
Kedua orang itu langsung menoleh kearah suara. "Willy?" panggil Alena, balik. Willy berjalan mendekati Alena dan menghalangi Arga. "Apa yang kau lakukan?" tegas Willy, penuh penekanan. Arga tersenyum menyeringai.
"Seharusnya, aku yang bertanya seperti itu." jelas Arga, merendahkan. Arga menepuk-nepuk pundak Willy. "Kau masih bocah ingusan, tahu apa kau tentang cinta!?" ucap Arga. Willy langsung menepis tangan Arga. "Usiaku hampir sama dengan mu!" teriak Willy.
Phak!
"Lepaskan tanganmu dari, istriku!" tekan Arga sembari merangkul Alena. Willy terdiam. "Istri? Kau bilang istri? Wanita mana yang mau menjadi istrimu? Pria yang selalu bersama dengan wanita lain, dan mengabaikan istrinya?" ejek Willy.
"Keponakanku, kau munafik!" Ucap Arga. Willy mengernyitkan dahinya. Sementara Alena melirik Arga dan Willy bergantian. "Keponakan?" beo Alena tidak tahu apa-apa. Willy segera mungkin mengalihkan pembicaraan.
"Ayo kita pergi saja. Pria ini sudah tidak waras!" ajak Willy pada Alena. Kemudian, mereka berdua pergi. Arga menajamkan pandangannya. Dia menatap punggung Willy dan Alena sehingga menghilang dari pengelihatannya.
Arga mengeluarkan ponselnya dan mencari kontak Willy. "Temui aku, dirumahku, nanti malam!" pesan itu langsung dikirimkan Arga lewat WeChat. Tapi, Willy tidak segera membuka pesan itu. Willy mengacuhkannya.
__ADS_1
Malamnya, dirumah Arga, keadaan tegang tengah menggantung. Suasana malam yang hening membuat dingin terasa menusuk ke tulang. "Munafik! Kau sudah aku perintahkan untuk membatalkan pernikahanku dengan Jenny Frank, dan malah kau tidak melaksanakannya?"
"Aku dulu berfikir, kenapa kau tidak melaksanakannya, ternyata karena kau menyukai Alena?" Arga duduk di sofa. Dia menyalakan rokok mahalnya. "Alena istriku, jauhi dia!" tegas Arga, penuh penekanan.
"Arga Wilson, meski kau masih berposisi sebagai kakakku, tapi kau tidak berhak mengaturku!" Willy berusaha melawan Arga, namun apalah hasilnya. "Wow, dengarlah... Atas dasar apa kau menyukai Alena?"
Hening.
Willy tidak menjawab. "Katakan!" teriak Arga dengan kasar. Arga berdiri lalu menarik kerah baju Willy. "Katakan padaku, atau aku tidak akan segan-segan untuk membunuhmu!" ancam Arga. Willy tersenyum.
Saat Willy sudah pergi, Arga kembali duduk. "Rahasia!?" pikir Arga. Pria itu sudah dibuat pening oleh Willy. "Yeri!!!" teriak Arga. Kemudian, asisten wanitanya datang dan membungkukkan badannya.
"Selidiki! Selidiki apa yang dimaksud rahasia oleh Willy. Selidiki itu, dan laporkan padaku!" Arga tidak bisa menahan amarahnya. "Baik tuan," Yeri menundukkan kepalanya dan berlalu pergi.
__ADS_1
Sayang...
Suara itu terdengar manja, dan menjijikkan ditelinga Arga. "Keluar! Aku tidak ingin berbicara!" usir Arga. Kepalanya sudah pening, sekarang malah ditambah dengan kedatangan Jenny? Tidak! Kepalanya sudah hampir pecah!
"Tapi..." Jenny berusaha mencari alasan, namun Arga dengan sendirinya berdiri, dan pergi keruang bacanya. Dia terlihat merenung. "Ahh!!! Keponakan sialan!" batin Arga.
"Rahasia? Aku juga harus mencari tahu sesuatu tentang dirinya!" ucap Arga. Pria itu langsung mencari laptopnya dan membukanya. Dia mengotak-atik laptopnya dengan lihay. "Alena Grazia, putri pertama tuan Sanjaya dengan Natalia Grazia!?" batin Arga sembari membaca beberapa artikel mengenai Alena.
"Kematian ibunya yang tidak wajar? Dan juga, sifat ayahnya yang kasar?" Arga berfikir sejenak. "Golongan darahnya AB-, dan Nyonya Natalia A, sementara golongan darah tuan Sanjaya O!?" Arga semakin serius mencari data tentang Alena.
"Diketahui, bahwa nona Grazia memiliki..." saat hendak membaca artikel selanjutnya, tiba-tiba, laptopnya error. Virus masuk ke data laptop milik Arga. Tapi, Arga juga tidak menyerah. Dia terus mencari cara agar virus itu cepat keluar dari laptop nya, tapi sayangnya tidak ada hasil.
Heh!
__ADS_1
"Siapa yang membuat privasi se-rumit ini? Kecuali, dia memang berlatarbelakang istimewa!" Arga tersenyum miring, seakan-akan, pening dikepalanya sudah hilang.
"Ternyata kau lebih menarik dari yang kuduga!" Arga menutup laptopnya, dan membaringkan tubuhnya di sofa yang sudah disediakan.