
Akhirnya Arga dan Alena sampai ke tempat tujuan. Gudang lama terbengkalai yang tak jauh dari kediaman Grazia. Alena terdiam melihat Marquez yang tengah menunggunya. "X, kenapa kau ada disini?" tanya Alena. Marquez hanya menatapnya lalu mengalihkan pembicaraan.
"Arga, bisakah kita mulai?" tanya Marquez dingin. Sepertinya pria ini sedang dalam suasana hati yang buruk, pikir Alena dalam hati. "Silahkan." ucap Arga. Alena yang penasaran hanya terdiam.
"Jadi Alena, Ibumu disiksa disini. Dulu gudang ini mempunyai CCTV, dan Aku berhasil mengambil rekaman itu dari datanya. Kau harus kuat melihat ini!" Ucap Marquez, nadanya lirih disaat-saat terakhir. Marquez memasukkan sebuah memasukkan sebuah chip ke laptopnya.
Video mulai diputar. Penyiksaan kejam yang dilakukan oleh Rita kepada Ibunya membuat Alena geram. Teriak dan raungan kesakitan menggema didalam ruangan. Deru nafas Alena mulai tak tertahankan. Hawanya mulai memanas.
Klak!
Marquez menutup paksa laptop nya. Wajahnya suram. Aura gelap terlihat. "Kapan kejadian ini!?" Tanya Alena dengan nada bergemetar. Marquez masih tertunduk dengan amarah yang membara. "Penyiksaan ini dilakukan sebelum penyiksaan yang dilakukan di kediaman Grazia." Jawab Marquez.
Alena terdiam lesu. Dipikirannya terlintas, berapa kali ibuku disiksa!? Pertanyaan itu terus menghantui.
Bruk!
Karena sudah tidak kuat, Alena terjatuh tak sadarkan diri yang membuat Arga dengan sigap menangkap tubuh Alena. Marquez terlihat diam. "Kau urus Alena, aku ada kepentingan." Ucap Marquez yang kemudian pergi meninggalkan tempat.
Marquez POV.
Aku menginjak pedal gas, mobil melaju dengan cepat. Tidak lama aku tiba disebuah rumah sakit. Aku menatap rumah sakit itu lalu berkata, "Tunggu pembalasanku!" Ucap Marquez dalam hati nya. Ia berjalan dengan amarah yang membara.
Aku datang kebagian administrasi rumah sakit. Lalu bertanya dimana ruang inap Bram Sanjaya pada petugasnya. Setelah mengetahuinya, aku langsung bergegas pergi. Sudah sampai didepan kamar inapnya, aku mengepalkan tangan dan masuk dengan terburu-buru.
__ADS_1
POV end.
Tuan Bram terlihat kaget dengan kedatangan Marquez. "Si-Siapa kau?" tanya tuan Bram ketakutan. Marquez tak bergeming dan terus berjalan mendekati Tn. Bram, ia meminta pertolongan dari suster atau siapapun dan berusaha mengusir Marquez.
"Kau ingat anak lelaki dari Nyonya Natalia? Kau ingat dengan nya bukan?" Tanya Marquez dengan nada suram. Tuan Bram terdiam, ia terlihat mengingat-ingat lagi dan menjawab dengan anggukan kepala.
"Kau tahu dimana dia?" tanya Marquez menyeramkan. Tangan dingin yang berlapis sarung tangan hitam menyentuh dagu Tuan Bram. Ekspresi wajah pak tua itu terlihat panik. "Aku... Aku adalah anak lelaki itu! Berani sekali kau dan istri jal*ng mu membunuh dan menyiksa ibuku!" Teriak Marquez sembari memalingkan wajah Tuan Bram secara paksa.
"Bahkan kau juga menyiksa adikku! Kau, istri, dan anakmu menyiksa adikku! Tidak sadarkah bahwa kau sudah hidup sekaya ini dari memanfaatkan kekayaan ibu dan ayahku!?" Amarah Marquez sudah tak tertahan lagi. Ia mengeluarkan pistolnya yang memiliki logo Genk Luscentai.
Tuan Bram semakin ciut dengan dikeluarkannya pistol itu. "Dengarkan aku baik-baik Tuan, kau salah faham selama ini. Aku begini karena dihasut oleh wanita jal*ng. Istriku yang memaksaku berbuat seperti ini!" Tuan Bram mencoba menjelaskan.
Benda dingin Marquez sudah semakin dekat dengan kepala Tuan Bram, sampai-sampai pria itu ngompol di celana saking takutnya. Namun Marquez tiba-tiba terdiam. "Ah... Aku lupa. Orang seperti mu tidak pantas untuk dibunuh langsung. Kau harus merasakan sakitnya siksaan."
