
Hari jum’at yang terik.
Ia masuk kedalam rumah, dan mendapati putranya sedang terlelap di samping neneknya,
Bocah kecil itu menggelayutkan kepalanya dipaha Binar, tepat diatas handuk yang tadi Binar ambil. Kemudian kembali terlelap dengan memeluk robot didadanya.
didepan jendela. Berpangku tangan sambil memandang keluar jendela.
“Hati-hati pandanganmu, Nduk.” Suara Rukayah, yang ternyata sedang berdiri di pintu kamarnya. Ia tidak menyadari kedatangana sang ibu. “Lihat sapa sih?” Tanya Rukayah kemudian. Ia berjalan mendekati jendela untuk mengetahui arah pandang putrinya.
Rukayah hanya mengangguk. “Sudah, ayo bantu ibuk siapkan makan siang buat mereka.”
Binar segera melepas mukenahnya, menggantinya dengan hijab langsung pakai berwarna coklat tua.
Ibu dan anak itu keluar dari kamar Binar. Dengan tetap membiarkan Chan menikmati mimpi siangnya.
Ikhsan adalah sepupu Binar, anak dari abang kandung Ustadz Syuhada yang tinggal di kota jogja.
“Hai juga, Mas Ikhsan. Jam berapa sampai? Mbak Nurul gak ikut?” Tanya Binar menanyakan istri Ikhsan.
“najgak hva hhh Bude, Mas?” Tanya Binar kemudian. Ia berbicara dengan Ikhsan, tapi sudut matanya berkali-kali melirik Nazril yang duduk disamping sepupunya itu.
“Alhamdulilah baik. Main kesana to. Udah lama kamu gak main ke jogja.”
“Insya Allah, Mas. Nanti kalau ada kesempatan aku pasti kesana kok.” Jawab Binar sambil meletakkan sepiring lauk diatas meja makan.
Sekali lagi Binar melirik kearah Nazril. Dan pada saat yang bersamaan, kebetulan pria itu juga melihat kearahnya. Membuat ritme jantung Binar bertambah. Ia segera membuang pandangannya kearah lain.
__ADS_1
“Apa kabar, Bin?” Tanya Nazril. Dengan suara paling merdu bagi telinga Binar.
“Alhamdulillah baik, Mas. Mas Nazril sendiri?” Sekuat tenaga Binar menahan diri untuk tidak memperlihatkan kegirangannya di sana. Padahal rasanya sekarang dia ingin melompat-lompat.
“Alhamdulillah, baik juga.” Jawab Nazril dengan menyunggingkan seutas senyum dibibirnya.
Tidak ada kelanjutan dari jawaban itu. Binar tidak tau harus bertanya apa lagi untuk memperanjang kalimat.
“Sudah, ayo, silahkan dimakan. Ikhsan, nak Ubay, nak Nazril.” Ujar rukayah mempersilahkan para tamunya untuk makan.
“Iya, Buk.” Kompak mereka menjawab.
“Wah,,, udah lama gak nyicip masakan Ibuk.” Celetuk Ubay.
“Kangen ya, nak Ubay?” Ustadz Syuhada yang menimpali.
“Makanya, sering-sering datang kesini. Gak usah segan.”
“Iya, Ustadz.” Ubay sumringah mendapatkan tawaran itu.
“Kalau begitu aku mau bangunkan Chan dulu, ya buk” pamit Binar. Dijawab anggukan oleh Rukayah.
Sementara Binar kembali kedalam kamarnya untuk membangunkan Chan untuk makan siang. Meninggalkan semua orang yang sedang menyantap makan siang mereka.
“Chan, bangun ayo makan siang dulu.” Ia menggoyang-gyangkan tubuh Chan perlahan.
Chan tidak berkutik. Bocah itu hanya menggeser posisinya saja.
__ADS_1
“Chan Daniyal, bangun sayang.”
Tapi Chan tetap tidak berkutik. Sepertinya bocah itu masih mengantuk.
Bukannya marah, Binar malah tersenyum saja. Kemudian ia memutuskan untuk membiarkan Chan tetap tidur. Sementara ia keluar dari kamarnya menuju ke teras rumah.
“Kok gak makan sekalian, Nduk?” Tanya Rukayah yang sudah berdiri di belakangnya.
Binar menoleh. “Sebentar lagi aja buk. Belum lapar.” Jelas Binar.
Dirinya terlalu malas untuk makan.
“Yasudah, Ibuk mau masuk dulu ya. Mungkin mereka sudah selesai makannya.”
Binar mengangguk. Membiarkan Rukayah masuk kembali kedalam rumah tanpa mengikutinya.
*
*
*
*
*
Bersambung...
__ADS_1