
Chapter 22. -Curiga dan Marah-
Helena hanya diam di tempat. Matanya terbelalak melihat seorang laki laki yang di benci olehnya (sebenarnya inspirasi) berlutut seraya menyatakan perasaannya.
"Aku.., Aku tak mau!"
Tolak Helena. Angga berdiri dengan wajah frustasi. Dia menatap Helena dengan penuh arti.
"Begitu burukkah aku di matamu? Aku tahu kau mengenalku sebagai pria playboy, tapi, apa kau tak berfikir bagaimana rasanya menjadi wanita yang bisa mengubah sifat playboy ku?"
Ucapnya Angga dengan menundukkan kepalanya.
Helena merasa bersalah.
"Aku mau..., Ya, aku terima."
Imbuh Helena, Angga terlihat berbinar.
"Baik, jadi pacarku yang ke 205. Tidak ada penolakan.., Dan ini buku yang harus kau hafalkan untuk menjadi wanita ku."
Jelasnya Angga yang membuat Helena membatu. Angga memberikan satu buku tebal untuk Helena.
"Apa apaan ini? Aku? Pacarmu? Yang ke 205?"
Ulangnya Helena tenganga, Angga mengedipkan sebelah matanya dan berlalu pergi.
"Gila! Menyesal aku menerima cintanya. Aku akan menghajar dia sekarang!"
Geram Helena hendak memukul Angga dari belakang, tapi sayangnya kaki dia tersandung.
Brukk!!
Helena menubruk tubuh Angga, tapi sebelum kejadian itu, Angga sempat menoleh ke belakang jadi tanpa sengaja mulut mereka bersentuhan.
"Ciuman..., Ciuman pertama ku!! Ciuman pertama ku di ambil pencuri!!"
Teriaknya Helena lalu bangun dan marah marah. Angga hanya menggelengkan kepalanya.
"Apa aku mempunyai pacar gila? Oh iya, dengan pacar pacarku sebelum kedatangan kamu, aku Tak pernah berciuman dengan siapapun. Dan kau juga mencuri first kiss ku. Dengar, jangan marah ya, kita impas oke!?"
Jelasnya Angga berlalu pergi.
Helena menahan amarahnya dan berlalu pergi dengan keadaan kesal. Angga terkekeh kecil di belakang Helena.
Flashback end...
"Jadi gitu..., Dia itu pria tak waras. Masa iya aku harus begitu saja menjadi pacarnya yang ke 205!?"
Ucapnya Helena dengan kesal.
"Ututu... Udah dong, tu muka jangan di tekuk, ntar malah si dokter itu ninggalin kamu lagi. Kan ntar mau sendiri."
Alena setengah menyindir Helena.
"Sahabat nggak berakhlaqqq."
Celetuknya Helana dan berlalu pergi meninggalkan sahabatnya itu.
Sementara itu, di keadaan lain.
* X Pov...
X sedang duduk di sofa ruangan tamu. Dia sedang duduk tenang dengan wajah yang agak di tekuk.
"Aku harus menyelidiki apa yang di inginkan oleh bocah itu. Jangan sampai dia di manfaatkan oleh Ibunya dan menjadi kambing hitam."
Batinnya X seraya memejamkan matanya sejenak.
__ADS_1
Dia merebahkan tubuhnya di sofa.
"Aku harus berbicara dengannya. Kasihan juga jika dia menjadi kambing hitam. Meskipun dia adalah anak dari kedua orang itu, tapi sebenarnya dia tak tahu menahu soal kehidupan masa lalu."
Ucapnya X lalu bangun dan pergi menuju kamar Arnon.
Tokkk!!! Tokk!! Tokk!!
X mengetuk pintu kamar Arnon, tak lama dari itu, dia membukakan pintu kamarnya dan terkejut dengan siapa yang mengetuk pintu kamarnya.
"X, ada apa?"
Tanyanya Arnon seraya membiarkan X masuk ke dalam kamarnya.
Setelah di kamar, X beralih melihat Arnon.
"Aku harus berbicara denganmu."
Ucapnya X, Arnon menatap X penuh dengan pertanyaan.
"Apa tujuan mu masuk ke dalam rumah ini? Apa kau memiliki maksud maksud tertentu?"
Tanyanya X dengan wajah serius, hal itu membuat Arnon agak ketakutan. Jelas saja Arnon sangat ketakutan, kalian tahu seperti apa wajah bangsawan kerajaan yang sedang serius? Menyeramkan bukan? Mungkin itu yang di rasakan Arnon sekarang.
X yang dingin dan berwibawa tiba tiba menegurnya seperti itu, bukankah dia merasa sedikit ketakutan? Arnon menghela nafasnya dan mencoba untuk tetap tenang.
"X, aku tahu kau mencurigai aku karena aku anak dari kedua orang yang telah menyakiti Alena. Tapi sungguh, aku tak bermaksud lain. Aku sangat menyayangi kak Alena, dia sudah ku anggap sebagai kakakku sendiri. Aku tahu kakak kandungku sedang di manfaatkan, Aku dan dia sering di banding bandingkan. Kau tahu itu X? Ya, hatiku rasanya sakit sekali. Tapi aku yang melihat kak Alena tetap tegar meski di banding bandingkan dengan Kak Rara, aku merasa sangat tertarik dan mengaguminya dari sudut pandang mana pun."