Kini, Marquez tengah berjalan di lorong panjang penjara yang gelap dan dingin. Suara langkah kakinya menakutkan, ia berjalan tanpa terburu-buru karena semua cctv dan pengawasan keamanan disana sudah diretas bahkan terjadi kekacauan diluar. Langkah Marquez berhenti di penjara paling ujung milik Nyonya Rita dan anaknya Rara.
Ia membuka paksa jeruji besi penjara itu, Rita dan Rara mengira bahwa itu adalah orang suruhan seseorang untuk menyelamatkan mereka hingga mereka girang bukan kepalang. "Nak, lihat itu! Ada seseorang yang datang, mungkin dia ditugaskan untuk mengeluarkan kita dari sini!" Ucap Rita.
Rara kemudian ikut senang dengan kabar itu, namun Rara menatap wajah Marquez yang dingin. Tatapan matanya mematikan dan menyeramkan. Saat jeruji besi sudah dihancurkan semua. Mereka keluar lalu Marquez menghadangnya.
"Bukankah kalian senang karena sudah keluar dari penjara?" Tanya Marquez dingin, Nyonya Rita terdiam tak mengerti dengan apa yang dimaksud oleh Marquez. "Apa maksudmu? tentu saja kami senang, untuk apa kami tidak bahagia karena sudah bebas?" tanya Nyonya Rita tanpa basa-basi.
"Ibu, ayo segera keluar. Mungkin polisi akan segera datang!" Tukas Rara dengan segera. Namun Marquez menyeringai licik. "Tidak akan ada yang datang kesini. Seluruh kota sudah aku sabotase untuk kalian." Jelas Marquez yang menyenangkan hati Rara, namun berbeda dengan Nyonya Rita.
__ADS_1
"Nyonya Rita Sanjaya, aku ingin bertanya, apakah kau masih mengingat pembunuhan terhadap nyonya asli kediaman Grazia?" tanya Marquez yang membuat Nyonya Rita terdiam membeku. Ia menatap wajah Marquez.
"Apa yang kau maksud? Aku tidak mengerti apa yang kau ucapkan!" Tepis nyonya Rita menghindar. Marquez kemudian tersenyum lagi. Ia menatap balik Nyonya Rita dengan penuh kebencian. "Kau ingat dengan nyonya Natalia Grazia?"
"Tidak mungkin kau tidak mengingat nya!" sambung Marquez.
"Aku sama sekali tidak mengingatnya! Bahkan aku tidak tahu siapa orang yang kau maksud!" Elak nyonya Rita.
Marquez mencekik leher nyonya Rita dengan kejam hingga tubuhnya terangkat. "Jangan coba-coba mengelak dariku! Kau kira aku tidak tahu apa-apa mengenai pembunuhan kejimu terhadap nyonya Natalia Grazia!?" Tanya Marquez dengan nada kasar.
Nyonya Rita terlihat kehabisan nafas dan Rara menangis memohon agar melepaskan ibunya. "Se-sebenarnya... Ka-kau itu siapa? Apa hubungan mu dengan Natalia si wanita jal*ng itu?" Tanya Nyonya Rita dengan suara tersendat-sendat.
Marquez melepaskan cekikikan nya lalu menghempaskan tubuh Nyonya Rita ke tembok penjara hingga tubuhnya tak berdaya. Marquez menginjak Dada Nyonya Rita dengan kejam. Namun Rara menggigit kakinya sampai berdarah.
"Lepaskan ibuku!" teriak Rara sembari menggigit kaki Marquez, namun dengan tak berperasaan Marquez menghempaskan tubuh Rara dengan sekali kibasan kaki. Kemudian Rara berusaha menahannya lagi. Namun suara tembakan melesat membuat Rara berteriak ketakutan.
"Diam lah! Ini urusanku dengan ibumu! Diam atau kau akan mati!" Ancam Marquez kepada Rara. Nyonya Rita yang ketakutan setengah mati berlari dan berusaha melarikan diri. Namun tak berhasil karena Marquez menembak kakinya.
"Kenapa kau sangat ingin membunuhku? Apa urusanmu dengan wanita jal*ng itu!" Lagi-lagi nyonya Rita menyinggung perasaan Marquez.
"Berani sekali kau memanggil ibuku wanita jal*ng dasar kau manusia biadab!" Ucap Marquez penuh penekanan.
"Oh jadi kau anak lelaki dari wanita jal*ng itu!? Pantas saja!" Ejek Nyonya Rita.
__ADS_1
Marquez yang sudah tidak tahan kemudian menjambak rambut Nyonya Rita dan membawa nya pergi dengan paksa sementara Rara dibereskan oleh anak buahnya.