
Chapter 31. -Pertemuan dengan ketiga Pewaris-
...----------------...
Ara masuk ke dalam bar itu, dia duduk di salah satu tempat VVIP yang dekat dengan Marquez, Loise, dan Zhuge Liang. Dia menengoknya kepalanya kesana kemari melihat sekeliling.
"Pesan 2 botol bir."
Ucapnya Ara dengan nada frustasi. Seketika Zhuge Liang menoleh karena mendengar suara wanita berteriak.
*Ketiga pangeran pov.
"Siapa wanita itu?"
Batinnya Zhuge Liang yang di buyarkan oleh Loise.
"Naksir? Pepet terus. Nggak mungkin ada yang nolak, kecuali sikap dingin mu."
Ucapnya Loise setengah mengejek dan setengah benar. Zhuge Liang mengerutkan keningnya dan melihat wajah Ara dari kejauhan.
"Jangan naksir padanya. Lebih cantik adikku dari pada dia.., Ayolah..."
Marquez yang sudah mabuk itu berkata dengan melantur. Zhuge Liang semakin menyipitkan matanya untuk melihat lebih jelas siapa wanita itu.
"Diamlah. Aku tak butuh ocehan kalian."
Datar Zhuge Liang yang Marquez dan Loise seketika terdiam.
"Oh..., Ayolah sahabatku, apa kau akan mementingkan pacar daripada sahabat?"
Tanya Loise dengan memainkan drama. Zhuge Liang melirik sahabatnya itu.
Dia menghela nafas panjang dan menatap dalam kedua sahabatnya secara bergantian. Perasaan yang di rasakan Marquez dan Loise bercampur aduk antara takut dan heran.
"Aku sudah bilang, aku tak mempercayai siapa pun...,"
Jelas Zhuge Liang yang membuat kedua sahabatnya menghela nafas lega.
"Tapi.., Apa kau juga tak percaya pada kami?"
Sahut Marquez seraya menatap pupil mata Zhuge Liang. Sepertinya dia tak senang dengan apa yang telah di jelaskan oleh sang sahabat.
"Kecuali dengan kalian."
Sambung Zhuge Liang yang membuat senyum di wajah Marquez dan Loise melebar. Senyuman yang terpatri di wajah Zhuge Liang pun ikut melebar.
"Semua orang tak mempercayai diriku. Tapi kalian mempercayai ku. Kalian adalah segalanya untukku."
Dengan senyuman hangat, Zhuge Liang melebarkan tangannya. Kedua sahabatnya mendekat dan akhirnya mereka berpelukan.
* Ara Pov.
__ADS_1
"Kakak, aku akan terus berusaha untuk mendapatkan perhatian darimu. Tolonglah, sebenarnya aku sangat menyayangi mu, segala kebahagiaan mu adalah kebahagiaan ku juga. Tapi aku hanya ingin mendapatkan perhatian mu seperti apa yang di dapatkan oleh Dita..."
Ucapnya Ara dengan lirih. Seraya meminum segelas bir yang ada di depannya, dia terlihat agak mabuk.
"Dita cantik dan pintar. Jika dia jelek dan bodoh, maka mungkin aku yang akan di sayangi oleh kakak. Aku harus menyingkirkan Dita terlebih dahulu."
Tekadnya Ara yang semakin membara bara. Sayangnya, cara yang di lakukan oleh dirinya salah jalan.
Ara terus meminum bir itu dan sekarang keadaan sudah mabuk. Dia berdiri dan berjalan terhuyung-huyung mendekati ketiga pewaris keluarga kerajaan itu. Tapi sayangnya, kakinya tergelincir karena tak seimbang.
Brukkk!!!
Ara jatuh, tapi siapa orang yang menopang tubuhnya? Ara langsung bangun dan berusaha untuk tetap tersadar. Dia melihat orang yang telah menopang tubuhnya, lebih tepatnya, orang yang di tindih tubuh Ara saat terjatuh.
"Ma.., Maaf. Aku tidak sengaja tuan."
Ucapnya Ara meminta maaf. Kepalanya tertunduk merasa bersalah.
Pria itu terdiam. Siapa sebenarnya yang di tindih oleh Ara tadi? Marquez kah? Sepertinya bukan karena Marquez orang yang tegas. Loise Alexandre kah? Juga bukan, karena Loise orang yang pemaaf. Tak mungkin dia terdiam saat seseorang meminta maaf pada dirinya. Apakah Zhuge Liang? Tapi itu tak mungkin! Dan ada juga kemungkinannya, karena Zhuge Liang yang paling dingin dan kejam.
