
"Sean, apa perusahaan dikota C sudah kau urus?" tanya Alena sembari memeriksa beberapa berkas. "Sudah nona. Tapi, ada beberapa penduduk desa yang ingin melamar pekerjaan."
"Ah!? Apa itu benar? Itu kabar baik. Terima mereka. Mungkin, dengan bekerja di supermarket kita, mereka akan mengetahui beberapa hal baru. Oh iya, utamakan prioritas." Ucapnya Alena dengan gembira. Sean terpaku diam, dia tidak menyangka bahwa Alena akan sangat senang dengan kabar ini.
"Oh iya, kau hanya punya waktu dua hari, untuk menyelesaikan dan mengajari semua karyawan baru. Jangan lupa untuk kembali dan bantu aku di sini." Titah Alena yang kembali terfokuskan pada berkas-berkas yang ada di tangannya. "Baik nona,"
Sean pamit undur diri. Setelah Sean sudah cukup jauh dari Alena, wanita itu menghela nafas. "Huft... Lelah sekali. Mungkin aku bisa makan siang sebentar." Gumam Alena dan melangkah pergi.
.
.
.
"Apa yang ingin kau bicarakan tadi malam?" tanya Helena, ketus. Angga memutar bola matanya, jengah. "Tidak usah dipikirkan. Kau membuatku kehilangan muka didepan Arga. Sungguh wanita yang kejam," Keluh nya Angga dengan suara kecil.
"Apa? Kau bilang aku wanita kejam?" tanya Helena dengan nada tinggi. "Tidak. Kau wanita baik. Baik seperti bidadari." puji Angga dengan sangat terpaksa. Helena tersenyum puas.
__ADS_1
"Baik hingga membuat diriku menderita," cicit Angga yang menarik perhatian Helena. Dokter tomboy itu melirik dengan sinis, membuat Angga yang diliriknya bergidik ngeri. "Apa kau bilang, coba ulangi." Senyuman manis tapi mematikan membuat Angga menelan saliva-nya bulat-bulat.
"Tidak ada." balas Angga berdalih. Helena melontarkan tatapan menyelidik. Tapi saat hendak menatapnya dengan dekat, waktu istirahat telah berakhir.
.
.
.
Alena memesan makanan, dan dia menunggu pesanannya jadi sembari memejamkan matanya. "Alena," panggilan itu membuat Alena sedikit tersadar. "Alena sayang..." ucapan itu terdengar lembut.
"Mama," pekik Alena tanpa disadari. Jantungnya berdetak kencang, darahnya serasa mendidih. "Aku tidak ingin makan. Ini tip nya." Alena langsung pergi meninggalkan tempat itu dengan meninggalkan empat lembar uang hijau. Dollar Amerika.
.
.
__ADS_1
.
Alena pergi ketempat dimana Nyonya Rika dan Rara di penjara. Dengan perasaan geram, Alena duduk didepan mereka. "Aku tidak ingin berlama-lama disini," tukas Alena dingin. Rara tersenyum licik. "Lalu?" Tanyanya menyeringai.
"Katakan, siapa yang membunuh ibuku!" tegas Alena. Nyonya Rika langsung tersenyum. Tapi lama kelamaan dia tertawa keras. "Aku yang membunuhnya!" teriak nyonya Rika yang terdengar putus asa.
"Aku yang membunuh ibumu, Alena! Akulah orang yang kau cari! Aku!!!" teriaknya. Alena menatapnya penuh dengan kebencian. "Kenapa, kenapa kau membunuh ibuku?" teriak Alena tidak kalah kerasnya.
"Cuih, ibumu saja yang terlalu naif. Dia menerima ku, tapi aku tidak mungkin berbagi suami dengannya." jelasnya, sinis. Alena mengelap wajahnya yang terkena ludah itu. "Ibu ku rela berbagi suami denganmu, tapi kenapa kau tidak?" geram Alena dengan nada lebih meninggi lagi.
"Karena--" Ucapan nyonya Rika terpotong. "Maaf, tapi waktu berbicara sudah habis. Tahanan silahkan kembali ke dalam sel," jelas salah seorang polisi yang tengah bertugas. Dua orang itu berbalik dan kembali masuk kedalam penjara dingin.
"Argh!"
Alena kembali dengan membawa tangan kosong, lagi dan lagi. Dia menghela nafas panjangnya. "Besok akan kucoba lagi." pikir Alena. Kemudian, dia masuk kedalam mobil, dan pergi dari tempat itu.
...----------------...
__ADS_1
Hello guys, saya sebagai author merasa kurang baik. Karena ya... telat up. tapi ya gimana, saya sibuk.