Jawabnya Arnon panjang lebar, air matanya hampir meleleh saat menceritakan itu. X terdiam dan berfikir begitu keras. Apakah hal itu cukup untuk membuktikan rasa curiganya!?
"Kau boleh percaya dan tidak percaya pun boleh, aku tak melarang, hanya itu isi hatiku. Aku tahu kak Alena terluka karena rencana dari ayahku. Dan mungkin sekarang, Ayahku sedang mengumumkan kabar tentang kak Alena yang hilang setelah kecelakaan. Aku tahu, sebentar lagi akan ada beritanya."
Arnon menundukkan kepalanya dalam dalam. tiba tiba dering hp x terdengar dan dia menggeser tombol hijau pada layar ponselnya.
"Ya, ada apa?"
"Tuan Sanjaya sedang mengadakan rapat untuk siapa yang akan memegang perusahaan sepenuhnya karena kabar kecelakaan nona Alena sudah tersebar kemana mana. Tentu saja mereka mengetahui bahwa nona Alena meninggal di tempat saat kecelakaan, dan jasadnya tak ditemukan karena mungkin sudah habis di lahap binatang buas yang ada di sana."
Balasnya Sean panjang lebar, X terdiam merasa bahwa perkataan Arnon ada benarnya.
"Tak masalah. Terus lah mencari informasi!"
Titah X lalu mematikan'sambungan telepon nya.
Dia kembali melirik Arnon.
"Kenapa kau bisa tahu jika mereka sedang membicarakan kecelakaan Alena?"
Tanya X dengan tegas. Dia memegangi kerah baju Arnon kuat kuat.
"Aku sudah mengetahuinya karena begitulah sifat ayahku. Dia selalu terburu buru."
Jawab Arnon.
Tiba tiba X melepaskan kerah baju Arnon.
"Huh!!"
Dengus X lalu pergi meninggalkan tempat itu. Arnon hanya terdiam melihat bahu X yang lama kelamaan menghilang.
Dia duduk di ranjangnya.
"Aku tahu itu kau Marquez Luise..., Aku akan mengingat budimu, selamanya. Terimakasih sudah menyelamatkan aku waktu itu."
Gumamnya X seraya merebahkan tubuhnya di kasur.
Sementara itu, di kehidupan Arga...
__ADS_1
* Vila Pribadi Arga Wilson.
Seraya mendudukkan tubuhnya di sofa, pikiran Arga sedang kacau balau.
"Kenapa kau menghindari aku?"
Gumam Arga mengacak acak rambutnya kasar.
Tiba tiba pelayan mengetuk pintu Kamarnya.
"Pergilah, aku sedang tak ingin di ganggu!"
Teriaknya Arga kasar, Pelayan itu terdiam di luar kamar Arga.
"Tuan muda, Nyonya dan nona muda berada di luar..."
Ucapnya Pelayan itu.
Mata Arga terbelalak dan sesegera mungkin melihat ke luar melalui jendela kamarnya.
Dia melihat mobil mewah yang tak asing di matanya sedang terparkir di halaman besar vila miliknya.
"Ngapain sih si nek Lampir sama tukang berbicara itu kemari? Bikin mumet aja!"
Ketus Arga seraya melangkah keluar kamar. Dia melihat tiga orang wanita sedang berbincang di bawah.
Arga menuruni anak tangga satu persatu. Dia sebenarnya malas tapi tak ada pilihan lain untuknya lagi.
"Ada apa Ibu kemari secara tiba tiba?"
Tanya Arga ketus.
"Apa salahnya jika ibu kesini? Ini juga rumah ibu kok, nggak masalah dong kalo ibu bolak balik ke sini..."
Balasnya wanita separuh baya yang tak lain adalah Karin, Nyonya dari keluarga Wilson.
"Kakak, jangan marah marah dong. kasihan kan ibu, dia jauh jauh ke sini hanya untuk memperkenalkan kamu dengan anak dari keluarga Frank."
Sahutnya seseorang yang tak lain adalah Ara, adik kandung dari Arga.
"Diam kau, siapa juga yang berbicara denganmu."
Sebalnya Arga seraya menatap tajam adiknya itu.
"Jaga sikapmu, di sini ada nona Frank. Dia adalah Jenny Frank, calon istri pilihan Ibu."
Jelasnya Ny. Wilson, Arga mengernyitkan alisnya seraya menatap kesal sang ibu.
"Hallo, Aku Jenny Frank, senang bertemu dengan Anda."
Ucapnya Jenny memperkenalkan diri. Arga tak menghiraukan Jenny.
"Tapi aku sudah mempunyai istri...."
Tolaknya Arga dengan membentak.
"Siapa? Apa yang kau maksud Istri berandalan mu itu? Coba mana? Ibu mau melihat wajahnya. Mana cucu yang katanya sudah besar, mana!? Mana hah!?"
Tegasnya Ny. Wilson dengan suara yang tak kalah keras dengan Arga.
Arga mengepalkan tangannya keras keras. Rahangnya sudah mengeras dan terlihat serat serat yang ada di tenggorokannya. Bibirnya sedikit bergetar menahan amarah.
"Dengar!! Aku akan membawanya sebentar lagi!!"
Balasnya Arga berteriak keras. Dia memutuskan untuk pergi keluar dari pada berdebat dengan ibunya, karena Arga tahu jika dia berdebat, tak ada gunanya, ibunya akan selalu berbicara dan malah merembet kemana mana.
...----------------...
__ADS_1