"Tuan, apa kau bisa memaafkan aku?"
Tanya Ara yang masih menundukkan kepalanya. Zhuge Liang hanya menatap wajahnya dengan tatapan dingin.
"Tuan..."
Ara yang masih memohon kini mengeluarkan suara lirihnya. Zhuge Liang terdiam dan berpikir.
Ucapnya Marquez dengan nada dingin. Hal itu membuat Ara ketakutan. Badannya bergetar karena terlalu takut.
Dan tiba tiba saja...,
Brakk!!
Pintu bar di dobrak seseorang. Semua orang yang berada di ruangan itu kaget bukan main dan langsung menolehkan kepalanya ke arah pintu itu.
"Ara! Kemari kau! Apa apaan kau datang ke tempat seperti ini?"
Tanya seseorang yang tak asing di telinga Ara. Matanya terbelalak dengan senyuman bahagia melebar di wajahnya.
"Kakak!"
Sahut Ara dengan kegembiraan. Tapi tiba tiba saja Senyuman yang merekah di wajahnya menghilang saat melihat seseorang muncul di balik badan kekar sang kakak.
"Dita..!!"
Gumam Ara penuh kebencian. Dia menggertakkan giginya.
"Hai kakak. Aku sudah besar, jadi tak masalah untukku datang ke sini. Aku sudah bisa menjaga diriku sendiri. Jangan khawatir padaku, kak."
Jelasnya Ara seraya memendam rasa kebencian yang mendalam.
__ADS_1
"Ara pulanglah. Kakak Arga sangat mencemaskan mu. Aku juga, mari kita pulang bersama sama, ya?"
Ucapnya Dita membuka suara. Kini kebencian yang berada di hati Ara semakin membara bara dengan apa yang telah di lakukan Dita.
"Dita anak baik. Ara banyak banyak lah kau belajar dari Dita. Dia anak yang baik."
Tegasnya Arga yang semakin membuat hati Ara terasa terbakar.
"Apa aku anak yang buruk?"
Tanya Ara dengan nada lirih. Arga mengernyitkan dahinya dan menatap dalam sang adik.
"Kau anak yang sangat buruk! Kau harus banyak belajar dari Dita dan berubah!"
Balasnya Arga dengan nada meninggi. Kini Ara semakin membenci Dita.
Setelah mendengar itu, Ara menyunggingkan senyuman. Dia mengangkat kepalanya tinggi tinggi dan menatap balik sang kakak.
"Aku? Anak yang Buruk!?"
Beo Ara dengan air mata yang sudah hendak mengalir membasahi pipinya.
Arga dan Dita terdiam di tempatnya sementara ketiga pangeran itu hanya diam dan duduk manis menikmati hiburan tanpa harus membayar.
"Aku anak yang buruk!? Ya! Aku memang anak yang buruk! Di matamu semua yang aku lakukan selalu salah! Dita selalu benar di mata mu, sikapku berubah menjadi seperti ini karena kau! Kau penghancur hidupku! Aku benci dirimu. Meski kau kakak ku, aku akan menghancurkan apa yang menjadi kebahagiaan mu! Aku akan menghancurkan segala yang sudah membuat mu tertawa! Kau menghancurkan hidupku, dan aku akan melakukannya kepadamu!"
Ara berteriak sangat keras dengan air mata yang meleleh seketika saat itu pula. Dadanya terasa sesak dan tiba tiba saja Zhuge Liang berdiri lalu merangkul Ara.
"Sikap yang berubah hanya karena seseorang. Aku pernah merasakan itu, jangan takut. Orang orang yang terabaikan dan terbuang seperti diriku di masa lalu yang kelam, aku tak akan membuat orang lain merasakannya. Aku sangat tahu bahwa itu sangat sakit!"
Batin Zhuge Liang.
"Tuan, tolong jangan sakiti wanitaku. Dia sangat tak berdaya."
Datar Zhuge Liang seraya menatap Arga.
...-Bersambung-...
Author Pov.
Sebenarnya apa yang dilakukan Zhuge Liang!? Dan hal apa pula yang akan di lakukan Arga setelah melihat Zhuge Liang merangkul adiknya. Apakah pertengkaran akan terjadi!? Atau bagaimana? Kita simak saja ya...
Dan terimakasih yang sudah vote like n rate. Komen juga ya, saya sangat membutuhkan saran untuk memperbaiki kesalahan PUEBI. Saya mohon dukungan dari kalian.
Semoga kalian bisa menyusul bagi yang belum vote 😄. Saya sangat berterimakasih bagi kalian yang sudah mau membaca dan menghargai karya receh saya...
__ADS_1