Pindah

Pindah
30


__ADS_3

Waktu dua minggu sudah berlalu.


Binar berusaha untuk tidak mempedulikan semua gunjingan dari tenangga, rekan, maupun orang-orang yang ada disekitarnya.


Ia terus meyakinkan hatinya untuk tetap bersabar. Karna pasti kabar itu akan mereda pada akhirnya.


Tapi ternyata tidak.


Semakin hari, keadaan semakin memburuk saja. Status ‘pelakor’, kini telah ‘resmi’ tersemat padanya.


Wajahnya semakin sering wara-wiri di tv. Dan orang-orang yang tidak mengenalnya semakin memojokkan posisinya.


Padahal baik Reanty dan Pamungkas, sudah berkali-kali menegaskan bahka Binar sama sekali tidak ada hubungannya.


Tapi orang-orang tetap mempercayai apa yang mereka yakini benar. Padahal semua itu salah.


Hal itu sangat berdampak pada kehidupan pribadi Binar dan keluarganya. Terlebih ayahnya.


Ustadz Syuhada yang merupakan seorang pendakwah kondang bahkan sampai dikucilkan gara-gara masalah itu. Bahkan ada yang berani membawa-bawa agama dan membenarkan praduga mereka.


Akibatnya, semua jadwal dakwah Ustadz Syuhada di batalkan. Ia tidak lagi tampil di tv sebagai pendakwah kondang.


Setiap hari, akan ada wartawan yang datang kerumah Binar untuk meminta mewawancarai. Dan itu sangat merepotkan untuk Rukayah.


Kalau mereka tidak berhasil mewawancarai Binar ataupun anggota kelaurga yang lain, mereka akan mewawancarai tetangga disekitar rumah Binar.


Dan anehnya, ada satu dua orang yang seperti membenarkan semua berita itu.


Satu persatu menjelek-jelekkan Binar dan keluarganya. Yang pada akhirnya, mereka juga membahas keberadaan Chan.


“Kalau sampai kalian membawa-bawa anak saya, saya akan menuntut kalian semua.” Ancam Binar pagi itu. Ia sudah tidak tahan dengan semuanya.


Para awak media nampak tidak peduli dengan ancaman Binar. Yang penting mereka punya berita panas. Tidak takut akan dituntut.


Binar menutup pintu rumahnya dengan perasan marah. Ia beristighfar berkali-kali untuk meredakan amarahnya.


“Seber, Nak. (sabar, Nak).” Ujar Rukayah yang baru kembali dari mengantarkan Chan ke sekolahnya lewat pintu belakang.


“Sampai kapan, Buk? Semakin dibiarkan, mereka itu kok semakin menjadi.” Binar geram.


Rukayah hanya terdiam melihat kemarahan Binar. Dia menyuruh Binar sabar, padahal dia sendiripun sedang kesal.


Suara ponsel Binar menyela, itu adalah telfon dari Bu Uut, kepala perawatnya.


“Assalamu’alaikum, Buk.” Jawab Binar.


“Wa’aaikum salam, Bin. Ehmm kamu lagi dimana?”


“Lagi dirumah, Buk. Ini mau berangkat lagi.” Jawab Binar.


“Nanti kalau udah nyampe MMC, langsung keruangan DEWAS ya, kamu dipanggil.” Jelas Bu Uut.


“Iya, Buk.”

__ADS_1


Binar menutup telfonnya dengan perasaan yang tidak enak.


“Buk, Yah, Binar Pamit kerja dulu, ya. Udah ditelfon ini.” Pamit Binar. Kemudian ia menyalami kedua orang tuanya.


Terenyuh hatinya saat melihat wajah ayahnya yang semakin tirus saja.


Binar melajukan sepeda motornya menuju ke rumah sakit MMC. Sesampainya disana, ia langsung menuju ke ruangan DEWAS yang telah memanggilnya.


“Assalamu’alaikum,,” sapa Binar sambil membuka pintu.


“Wa’alaikum salam. Oh Binar, silahkan duduk.” Salah seorang dari empat orang yang ada didalam ruangan itu mempersilahkan. Dia adalah dokter kepala di UGD yang menjadi atasannya.


Dadanya bergemuruh saat berjalan masuk. Lututnya seakan melemas. Ia seolah tau kabar apa yang akan dia dengan dari mreka.


Ia duduk di sofa di depan ke empat dokter itu. Berusaha mengumpulkan keberaniannya agar tidak lagi gemetar.


“Ehm, Bin. Sebelumnya kami minta maaf karna harus memberitahukan hal ini sama kamu. Sebenarnya kami juga gak enak sama kamu.”


“Ada apa, Dok?”


“Demi kebakan rumah sakit, dewan rumah sakit udah memutuskan untuk memberhentikan kamu.”


