
Chapter 8. -Datang Ke Rumah Lama-
Alena dan yang lainnya sudah sampai di rumah Helana. Mereka masuk ke dalam dan Alena membaringkan tubuhnya di sofa.
"Rumah ini tak berubah..." Ucapnya Alena merebahkan tubuh. Alvin dan Aluna pun merebahkan tubuh mereka di sofa yang sama.
"Aish, cepetan mandi. Nanti setelah mandi kita makan." Helena berlalu pergi setelah mengucapkan kata katanya itu. Alena bangun dari posisinya dan duduk dengan tegak.
"Sama seperti dulu, Helena kau sama sekali tak berubah." Gumamnya Alena dan bangkit lalu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Sementara Alvin dan Aluna masih merebahkan tubuh mereka di sofa.
Aluna memiringkan tubuhnya, dia sekarang menghadap Alvin yang sedang berbaring telentang.
"Kakak, mandi bareng yuk..." Ajak Aluna sembari mengguncangkan tubuh Alvin, dia melirik Aluna.
"Apaan sih!? Mandi ya mandi sendiri aja! Lagian juga ya, kamu itu udah besar, masa nggak malu mandi bersama dari dulu?" Ketusnya Alvin dan langsung pergi ke kamar mandi di lantai atas.
"Ish..., Kakak tuh nyebelin!" Celetuk Aluna kesal. Dia memutuskan untuk menunggu Alvin di luar kamar mandi.
Saat Alvin sudah selesai mandi, Aluna bergilir masuk ke dalam kamar mandi. Dia membersihkan dirinya.
Sementara di dapur, Alena sudah selesai mandi dan membantu Helena membuatkan makanan. Tak lama dari itu, Alvin dan Aluna datang bersamaan. Mereka makan bersama.
...****************...
Setelah makan, "Aku akan kembali ke rumah itu. Alvin dan Aluna harus membantu Mama. Denger, kita akan merebut kembali apa yang seharusnya menjadi milik kita. Kalian jangan memanggilku Mama saat berada di dekat mereka, panggilah Tante Helena Mama, dan anggap dia sebagai mama."
Ucap Alena menjelaskan rencananya. Helena, Alvin dan Aluna menganggukkan kepalanya. Sementara Alena langsung pergi menyiapkan koper yang akan di bawa.
Alena bergegas pergi dengan terburu-buru. Saat sudah sudah sampai di kediaman itu, nampaknya kediaman itu tak terurus selama beberapa tahun ini. Gerbang yang sudah karatan, pagar yang sudah rusak dan lainnya.
Perlahan Alena melangkahkan kakinya ke dalam halaman Kediaman yang lumayan besar itu. Matanya berkeliling dan terlihat sangat sepi.
Dia menekan tombol bell rumah, beberapa kali di tekannya, tapi tak ada jawaban dari dalam.
__ADS_1
"Apa rumah ini sudah kosong ya?" Gumamnya Alena sembari menekan nekan tombol bell rumah itu.
Krekeekkk!!
Pintu rumah itu perlahan terbuka, "Siapa?" Ucap pria yang membukakan pintu. Alena langsung menoleh mendengar suara yang tak asing di telinganya.
"Arnon!" Panggil Alena dengan mata terbelalak, Arnon yang tak kalah kaget dari Alena itu langsung memeluk tubuh Alena dengan erat.
"Kakak, kenapa dulu kamu pergi? Kenapa kamu meninggalkan aku?" Tanyanya Arnon beruntun.
"Kamu ini, kakaknya baru pulang bukannya di baik baikkin, eh ini malah di serang sama pertanyaan kamu...," Guraunya Alena sembari membalas pelukan.
"Maaf...!! Sekarang aku tanya, selama 6 tahun terakhir, kemana Kakak pergi? Kenapa tidak memberikan aku kabar sedikit pun? Dan.., dan, Ayah bilang kakak sudah di usir dari rumah!?"
Ucapnya Arnon dengan perasaan yang bercampur aduk, ada rasa bahagia, terharu, senang dan sedih.
"Itu semua tak penting! Sekarang Kakak sudah kembali lagi, apa kamu senang?" Tanyanya Alena mengacak-acak rambut Arnon lembut.
"Baiklah, kalau begitu.., Ayo kita masuk, pasti kakak lelah, nanti Arnon buatkan teh hangat untuk di nikmati Kakak." Arnon melepaskan pelukannya dan menarik tangan Alena paksa ke dalam rumah.
