Pindah

Pindah
45


__ADS_3

Chan terus mengoceh sepanjang perjalanan. Dari mulai memuji-muji mewahnya interior mobil milik Pamungkas, sampai menggosipkan temannya yang tidak pernah mau mengerjakan pr, sehingga selalu mendapat hukuman dari gurunya.


Binar yang duduk di belakang berkali-kali terkekeh sambil menggelengkan kepala sekaligus heran karna Chan nampak sangat nyaman berada di dekat Pamungkas.


Anak itu menunjuk apapun yang menarik perhatiannya. Berteriak kegirangan saat bertemu badut yang menghibur mereka saat berhenti di lampu merah. Ia bahkan tidak mempedulikan luka di lututnya yang sudah mengering dan hampir sembuh, bisa terbuka lagi karna kelasakannya.


“Chan, duduk yang tenang dong. Nanti lukanya terbuka lagi.” Binar memberi peringatan.


Dengan memanyunkan bibirnya, Chan menuruti perintah Binar. Ia kembali duduk tenang.


“Masih sakit ya, Chan?” Tanya Pamungkas menghibur Chan. Karna sepertinya anak itu sedikit sebal karna dilarang oleh Binar.


“Gak sakit lagi. Cuma gatal. Jadi pengennya digaruk.”


“Gak boleh digaruk, ya. Nanti lukanya kebuka lagi, malah berdarah loh...” Beritahu Pamungkas.


Chan mengangguk menuruti perkataan Pamungkas.


Ada perasaan aneh yang menelusupi hati Binar. Ia melihat anak dan ayah itu nampak sudah sangat dekat walaupun baru bertemu untuk pertama kalinya. Bahkan dengan Ubay saja, yang hampir setiap hari bertemu, Chan akan langsung melawan jika Ubay mengatakan sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginannya.


“Chan mau beli sesuatu, gak?” Tawar Pamungkas.


“Mau. Sate.” Jawab Chan tanpa canggung.


“Oke.” Pamungkas senang karna Chan tidak canggung kepadanya.


Pamungkas melambatkan mobilnya. Mencari penjual sate yang biasa mangkal di pinggir jalan. Saat ia sudah mendapatkannya, ia berhenti di depan tenda penjual sate.


“Bentar ya, Bin. Kalian tunggu disini aja.” Ujar Pamungkas. Kemudian ia turun dari mobil.


“Ikut!” Pinta Chan yang langsung mau menyusul Pamungkas turun dari mobil.


“Eh, Chan. Hati-hati.!” Pekik Binar.


Pamungkas hanya terkekeh saja. Lalu iapun menggendong Chan dan pergi untuk membeli sate.


“Mas, pesen satenya, delapan. Dibungkus ya.” Ujar Pamungkas pada abang-abang penjual sate.


Kemudian ia dan Chan duduk menunggu pesanan mereka di kursi.


Binar hanya memperhatikan saja dari dalam mobil. Ada perasaan trenyuh di hatinya. Dan juga perasaan yang..... Entahlah, sangat sulit dijelaskan. Antara senang, sedih, juga khawatir. Kalau-kalau Pamungkas akan mengalihkan Chan darinya. Dia berfikir terlalu jauh.


Tiba-tiba Binar melihat Chan berlari kecil menuju kearahnya. Segera ia membuka pintu mobil.

__ADS_1


“Kenapa, Chan?”


“kata Oom, eh Papa, kadang Mama mau beli Apa, gitu?” Tanya Chan dengan wajah polos.


“Hehe. Enggak. Mama gak beli apa-apa lagi.”


“Oke.” Chan menjawabnya kemudian kembali menghampiri Pamungkas dan melaporkan tentang jawaban Binar.


Pamungkas kembali mengusap-usap kepala Chan dengan lembut sambil tersenyum. Ia sedang merasa sangat senang sekali. Pada akhirnya, pencariannya berakhir disini. Pencarian yang berujung dengan pertemuannya dengan Binar, kembali. Siapa yang akan menyangka kalau takdir yang terikat diantara mereka begitu rumit?


Setelah lumayan lama menunggu, akhirnya pesanan mereka telah selesai dibungkus. Binar yang memperhatikan dari dalam mobil mengkerut heran dengan banyaknya sate yang dipesan Pamungkas.


“Sini, Mas. Taruh disini aja.” Tawar Binar dengan meminta dua plastik sate kepada Pamungkas.


Pria itupun langsung menyerahkannya kepada Binar. Dan Binar segera menaruhnya di sampingnya.


Mobil kembali melaju menuju ke sebuah perumahan mewah. Satpam yang menjaga komplek perumahan itu mengangguk sambil tersenyum kepada Pamungkas sebelum membuka portalnya.


