tanyanya.


Alena mengangguk, mengiyakan. "Baguslah. Tuan Bram dan Nyonya Rika menang harus diberi pelajaran!" geramnya. Willy sampai menggebrak meja saking terbawa suasana. "Em... Maaf, aku terbawa suasana." Willy kembali bersikap anggun.


Pfftttt!

__ADS_1


Alena terkekeh. "Kau tidak berubah." ejeknya Alena. Willy menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Kau juga tidak berubah," ucapnya.


Tidak disadari, pesanan mereka berdua telah siap. Mereka makan dengan lahap. Tapi, terdengar ramai orang menyebut nama Arga Wilson dan Jenny Frank. Sekejap, Alena mengalihkan pandangannya, tidak dipercaya, Arga datang bersama Jenny.


"Jangan sentuh aku!" geramnya Arga sembari menyingkirkan tangan Jenny. Alena terkekeh, dan membuat perhatian Willy teralihkan. "Bukankah itu Arga Wilson?" seru Willy sembari menunjuk Arga.


"Orang itu kan--suamimu!?" Willy pernah melihat saat Alena datang ke pesta tuan Yi. Karena di pesta orang kaya, pasti saja ada orang yang mencari keuntungan. "Dan wanita itu--Jenny Frank, yang melemparkan gelas wine kearahmu bukan?"


"Ah, sudahlah. Sebaiknya kita pergi," ajak Alena. Willy mengangguk. Tapi, saat mereka hendak pergi, sialnya, Arga melihat Alena. "Tunggu!" teriak pria itu mutlak. Semua orang terdiam tidak bergerak.


Arga berjalan cepat, dan langsung mencengkram tangan Alena. "Lepaskan!" Alena berusaha untuk memberontak. Tapi cengkraman Arga sangat kuat. "Kau makan disini dengan seorang pria?" Tanyanya, marah.


Bugh!


Satu pukulan mendarat keras dipipi Alena. "Ugh..!!" Alena mengelap darahnya yang mengalir dari sudut bibirnya. "Urusanmu denganku apa, Tuan Arga Wilson!?"


Arga terdiam, dia merasa bersalah. "Maaf, aku tidak bermaksud memukul mu Alena," Arga meminta maaf dan mimiknya nampak penyesalan yang sangat besar. "Jangan hiraukan itu. Katakan, apa urusanmu denganku?" pertanyaan itu kembali terulang. "Kau istriku! Tidak seharusnya kau bersama pria lain," jelasnya.


Heh!


Tawa merendahkan Alena terdengar. "Istri? Jika kau suamiku, maka apa maksudnya kau makan bersama Nona Jenny Frank!?" Arga hendak menjawab, tapi Willy memotong. "Sudahlah. Tuan Arga Wilson, anda telah menyakiti sahabat saya. Saya pamit undur diri,"

__ADS_1


Willy memapah Alena keluar restoran. Bagaimanapun, pukulan yang dilayangkan Arga sangat keras. Bekas memar tertampak di pipi Alena. Willy sangat cemas sehingga memaksa Alena untuk pergi menemui dokter.


.


.


.


"Au..." ringis Alena saat Helena mengobati lukanya. "Bagaimana luka ini bisa kau dapatkan?" heran Helena, geram. Dokter itu mengobati Alena dengan kasar, saking geramnya karena Alena tidak bisa menjaga diri.


"Ini..." Alena tidak dapat menjawab. Namun Willy bisa saja. "Arga hendak memukulku, dan Alena menghadangnya. Jadi dia yang terluka," Sesal Willy. Helena menghela nafas panjang.


"Arga tidak mungkin berbuat hal konyol, apalagi melukai Alena," jelas Angga yang juga sedang berada disana. "Sudahlah, kenyataannya Arga memang memukul Alena." serobot Helena kesal.


"Tapi dengan dasar ketidaksengajaan," Angga membela sang sahabat sebisa mungkin, tapi mulut pedas Helena siapa yang bisa mengalahkannya?


"Diam kau, memang dirimu tahu apa?"


Helena dan Angga mulai bertengkar lagi. Pasangan yang aneh.


"Sudahlah, Helena bagaimana cara agar luka ini tertutupi?" tanya Alena. Sahabatnya hanya menghela nafas, "Aku mengerti, aku akan segera menyiapkan obatnya," ucap Helena berlalu pergi.

__ADS_1


__ADS_2