"Sangat berbeda jauh..., Ibu, aku berjanji akan merebut apa yang seharusnya jadi milikku! Tolong lindungi aku, Ibu..!!"
Ucapnya Alena, tak lama dari itu Arnon datang dengan membawa segelas teh hangat lalu di sodorkan kepada Alena.
Alena menerima teh itu dan meminumnya pelan-pelan. Akhirnya dia telah kembali ke rumah lamanya. Arnon duduk di sebelah Alena.
"Kakak, jangan pergi lagi ya..." Rengeknya Arnon manja. Alena terkekeh kecil, ternyata adiknya itu sama sekali tak berubah.
"Aku tak akan pergi lagi kok...," Balasnya Alena sembari mengusap usap pipi Arnon lembut. Tiba tiba saja 2 orang wanita datang sembari tertawa terbahak bahak dengan barang belanjaan di tangan kiri dan kanannya.
"Jadi ini yang kalian lakukan dengan uang ibuku? Jangan harap aku akan melepaskan kalian!!" Pikirnya Alena dalam hati, dia sangat geram melihat kedua orang wanita itu berfoya foya dengan harta kekayaan.
Tawa kedua wanita itu berhenti saat melihat aku sedang duduk di sofa ruangan dengan keadaan santai. Raut wajah bahagia mereka menjadi raut wajah marah.
__ADS_1
"Alena!! Ternyata kau sangat tak tahu malu ya!? Sudah di usir juga, masih balik lagi!" Teriaknya Rara dengan penuh emosi.
"Dasar, j*l*ng tak berharga! Untuk apa kau kemari!?" Tanyanya Ny. Rika dengan suara meninggi.
"Oh? Dengar...!! Aku bisa mengambil alih kekayaan ini kapan saja!" Ancamnya Alena dengan penuh penekanan. Ny. Rika dan Rara terdiam sejenak.
"Cuih!! Dengar ya, semua saham perusahaan sebagai besar ada di tanganku, sementara semua petinggi perusahaan dan petinggi kota sudah memiliki tempat di hati mereka untuk kami tempati, jangan harap bisa merebut kembali perusahaan itu!"
Balasnya Ny.Rika menyombongkan diri. Arnon berdiri dengan cepat dan menghampiri ny.rika.
"Aku tak percaya mempunyai Ibu yang lebih jahat dari pada Penjahat!" Ucapnya Arnon sembari mempelototi Ny. Rika dan Rara.
"Dengar..., Jangan sampai kalian melakukan sesuatu pada kakakku!" Ancamnya Arnon pada Ny. Rika.
Dia berbalik dan menarik tangan Alena, saat hendak melangkah pergi, tiba tiba saja seseorang menghentikannya.
"Tunggu..!! Arnon, kau sangat keterlaluan terhadap ibu dan kakakmu, cepat minta maaf!" Tegas seseorang dari arah belakang. Alena dan Arnon menoleh ke Belakang.
"Ayah saja yang minta maaf. Aku tak sudi jika harus meminta maaf pada mereka." Balasnya Arnon yang membuat pria paruh baya itu marah.
Tn. Bram mendekati Arnon dan Alena dengan langkah cepat. Langsung lah keluar berbagai pertanyaan dari benak Alena.
Saat Tn. Bram sudah di hadapan Alena, dia menatap ku tajam. "Arnon, kau selalu melawan jika ada wanita ini, apa ini yang membuat mu membangkang?" Tanyanya Tn. Bram dengan marah.
Plakkkk!!!
Tanpa basa basi lagi, wajah cantik Alena di tampar keras Tn. Bram. Arnon yang tak terima jika kakaknya di perlakukan buruk oleh ayahnya pun akhirnya memukul balik ayahnya.
Bugghhh!!
Pukul balik Arnon pada Tn. Bram. "Jangan sentuh kakakku!" Ucapnya Arnon dengan amat sangat marah, mereka tak pernah melihat Arnon yang semarah itu.
"Arnon!! Sampai kapan kau akan menganggap ku sebagai musuh?" Teriak Rara dari lain sisi.
__ADS_1
Arnon menolehkan kepalanya, "Saat kau sudah mati!" Balasnya Arnon lalu menarik tangan Alena paksa.
...----------------...