Pernikahan Terhangat

Pernikahan Terhangat
Chapter 39. -Penyelamatan pt. I-


__ADS_3

Besok nya, adalah hari pernikahan Arga dengan Jenny Frank. Semua orang dari belahan dunia sudah mengetahui tentang pernikahan itu. Siapa yang tidak akan mengetahui pernikahan antara orang terkaya se-Asia dengan keluarga Frank yang menguasai dunia bisnis finansial elektronik.


"Wow wow wow. Uang berjalan ku akan menikah dengan seseorang!? Ck! No no no. Aku harus menghentikan itu."


Tekad Alena yang tak menerima akan pernikahan itu. Alena menggeser layar ponselnya lagi. Sembari tengkurap di atas kasur empuknya.


Akhirnya Alena melihat foto mesra editan yang beredar itu. Terlihat jika Arga sedang bermesraan dengan Jenny Frank. Tapi mengapa Alena malah tersenyum licik.


"Wow, editan nya sangat rapi. Tapi sayangnya aku juga pengedit elite. Kontras dengan warna kulit nya sangat berbeda dan pencahayaan yang juga berbeda. Yang satu gelap dan yang satu terang. Wow, sangat bagus, saking bagusnya membuat editor foto macam diriku ini berkata kata."


Ejeknya Alena dengan gaya yang memuji. Dia memperhatikan foto itu baik baik dan ternyata dengan caption 'Sangat menyenangkan'.


"Sangat menyenangkan membodohi orang!?"


Gumamnya Alena meremehkan.


"Good, aku harus menyamar dan mendapatkan undangan pernikahan itu."


Alena yang tadinya duduk kini kian berdiri dan mengepalkan tangannya.


"Harus semangat demi masa depan."


Tekad Alena yang sudah sangat kuat. Alena berjalan meninggalkan kamarnya dan pergi keluar untuk mencari anak anak jenius nya.


"Alvin...! Aluna....!!! Anak anak jenius ku...."


Teriak Alena seraya memperhatikan setiap sudut rumah itu dengan teliti. Terlihat kedua anak yang langsung menyambar dari arah kamar.


"Pagi Mama. Ada apa mencari kami?"


Ucapnya Aluna mendahului Alvin.


"Heyyy."


Ketus Alvin mengernyitkan dahinya.


"Kalian pasti tahu bagaimana cara menyamar kan?"


Tanya Alena kepada kedua anak jeniusnya. Kini kedua anak itu terdiam dan berfikir untuk apa ibunya menanyakan hal seperti itu.


"Untuk apa? Untuk mengumpankan diri pada buaya?"


Guraunya Aluna dengan tatapan mengejeknya.


"Oh, anakku. Kau sangat pintar. Aku bukan mau mengumpankan diri pada budaya, tapi aku mau menyelamatkan buaya."


Balasnya Alena pada sang anak. Alvin yang sedari tadi memikirkan cara agar penyamaran sang ibu tak terbongkar nampak bingung.

__ADS_1


"Bawa topi dan pistol saja. Tapi pertanyaannya, apakah Mama bisa menggunakan pistol!?"


Tanyanya Alvin yang tiba tiba menyahut. Alena menolehkan kepalanya ke arah sang buah hati.


"Pistol? Wow, sangat mudah. Saat aku di Inggris, X diam diam mengajari ku bermain pistol."


Batin Alena tersenyum licik.


"Baiklah. Pistol tak masalah, mungkin aku memerlukan sedikit bantuan dari X."


Balas Alena seraya hendak merogoh kantong sakunya dan mengambil ponselnya.


"Tapi tunggu..."


Gumam nya Alena langsung menghentikan aktivitasnya. Dia langsung kembali mengambil tangannya dan membatalkan niatnya untuk mengambil ponselnya.


"Aku akan merepotkan X jika seandainya aku menelponnya hanya untuk meminta pistol terbaik. Aku lebih baik membeli pistol sendiri, tapi dari mana aku akan mendapatkan uangnya!?"


Gumamnya Alena sambil berfikir keras. Tiba tiba ada pikiran jahat di kepalanya. Dia langsung pergi meninggalkan kedua anaknya tanpa berkata kata, hal itu membuat kedua bocah itu terbatu dengan keadaan canggung.


"Kakak, kita ini sebenarnya barang atau anaknya bukan sih!?"