Pamungkas menghentikan mobilnya di carport sebuah rumah mewah berlantai dua.


“Udah sampai.” Ujar Pamungkas memberitahu.


“Wah.. Besarnya rumahnya...” Seloroh Chan.


Binar segera turun dari mobil dengan membawa dua plastik berisi sate. Sedangkan Pamungkas menuntun si kecil Chan. Tapi kemudian Pamungkas meminta bungkusan itu untuk ia bawa.


“Wa’alaikum salam..” Jawab Hendrana dan Haya.


“Assalamu’alaikum, Tante, Om.” Sapa Binar dengan menyalami Haya.


“Wa’alaikum salam,” jawab keduanya kembali.


Hendrana dan Haya terpaku pada sosok Chan yang ikut menyalami mereka dengan sopan. Haya tidak bisa menahan untuk tidak memeluk cucunya itu.


“Ini pasti Chan.” Serunya. Ia meraih anak itu kedalam pelukannya. Chan sampai berontak karna eratnya pelukan dari Haya. “Ya ampunnn,,, gantengnya.... Persis kaya kamu, Pam. Hidungnya, matanya, uuuhhh...” Gemas tangan Haya mencubit kedua pipi Chan.


“Aaaaah. Sakit.” Protes Chan. Ia berusaha melepaskan pipinya yang menjadi korban.


“Chan, ini Nenek, sama Kakek.” Jelas Pamungkas.


Chan hanya terdiam saja menatap sebal kepada Haya yang telah mencubit pipinya. Ia memeluk kaki Binar seolah meminta perindungan.


Haya berdiri dan mendekati Binar. Ia memeluk Binar hangat. “Makasih ya, Nak. Kamu udah merawat dan membesarkan Chan.” Ujar Haya masih dalam keadaan memeluk Binar. Ia mengusap punggung Binar lembut.

__ADS_1


“Sama-sama, Tante.” Jawab Binar saat mereka sudah saling melepaskan diri.


“Ma, masuk dulu. Udah adzan maghrib tuh.” Pamungkas memberitahu. Karna sepertinya ibunya terlalu larut dengan kedatangan mereka.


“Ya Allah. Sampai lupa.” Ujar Haya yang jadi malu dengan tamunya. “Ayo, ayo, masuk.” Ajak Haya kepada Binar. Ia merangkul Binar dengan ramah.


Binar mengangguk dan hanya mengikuti Haya masuk kedalam rumah mewah itu dengan menggandeng Chan. Anak itu tidak mau melepaskan tangan Binar setelah mendapatkan serangan ciuman dan pelukan dari Neneknya.


“Kita sholat jamaah dirumah saja, ya.” Haya memberitahu.


“Iya, Tante.”


Pamungkas memberikan bungkus sate kepada Tini, pembantu dirumah itu. Kemudian mereka semua pergi ke mushola kecil yang ada di belakang rumah.


Keluarga Pamungkas, beserta dengan pembantu, dan penjaga rumah, juga Binar dan Chan melaksanakan sholat maghrib berjamaah dengan Pamungkas yang menjadi imam sholatnya.


Entahlah, perasaan macam apa yang sedang menelusupi hati Pamungkas. Yang jelas ia merasa sangat senang dengan kehadiran sosok gadis yang menjadi makmumnya kali ini. Belum lagi dengan adanya si kecil Chan yang juga ikut sholat berjamaah. Ternyata Binar membesarkannya dengan sangat baik.


Setelah selesai sholat, mereka semua bersiap untuk makan malam. Chan sudah tidak sabar untuk memakan sate yang ia dan Pamungkas beli tadi.


Diatas meja makan, sudah terhidang sate untuk masing masing orang yang ada dirumah itu. Chan bahkan sudah menyantap satenya terlebih dahulu.


“Chan, sudah baca do’a?” Tanya Binar.


“Udah dong, Ma.” Jawabnya santai. Ia terus melahap sate kambing itu beserta lontongnya.


“Udah bilang makasih belum sama Papa?”


“Ya Allah, Chan lupa.” Ujarnya dengan ekspresi terkejut yang memancing gelak tawa semua orang. Ia meletakkan tusuk sate yang hampir mendarat di mulutnya kembali keatas piring. Kemudian menoleh kepada Pamungkas yang duduk disampingnya.


“Makasih satenya, Papa.” Ujar Chan kemudian.


“Sama-sama.” Jawab Pamungkas sambil mengusap kepala putranya itu.


Ada perasaan haru yang sedang dirasakan oleh Haya. Entah kenapa ia suka sekali melihat pemandangan yang ada dihadapannya saat ini. Ia merasa seolah, keluarganya sudah kembali utuh.


*


*


*


*

__ADS_1


*


Bersambung...


__ADS_2