Pindah

Pindah
31


__ADS_3

“Apa benar Binar dipecat?” Tanya Pamungkas dengan wajah yang memerah.


Sekarang dia sedang berada di dalam ruangan Dewan Pengawas dan sedang menatap ke empat dokter yang usianya jauh diatasnya itu.


“Kenapa saya tidak dikasih tau?” Desak Pamungkas.


“Kami kira anda sudah diberitahu. Soalnya kami juga baru menerima kabar tadi pagi dari kantor pusat.


Kantor pusat?


Pamungkas mengerutkan keningnya. Ia tau harus mencari kelanjutan informasinya dimana.


Lantas ia segera keluar dari ruangan itu dan pergi ke kantor Papanya.


Sepanjang perjalanan ia terus menggeretakan gigi-giginya. Ia marah skali.


Pada akhirnya, Binar, yang harus dijadikan korban demi kepentingan segelintir orang yang sibuk mengurusi reputasi.


“Kenapa Papa membuat keputusan seperti itu?” Tanya Pamungkas saat dia sudah ada diruangan Papanya.


Hendrana hanya memijit-mijit pangkal hidungnya. Terlihat kalau sebenarnya ia juga tidak ingin membuat keputusan untuk memberhentikan Binar.


“Maafin Papa, Pam. Papa kurang bijaksana kali ini.”


“Papa gak harus pecat Binar, Pa. Kan masih banyak jalan keluar lain. Papa gak kasihan apa sama Binar? Sama keluarganya?”


“Papa tau. Dewan Direksi mendesak Papa karna harga saham terus turun.”


“Saham! Saham! Saham! Aja yang diurusin! Apa perasaan manusia sama sekali gak penting disini? Buat apa kita banyak uang, Pa? Punya kekuasaan? Tapi ada orang yang menderita karna kita.”


“Jadi kenapa kamu gak selesain masalah ini n selagi ada waktu? Padahal kamu optimis bilang sama Papa kalau kamu bisa menyelesaikan masalah ini. Tapi lihat sekarang.”


Aarrggghhh!!!!!!


Pamungkas tidak bisa menampik ucapan itu. Memang ia sangat percaya diri pada awalnya. Siapa yang tau kalau masalah ini justru akan semakin memburuk?


“Mau gimana lagi, Pa. Aku gak punya kekuatan buat mengendalikan prasangka orang lain. Sejelas apapun aku dan Rea membantah, tapi ada saja yang beropini lain. Mereka cuma mau pecaya apa yang mau mereka percaya.”


“Jadi apa kamu udah ngerti kalau Papa gak punya pilihan lain? Kita harus memikirkan ribuan nasib karyawan kalau hal ini sampai mempengaruhi perusahaan. Ada tanggung jawab yang begitu besar dipundak kita, Pam. Bukan semata tentang saham, tentang uang. Tapi juga tentang nasib orang-orang yang menggantungkan hidup mereka kepada perusahaan ini. Kepada kita.”


Pamungkas memang belum sepenuhnya mengerti tentang bisnis. Karna selama ini ia hanya fokus kepada cita-citanya untuk menjadi seorang dokter. Menyelamatan nyawa dengan caranya sendiri.


Tapi sekarang ia merasa tidak berguna jika harus mngorbankan Binar untuk menyelamatkan yang lain.


“Apa gak ada cara lain, Pa? Setidaknya jangan ada yang dikorbankan.”

__ADS_1


“Kita lihat nanti. Semoga ada yang bisa kita lakukan buat perawat itu. Yang penting sekarang, kita fokus menghentikan berita.”


Hati Pamungkas yang semula panas dan marah, kini berangsur mereda setelah mendengar penjelasan ayahnya.


Ya, tidak ada gunanya untuk mengedepankan emosi saat ini. Ia harus segera mencari jalan keluar untuk Binar.


“kalau gitu aku Pamit dulu, Pa. Assalamu’alaikum”


“Wa’alaikum salam.”


Pamungkas keluar dari kantor sang ayah kemudian berjalan menuju ke tempat parkir di basement gedung.


Sepanjang perjalanan ia terus memikirkan jalan keluar.


Dilubuk hatinya, ia sungguh tidak tega melihat Binar yang harus kehilangan pekerjaan karna skandal perceraiannya. Ada rasa nyeri di ulu hatinya jika mengingat wajah sembab Binar dengan linangan air mata dipipinya.


Tiba-tiba ia teringat sesuatu.


Ubay!


Ia harus bertemu dengan Ubay.


Lantas iapun mengambil ponselnya dan menghubungi sahabatnya itu.