Deg!!


Firasat yang dirasakan Binar benar terjadi. Seketika tubuhnya kembali gemetar


“Tapi kan saya gak salah, Dok? Pak Direktur juga udah kasih klarifikasi kan.” Binar ingin mempertahankan dirinya sebisa mungkin.


Enak saja mereka ingin memecatnya hanya karna skandal itu.


“Pahami? Lantas bagaimana dengan saya? Saya tidak bersalah. Kenapa saya yang harus menerima keputusan itu?” Hati Binar sudah terbakar oleh rasa marah.


Kenapa semakin memburuk?


“Jadi kalian ingin melindungi reputasi Pak Direktur dan rumah sakit ini dengan mengorbankan saya? Begitu?”


“Bukan begitu Bin. Tapi...”


Rasa kecewa Binar sudah begitu besar. Menimbukan rasa marah di hati dan fikirannya.


Perlahan, air matanya mulai mengalir. Menatap keempat dokter itu dengan tatapan kekecewaan yang sempurna.


Ia menghela nafas panjang, kemudian bangkit berdiri dan langsung keluar dari ruangan itu.


Binar memegangi dadanya yang terasa sesak karna kemarahan. Semua kejadian ini membuatnya meras lelah.


Ia berusaha menyeret kakinya untuk pergi keluar gedung rumah sakit dan pulang. Tapi langkahnya terhenti saat ia berpapasan dengan Pamungkas di depan lift.


Kemarahan yang sudah membuncah membuat Binar sangat membenci Pamungkas sekarang.


Ia menatap Pamungkas dengan kebencian sebelum akhirnya ia berbalik dan pergi menuju ke tangga darurat secepatnya. Dengan air mata yang sudah berlinangan di pipi.


Pamungkas yang terkejut sontak mengejar Binar sampai ke tangga darurat. Ia menghentikan Binar dengan mendahului langkah Binar dn berhenti tepat di satu anak tangga di depan Binar. Menata Binar dengan penuh pertanyaan.

__ADS_1


“Kamu kenapa, Bin?” Tanyanya.


Binar diam. Dia hanya terus menatap marah kepada Pamungkas.


Ia ingin menyalip, tapi lagi-lagi Pamungkas menghalanginya.


“Minggir, Mas.” Ujarnya disela isak tangis.


“Enggak. Jawab dulu.”


“Kenapa? Kamu seneng lihat aku begini, kan?”


“Apa maksud kamu?” Tanya Pamungkas yang tidak mengerti.


“Kenapa? Kenapa aku yang harus berkorban untuk menutupi masalahmu? Kenapa harus aku yang dikorbankan?! Kenapa?!!”


“Kamu ini bicara apa sih, Bin? Bin, tenang dulu. Ceritain ada apa? Kenapa kamu nangis begini?”


“Aku udah dipecat, Mas. Kamu seneng kan?”


Pamungkas sangat terkejut dengan kabar itu. Ia sama sekali tidak tahu menahu tentang masalah pemecatan Binar.


“Apa maksudnya kamu dipecat?”


“Gak usah pura-pura deh Mas. Gak mungkin kamu gak tau masalah pemecatanku. Lagian ini semua demi melindungi citra rumah sakit.” Binar menjelaskan sambil berusaha untuk menerobos barikade Pamungkas.


“Enggak. Tunggu, Bin! Kamu beneran dipecat?” Pamungkas mempertegas pertanyaannya. Ia hendak memegang tangan Binar namun segera ditampis oleh gadis itu.


Binar berusaha untuk melewati Pamungkas kembali. Dan kali ini dia berhasil. Dia segera berlari turun secepatnya.


Pamungkas tidak lagi mengejar Binar. Ia sedang berfikir kenapa Binar sampai dipecat? Dan dia tidak tau sama sekali.


Binar terus berlari dengan mata yang basah. Ia tiddak peduli dengan tatapan orang-orang yang dilewatinya. Ia bahkan tidak peduli dengan sapaan Wahyu saat dia tiba ditempat parkir.


Ia hanya langsung mengenakan helm, lantas melajukan sepeda motornya meninggalkan rumah sakit MMC.


Binar terus sesenggukan sepanjang perjalanan. Untung saja ia menutup helmnya jadi tidak ada yang tau kalau dia sedang menangis.


Di tengah perjalanan, Binar berhenti disebuah masjid yang berada di pinggir jalan raya. Ia segera mengambil wudhu untuk melaksanakan sholat dzuhur. Ia sudah berniat untuk ‘protes’ kepada Tuhannya.


Kenapa dia diberi cobaan seberat ini?


Dia sendiri ragu apakah bisa menanggungnya atau tidak.


*


*


*


*


*

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2