Ucapnya Aluna yang bertanya pada Alvin. Si Abang hanya bisa menolehkan kepalanya ke wajah sang adik dan mengangkat bahunya.


Sementara di keadaan lain, Alena sedang mencari sesuatu. Dia langsung pergi menghampiri seseorang.


Tanya Alena dengan wajah sumringahnya itu, tentu saja hal seperti itu terdengar aneh di telinga Alena.


"Punya, memangnya untuk apa?"


Ucapnya Arnon bertanya balik, Alena langsung mengeluarkan senyuman cengengesannya itu.


"Kakak pinjam dulu, ya? Nanti aku kembalikan lagi. Setuju tidak?"


Balasnya Alena sembari membujuk sang adik. Arnon terdiam untuk sementara waktu. Lalu beberapa detik kemudian, Arnon langsung merogoh kantong sakunya dan mengambil dompetnya. Dia membuka dompet itu dan memberikan sebuah kartu.


"Jangan sampai habis loh."


Ketusnya Arnon yang setengah hati memberikan atm-nya itu. Memang sih, jika soal uang, Arnon tidak mau diganggu gugat oleh siapapun terkecuali Alena, meski dia seperti orang marah, tapi dia tetap memberikan kartunya.


Alena langsung menerima kartu itu dan memasukkannya kedalam saku. Dia tersenyum bak kuda yang membuat Arnon agak terkekeh kecil.


"Terimakasih."


Ucapnya Alena sembari berdiri. Tapi langkahnya terhenti saat Arnon memanggilnya lagi,


"Kakak, memang untuk apa kartu atm-ku!?"

__ADS_1


Tanya nya Arnon yang hendak berdiri itu, tapi Alena langsung membalikkan badannya.


"Hanya hal kecil saja. Anak kecil tak boleh tahu."


Alena langsung pergi meninggalkan sang adik di tempat itu. Arnon hanya bisa melihat langkah kakaknya yang perlahan menjauh dari pandangan mata dan menghilang.


Sementara itu, Alena pergi ke toko Weappons Guns (Toko yang menyediakan berbagai macam senapan dari berbagai macam dunia. Banyak barang legal yang di jual di sana. Tempatnya juga sangat privasi untuk orang orang luar.).


Saat sudah sampai di toko gelap itu, Alena langsung melangkahkan kakinya masuk dan membeli satu senjata api itu.


"Ceramic Pistol."


Ucapnya Alena seraya menyodorkan ATM. Pelayan yang berada di sana langsung mengambilkan pesanan Alena dan memberikannya.


"Ini, dan tunggulah sebentar. Saya akan memeriksa dulu."


Ucapnya si pelayan lalu mengambil ATM itu dan mengeceknya. Akhirnya penarikan pun tersimpulkan, Tersisa beberapa puluh jt lagi di ATM Arnon.


Alena pergi dari tempat itu dan hendak melanjutkan perjalanan menuju dimana tempat pesta perayaan pernikahan itu terjadi.


*Arga pov.


Pria itu masih di keadaan yang sama, hanya bedanya, sekarang dia sedang di dandani oleh make-up artistik. Arga sudah menggenakan jas putih dengan kemeja hitam dan celana hitam yang membuat penampilannya semakin memukau.


Di luar, Ny. Wilson sudah merencanakan semuanya. "Pesta perayaan akan di adakan di kapal pesiar mewah. Kita akan menyewa 5 kapal pesiar."


Ucapnya Ny. Wilson.


"Itu rencana yang bagus. Pernikahan penerus keluarga Wilson harus megah dan meriah tentunya."


Balasnya Tn. Frank yang memuji.


"Kapan pesta itu di mulai?"


Sahutnya Ara dari belakang.


"Wow, anak mama apakah belum tahu? Pesta pernikahan itu di mulai pada pukul 20.00."


Balasnya Ny. Wilson menjawab.


"Aduh, aku jadi grogi nih Tante."


Keluhnya Jenny dengan gaya sok manja. Ny. Frank hanya tersenyum manis ke arah putrinya.


"Putriku sayang, kamu tak usah grogi. Ini memang keinginan kamu, kan?"


Ucapnya Ny. Frank seraya berjalan mendekati sang anak. Dia duduk di sebelah putrinya dan mengelus elus pelan punggung putrinya itu.

__ADS_1


__ADS_2