“Dimana lo?!” Suara Ubay terdengar asing. Seperti sedang marah.


“Dirumah lo.” Jawab Ubay.


“Oke, tunggu bentar. Bentar lagi gue sampek.””


Pamungkas segera memacu mobilnya lebih kencang setelah menutup ponselnya. Ia ingin segera sampai dirumahnya dan bertukar fikiran dengan Ubay agar bisa menemukan cara untuk membantu Binar.


Setelah hampir setengah jam perjalanan, Pamungkas tiba di rumahnya. Ia bisa melihat sebuah mobil mpv berwarna putih yang terparkir di depan rumahnya.


Pamungkas segera keluar dari mobilnya dan masuk untuk mencari Ubay.


Diruang tamu, Ubay sedang duduk sendirian. Ekspresi Ubay terlihat berbeda dari biasanya.


“Sorry Bay, lama nunggu.” Sapa Pamungkas begitu ia masuk kedalam rumahnya.


Ubay langsung menoleh kepada Pamungkas begitu mendengar suaranya. Ia berdiri dan segera mendekati Pamungkas.


Bug!!!


Baru saja Pamungkas hendak duduk disebelah Ubay, tapi tiba-tiba ia mendapatkan bogem mentah di pipi kirinya.

__ADS_1


Sakit sekali. Sampai membuatnya terkejut dan tersungkur.


“Astaga!!! Ya mapun, Den Pam.!” Pekik asisten rumah tangga Pamungkas.


Wanita paruh baya yang sedang memegang nampan berisi segelas kopi untuk Ubay itu, dengan tangan yang gemetar langsung meletakkan nampannya diatas meja begitu saja. Kemudian ia berlari untuk menolong majikannya berdiri.


“Apa-apaan lo Bay?!” Pamungkas yang masih terkejut dengan perlakuan Ubay melotot dengan memegangi pipinya.


“Sial*n lo Pam. Bangs*t lo!! Gue udah pernah peringatin lo ya soal ini. Kalau sampai lo buat Binar kenapa-napa, gue gak akan tingal diam.” Solot Ubay dengan menunjuk-nunjuk kearah wajah Pamungkas.


Pamungkas diam. Walaupun ia masih marah dan merasakan sakit, tapi sepertinya ia tau alasan Ubay bisa semarah ini padanya.


“Bangs*t lo! Binar punya salah apa sih sama lo?! Tega banget lo buat hidupnya hancur. Nyesel gue percaya sama lo sejak awal. Lo itu bisanya cuma omong doang tau gak!!” Ubay sudah tidak mempertimbankan tentang persahabatan mereka lagi. Yang jelas ia sangat marah kepada Pamungkas saat ini.


Pamugkas masih belum bisa menyangkal ucapan Ubay. Ia merasa wajar jika Ubay sangat marah padanya karna ia tahu persis bagaimana perasaan Ubay kepada Binar. Ia hanya bisa terpejam sambil menundukkan kepalanya dan menarik nafas panjang.


“Gue gak bisa bilang apa-apa Bay. Karna memang ini salah gue. Gue juga ngerti kalau lo sampe semarah ini sama gue. Tadinya gue mau minta tolong sama lo, biar dia bisa kerja di klinik lo sambil gue cariin dia tempat kerja yang baru. Gue ngersa harus bertanggung jawab.”


“Tanggung jawab omong kosong. Lo gak sadar kalau semua ini udah terlambat? Hah?!” Kemarahan Ubay belum reda juga. “Bangs*t!!!”


Setelah meneriakkan itu, Ubay menyambar jasnya yang tergeletak di sofa dengan kasar. Menatap kepada Pamungkas dengan tatapan marahnya kemudian berjalan keluar dari rumah Pamungkas.


“Aden gak apa-apa?” Tanya asisten Pamungkas. Ia nampak sangat khawatir. Apalagi pipi majikannya itu nampak merah dan bengkak.


“Aku gak apa-apa Mbok.” Jawab Pamungkas sambil mengangguk meyakinkan.


Sekali lagi ia memejamkan matanya kemudian berjalan dengan lunglai menuju kekamarnya.


Ia langsung masuk kedalam kamar mandi dan menyalakan kerannya. Kedua tangannya bertumpu pada washtafel dengan marah.


Kemudian ia mengambil pot tanaman hias ‘lidah mertua’ disampingnya dan melemparkannya kesembarang arah.


Pot itu mengenai pintu kamar mandi sebeum jatuh dan pecah berantakan.


“Aaaaarrrggggg!!!!!!!!!!”


*


*


*


*


*

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2